Tren Inspirasi

Lawan Jerat Rentenir, JRMK Jakarta Kelola Tabungan Kolektif

  • Di tengah himpitan pinjol dan rentenir, 53 kelompok warga miskin Jakarta menghimpun hampir Rp757 juta tabungan kolektif secara swadaya. Simak prosesnya.
kampung-akuarium-co-780x470.jpg
Kampung Susun Akuarium di Penjaringan Jakarta Utara. (Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID—Di tengah himpitan ekonomi dan maraknya pinjaman online berbunga tinggi, ratusan warga miskin kota yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Jakarta membangun sistem keuangan alternatif mereka sendiri: menabung kolektif melalui kelompok kecil berbasis kepercayaan dan solidaritas.

Hasilnya tidak main-main. Per 13 Februari 2026, sebanyak 53 kelompok beranggotakan total 759 orang berhasil menghimpun dana sebesar Rp 756.737.369 hanya dalam kurun 10 bulan. 

“Ini bukan uang sisa. Ini uang yang lahir dari komitmen. Anggota menyisihkan dengan sadar, bukan karena terpaksa,” ujar Eny, perwakilan JRMK, dalam keterangan yang diterima TrenAsia, Jumat 13 Februari 2026. 

Dana itu rencananya akan dibongkar bersama pada Minggu 15 Februari 2026 dalam acara Festival Bongkar Celengan JRMK Jakarta, sebuah perayaan yang menandai kemampuan warga miskin kota mengelola keuangan secara mandiri dan kolektif. Acara berlangsung di Hexagon, Kampung Susun Akuarium. 

Sistem Sederhana, Dampak Nyata

Mekanisme tabungan kolekif warga tergolong sederhana namun disiplin. Setiap kelompok terdiri dari 10 hingga 15 orang yang bertemu setiap minggu. Dalam setiap pertemuan, anggota menyetorkan simpanan wajib sebesar Rp5.000, tabungan wajib mulai dari Rp5.000 yang dicairkan setahun sekali, serta iuran santunan kematian sebesar Rp500.

Dana yang terkumpul disimpan dalam kotak fisik, celengan, bukan rekening bank. Kunci kotak dan kotak itu sendiri dipegang oleh dua orang yang berbeda, sehingga tidak ada satu pun pihak yang bisa mengakses uang tanpa kesepakatan kolektif. "Kami pakai kotak, bukan bank. Tidak ada biaya admin, tidak ada yang bisa ambil sendiri, dan semua anggota bisa lihat langsung berapa uang yang ada," kata Eny.

Pencatatan dilakukan secara manual oleh bendahara kelompok. Bukan karena keterbatasan, melainkan karena metode ini bisa dipahami dan diawasi oleh semua anggota tanpa terkecuali. Dana yang terkumpul kemudian digulirkan sebagai pinjaman antaranggota untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. 

Bunga pinjaman, yang oleh anggota disebut dana solidaritas, tidak masuk ke kantong individu, melainkan digunakan untuk layanan sosial anggota, biaya operasional kelompok, insentif petugas, dan dibagikan kembali sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU) setiap tahun.

"Yang biasanya pergi ke rentenir atau aplikasi pinjaman online, sekarang kembali ke anggota. Itu bedanya," ujar Eny. Model ini secara langsung menjadi tandingan ekosistem keuangan predatif yang selama ini menjerat warga berpenghasilan rendah: pinjaman online dengan bunga mencekik, rentenir, hingga produk perbankan yang tidak ramah bagi rakyat kecil.

Lebih dari Sekadar Tabungan

Pertemuan mingguan kelompok per-10 bukan hanya soal uang. Sekretaris kelompok mencatat kehadiran, merekam hasil kesepakatan, mendokumentasikan kondisi masing-masing anggota, hingga situasi sosial yang menjadi topik diskusi. 

Kelompok ini menjadi ruang bertukar keluh kesah, ide, dan membangun semangat perjuangan bersama. "Di kelompok ini, bukan cuma uang yang kami kumpulkan. Tapi juga cerita, masalah, dan keyakinan bahwa kami bisa menyelesaikan sesuatu bersama-sama," kata Eny.

Baca Juga: Merangkai Mimpi di Hunian Kolektif: Dari Menteng Sampai Kampung Akuarium

Hasil pembongkaran celengan pada 15 Februari akan dibagikan kepada seluruh anggota sebagai bekal mudik Lebaran dan persiapan memasuki bulan Ramadan, sebuah momen yang oleh JRMK disebut sebagai cara rakyat miskin kota menciptakan THR-nya sendiri.

Festival ini terbuka untuk publik yang ingin menyaksikan dan berdiskusi langsung tentang praktik keuangan kolektif berbasis akar rumput ini. "Kami ingin publik tahu bahwa rakyat miskin kota bukan orang yang tidak bisa mengelola uang. Kami bisa, dan kami sudah membuktikannya," ujar Eny.