Tren Leisure

Lebaran Tak Selalu Bahagia, Ini Cara Kelola Stres Saat Kumpul Keluarga

  • Tekanan sosial hingga kelelahan mental kerap muncul saat Lebaran. Psikolog IPB bagikan tips mengelola stres dan menjaga kesehatan mental.
Puncak Mudik Bandara - Panji 6.jpg
Calon penumpang antre melakukan lapor diri di Terminal 2 E, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Kantor Cabang Bandara Internasional Soekarno Hatta mencatat puncak arus mudik terjadi pada Rabu (18 Maret 2026) atau H-3 dengan jumlah penumpang mencapai 187.202 orang dalam satu hari dan maskapai telah mengajukan sebanyak 735 penerbangan tambahan (extra flight) yang terdiri dari 365 penerbangan domestik dan 370 penerbangan internasional untuk mendukung permintaan perjalanan udara selama musim mudik Lebaran 2026. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Hari Raya identik dengan momen kebersamaan, silaturahmi, dan kebahagiaan bersama keluarga. Namun di balik suasana hangat tersebut, tidak sedikit orang justru mengalami tekanan, rasa minder, hingga kelelahan secara fisik maupun emosional.

Situasi ini kerap muncul saat berkumpul dengan keluarga besar. Pertanyaan-pertanyaan personal seperti soal pernikahan, pekerjaan, hingga kepemilikan rumah sering kali terlontar dan dapat memicu ketidaknyamanan bagi sebagian orang.

Psikolog sekaligus dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Nur Islamiah, menilai tekanan tersebut diperparah oleh perubahan rutinitas selama Lebaran serta tingginya ekspektasi sosial.

Menurutnya, salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan mental adalah dengan mengatur ekspektasi diri dan menetapkan batas psikologis (psychological boundaries).

“Kita tidak punya kewajiban untuk menyenangkan semua orang. Sering kali kita merasa harus selalu tersenyum, melayani tamu, dan menjaga suasana,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam suasana Lebaran yang padat aktivitas, setiap individu perlu mengenali batas diri. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih percakapan yang ingin diikuti atau mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri tanpa rasa bersalah.

Menetapkan batas waktu dan energi dalam bersosialisasi, lanjutnya, bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan bentuk upaya menjaga keseimbangan emosional.

Selain itu, penting bagi setiap orang untuk tetap memberi ruang bagi diri sendiri di tengah aktivitas silaturahmi. Tanpa ruang tersebut, seseorang lebih rentan merasa lelah, tersinggung, bahkan mengalami kelelahan emosional meski berada di tengah keramaian.

“Memberi ruang bukan berarti menjauh, tetapi cara untuk memelihara kapasitas emosional,” jelasnya.

Ia menyarankan langkah sederhana seperti meluangkan waktu sejenak untuk diri sendiri, misalnya bangun lebih pagi untuk menikmati ketenangan atau beristirahat beberapa menit di kamar.

Tekanan sosial saat Lebaran juga sering datang dari pertanyaan terkait pencapaian hidup. Untuk menyikapinya, ia menyarankan jawaban yang tetap sopan namun menjaga privasi, seperti “masih dalam proses, mohon doanya.”

Menurutnya, respons tersebut cukup untuk menjaga kenyamanan tanpa harus membuka informasi pribadi secara berlebihan.

Lebih lanjut, Nur Islamiah mengingatkan agar individu tidak mengabaikan perasaan lelah atau tertekan yang muncul selama perayaan. Ia menegaskan bahwa perasaan tersebut merupakan hal yang wajar, bahkan di tengah suasana bahagia.

“Tidak apa-apa merasa lelah. Validasi perasaan itu penting. Cari cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti berjalan sebentar, beribadah, atau mengambil waktu untuk refleksi,” ujarnya.

Bagi mereka yang merayakan Lebaran seorang diri, ia menyebut rasa kesepian bisa menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, menjaga koneksi dengan orang terdekat tetap dapat dilakukan, misalnya melalui panggilan telepon atau video.

“Yang terpenting, jangan memendam semuanya sendirian,” katanya.

Ia menegaskan, Lebaran bukanlah ajang untuk menunjukkan siapa yang paling bahagia atau paling sukses. Memberi ruang bagi diri sendiri justru merupakan bagian dari kematangan emosional.

“Kita tidak harus selalu kuat atau sempurna. Justru dengan memahami diri sendiri, kita bisa menjalani Lebaran dengan lebih sehat secara mental,” tutupnya.

Tags: