Laporan Iklim 2025/2026 : Dunia Kritis, Alam Lelah
- Ilmuwan global menilai pemanasan dunia makin cepat, sementara laut dan hutan melemah sebagai penyerap karbon.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Dunia makin mendekati titik kritis perubahan iklim, dalam laporan tahunan “10 New Insights in Climate Science” edisi 2025/2026 memperingatkan bahwa sistem alam Bumi, mulai dari lautan, hutan, hingga tanah menunjukkan tanda-tanda kelelahan serius dalam menyerap panas dan karbon.
Kondisi ini secara signifikan mempersempit ruang waktu yang tersisa bagi dunia untuk bertindak demi memenuhi target Perjanjian Paris. Laporan ini disusun bersama oleh tiga lembaga ilmiah global terkemuka, yakni Future Earth, The Earth League, dan World Climate Research Programme (WCRP), serta dipresentasikan kepada para pembuat kebijakan dunia dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belém, Brasil.
Dikutip laman Universitas Cambridge, Rabu, 4 Februari 2026, salah satu temuan paling krusial dalam laporan tersebut adalah rekor suhu global yang terjadi pada periode 2023–2024. Para ilmuwan menilai lonjakan suhu tersebut bukan sekadar variasi alami jangka pendek, melainkan indikasi kuat bahwa laju pemanasan global sedang mengalami percepatan.
Tren tersebut menantang asumsi lama bahwa pemanasan terjadi secara bertahap dan linier. Konsekuensinya, tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih cepat dan lebih dalam, peluang dunia untuk menahan kenaikan suhu global di bawah ambang 1,5 derajat Celsius kian menipis.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring

Semua Aspek Terdampak
Laporan ini juga menyoroti kondisi laut yang semakin mengkhawatirkan. Pemanasan suhu permukaan laut mencapai tingkat yang belum pernah tercatat sebelumnya, disertai gelombang panas laut yang semakin sering dan intens.
Fenomena ini merusak terumbu karang, mengganggu rantai makanan laut, serta melemahkan fungsi laut sebagai penyerap karbon alami. Di daratan, hutan dan tanah, terutama di Belahan Bumi Utara, juga menunjukkan penurunan kemampuan dalam menyerap karbon dioksida.
Melemahnya dua penyerap karbon utama ini menyebabkan sisa “anggaran karbon” global menyusut drastis, sehingga tuntutan pengurangan emisi menjadi semakin mendesak.
Dampak perubahan iklim tidak berhenti pada aspek lingkungan, melainkan merambat ke kesehatan dan ekonomi manusia. Laporan ini mencatat peningkatan signifikan wabah dengue yang dipicu oleh meluasnya habitat nyamuk akibat suhu yang semakin hangat.
Sistem kesehatan di banyak negara, khususnya di wilayah tropis, berada dalam tekanan berat. Di sektor ekonomi, stres panas menyebabkan penurunan produktivitas tenaga kerja karena jam kerja berkurang dan risiko kesehatan meningkat.
Dampak ini tidak hanya dirasakan secara lokal, tetapi juga menjalar melalui rantai pasok global, memicu kerugian ekonomi lintas negara. Pada saat yang sama, penurunan cadangan air tanah yang dipercepat oleh perubahan pola hujan dan meningkatnya permintaan air menimbulkan ancaman serius terhadap ketahanan pangan dan pertanian.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Hilangnya Keanekaragaman Hayati
Para ilmuwan menegaskan adanya hubungan timbal balik yang merusak antara perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Kerusakan ekosistem mengurangi kemampuan alam menyimpan karbon dan mempertahankan ketahanan lingkungan, yang pada gilirannya mempercepat laju pemanasan global.
Laporan tersebut menekankan krisis iklim dan krisis biodiversitas tidak dapat lagi ditangani secara terpisah. Pendekatan kebijakan dan solusi yang efektif harus mampu melindungi ekosistem sekaligus menekan emisi gas rumah kaca secara bersamaan.
Laporan ini juga membahas peran teknologi Carbon Dioxide Removal (CDR) sebagai salah satu instrumen dalam menghadapi emisi dari sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi.
Namun, para ilmuwan memberikan peringatan tegas bahwa CDR tidak boleh diperlakukan sebagai jalan pintas untuk menunda pengurangan emisi secara langsung.
Penggunaan teknologi ini harus bersifat pelengkap, bukan pengganti, dan wajib disertai dengan perlindungan lingkungan serta sosial yang ketat agar tidak menimbulkan dampak baru bagi masyarakat maupun ekosistem.
Temuan penting lainnya adalah masalah integritas pasar karbon global. Ilmuwan menyoroti bahwa banyak kredit karbon yang beredar saat ini dinilai melebih-lebihkan manfaat iklimnya, sehingga berisiko menjadi alat legitimasi semu atau greenwashing.
Untuk menjaga kredibilitas pasar karbon, para ilmuwan mendorong penguatan standar, peningkatan transparansi, serta perubahan cara pandang bahwa kredit karbon merupakan kontribusi tambahan terhadap aksi iklim, bukan pengganti kewajiban pengurangan emisi.
Alih-alih mengandalkan satu instrumen tunggal, Ilmuwan menegaskan kombinasi kebijakan yang dirancang secara cermat terbukti lebih efektif dalam menurunkan emisi.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Contohnya penggabungan mekanisme harga karbon dengan regulasi, standar teknis, dan insentif ekonomi. Meski demikian, para penulis laporan menekankan bahwa tidak ada pendekatan seragam untuk semua negara. Setiap kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi, sosial, dan politik nasional masing-masing.
Secara keseluruhan, laporan “10 New Insights in Climate Science 2025/2026” menyampaikan peringatan keras bahwa dunia tidak lagi memiliki kemewahan waktu.
Ketergantungan pada alam atau harapan pada teknologi masa depan saja tidak cukup untuk mencegah krisis yang lebih dalam. Prioritas utama tetap pada pengurangan emisi yang segera, drastis, dan berkelanjutan, yang harus berjalan beriringan dengan perlindungan keanekaragaman hayati serta penerapan teknologi secara bertanggung jawab.
Jika tren saat ini terus berlanjut, para ilmuwan memperingatkan dunia berisiko menghadapi krisis sistemik yang tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan, ekonomi, dan keamanan pangan global.

Muhammad Imam Hatami
Editor
