Tren Pasar

Langkah Ambisius Singaraja Putra (SINI) Caplok Anak Usaha PTRO Rp1,73 T

  • SINI akuisisi anak usaha Petrosea Rp1,73 T dengan diskon 5,98%. KMS berbalik cuan Rp198 M, target produksi batu bara melesat hingga 5 juta ton.
batu bara
Perusahaan pertambangan batu bara di Kabupaten Kutai Timur terdampak pemangkasan RKAB. (Foto: Ilustrasi) (Ibukotakini.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID— PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) membeberkan secara rinci kalkulasi bisnis dan peta jalan operasional di balik aksi korporasi mengambilalih 99,99% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk. (PTRO) senilai Rp1,73 triliun. 

Transaksi bernilai jumbo yang setara dengan 110,26% dari total aset perseroan tersebut tidak hanya memperkuat portofolio tambang batu bara SINI, tetapi juga berpotensi memberikan keuntungan bagi perseroan.

Berdasarkan keterbukaan informasi dan jawaban resmi manajemen SINI kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), akuisisi KMS dieksekusi pada harga Rp1.730,40 miliar. 

Nilai ini berada 5,98% di bawah nilai pasar wajar hasil penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) KR sebesar Rp1.840,51 miliar.

Poin Kunci Aksi Korporasi SINI

  • Nilai Transaksi: Rp1,73 Triliun untuk membeli 99,99% saham KMS dari PTRO.
  • Harga Beli Diskon: Nilai transaksi 5,98% lebih rendah dari penilaian independen KJPP sebesar Rp1,84 Triliun, sesuai regulasi POJK 35/2020.
  • Kelayakan Investasi: Internal Rate of Return (IRR) akuisisi mencapai 19,58%, berada di atas biaya modalnya.
  • Aset Utama: KMS menguasai 99% saham PT Cristian Eka Pratama (CEP) di Kutai Barat dengan cadangan terbukti 69,25 juta ton batu bara dan izin IUP-OP hingga 2038.
  • Turnaround Kinerja: Usai merugi pada 2023 hingga 2025, KMS sukses mencetak laba bersih Rp198,38 miliar per 30 Juni 2026.
  • Target Produksi: Dirancang meningkat bertahap dari 1 juta ton, menjadi 3,6 juta ton, hingga mencapai kapasitas optimal 5 juta ton per tahun.

Turnaround Fantastis: KMS Langsung Cetak Laba Bersih Rp198 Miliar

Salah satu sorotan utama adalah transformasi kinerja keuangan KMS. Setelah sempat mencatatkan kerugian bersih berturut-turut pada 2023 (rugi Rp26,95 miliar), 2024 (rugi Rp25,80 miliar), dan 2025 (rugi Rp98,55 miliar), entitas tambang ini berbalik membukukan lonjakan kinerja signifikan per pertengahan 2026.

Per 30 Juni 2026, KMS berhasil mengantongi pendapatan sebesar Rp730,21 miliar dengan laba operasi Rp195,59 miliar dan laba bersih mencapai Rp198,38 miliar. 

Total aset KMS pun melesat menjadi Rp1,54 triliun dengan ekuitas merangkak naik ke posisi Rp506,98 miliar. Manajemen SINI optimistis KMS akan menjadi mesin pemacu pendapatan perseroan. 

“Perseroan telah melakukan pengambilalihan KMS sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha dan peningkatan investasi pada sektor pertambangan batu bara yang memiliki prospek pertumbuhan jangka menengah yang positif,” beber Direktur Utama PT Singaraja Putra Tbk, Amir Antolis, Rabu 22 Julo 2026. 

Ia menyebut permintaan batu bara global diperkirakan masih terjaga, terutama dari negara- negara di Asia seperti Tiongkok dan India. 

“Selain itu, berdasarkan RUPTL 2025-2034, kebutuhan tenaga listrik nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata sekitar 5,3% per tahun, sehingga batu bara diperkirakan masih akan berperan penting dalam mendukung pasokan energi nasional dalam jangka menengah," imbuhnya.

KMS ditargetkan menyumbang pendapatan sebesar USD 52,00 juta pada 2026 (berkontribusi 21,40% terhadap total pendapatan konsolidasi SINI) dan melesat menjadi USD 158,97 juta pada 2027 (berkontribusi 27,06%).

Lompatan Kapasitas Produksi: Menuju 5 Juta Ton Per Tahun

Akuisisi KMS memberikan SINI akses langsung ke konsesi tambang milik PT Cristian Eka Pratama (CEP) di Kutai Barat, Kalimantan Timur. 

Berdasarkan Laporan Tenaga Ahli per 31 Desember 2025, konsesi ini menyimpan cadangan batu bara mencapai 69,25 juta ton dengan estimasi masa tambang (Life of Mine) hingga tahun 2038.

Kehadiran CEP di bawah naungan KMS bakal memperbesar skala produksi SINI. Sebagai pembanding, realisasi penjualan batu bara konsolidasian SINI pada tahun 2025 baru menyentuh 203.057 MT.

Target volume produksi tahunan pada konsesi KMS direncanakan meningkat secara bertahap, mulai dari sekitar 1 juta ton per tahun pada tahap awal, meningkat menjadi 3,6 juta ton, hingga mencapai kapasitas produksi optimal sekitar 5 juta ton per tahun.

Sinergi Strategis PTRO, Off-taker Ever Grace, dan Dana Rights Issue

Transaksi akuisisi ini juga menyingkap jalinan kemitraan strategis antara SINI, Petrosea (PTRO), dan investor global:

  • 1. Sinergi Jasa Pertambangan dengan PTRO: Meskipun akuisisi KMS berdiri sendiri, PTRO merupakan kontraktor jasa pertambangan jangka panjang eksisting di anak usaha SINI, PT Pasir Bara Prima (PBP), dengan kontrak hingga tahun 2032.
  • Manajemen mengindikasikan integrasi operasional ini berpotensi menciptakan efisiensi biaya, pengoptimalan alat berat, serta skema kontrak jasa tambang yang lebih kompetitif di seluruh grup.
  • 2. Komitmen Off-taker Ever Grace: Anak usaha SINI, PT Pertambangan Komoditas Prima (PKP), mengantongi komitmen penjualan batu bara sebesar 1,00 juta ton kepada Ever Grace International Trading Limited.
  • Infrastruktur angkut saat ini sedang ditingkatkan untuk mengejar target RKAB PKP sebesar 1,80 juta ton pada tahun 2026. Pasca-PMHMETD, Ever Grace juga diplot menjadi pemegang saham perseroan.
  • 3. Realisasi Dana PMHMETD Rp1,18 Triliun: Rencana alokasi dana Rights Issue (PMHMETD I) sebesar Rp1,18 triliun yang diniatkan untuk pinjaman ke anak usaha (PKP dan PBP) hingga kini belum terealisasi karena proses HMETD masih berjalan.

Ekspansi Tambang Lainnya dan Kepatuhan DMO

Selain KMS, SINI tengah mempersiapkan dua konsesi tambang lain di bawah PT Dwi Daya Swakarya untuk segera berproduksi komersial:

PT Pesona Bara Cakrawala (PBC): Diproyeksikan mulai beroperasi komersial pada Kuartal IV-2026, setelah menyelesaikan pembebasan lahan dan pembenahan jalan angkut.

PT Cakrawala Bara Persada (CBP): Dijadwalkan menyusul berproduksi pada Kuartal IV-2027.

Dari sisi regulasi pemerintah, SINI mencatatkan rekam jejak tanpa sanksi Domestic Market Obligation (DMO). 

Per 30 Juni 2026, perseroan telah merealisasikan kewajiban DMO sebesar 150.275,27 MT atau 58,97% dari total produksi 254.793,29 MT.

Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Hadi Zairin pada 22 Jul 2026 

Tags: