Tren Pasar

Laba Sido Muncul Turun, Cek Aset dan Liabilitasnya Per September 2026

  • Sido Muncul membukukan laba Rp619,1 miliar hingga September 2026, turun dari Rp818,54 miliar setahun sebelumnya. Simak kinerja keuangan dan kondisi neraca SIDO.
Peluncuran Tolak Angin Batuk - Panji 1.jpg
PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk meluncurkan produk terbaru Tolak Angin Batuk. Produk ini akan menambah varian dari produk Tolak Angin yang telah ada dan dikenal oleh masyarakat luas yaitu Tolak Angin Cair, Tolak Angin Bebas Gula,Tolak Angin Flu, Tolak Angin Anak, Tolak Angin care, Permen Tolak Angin, Permen Tolak Angin Bebas Gula, dan Balsam Tolak Angin. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 24,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp619,1 miliar pada sembilan bulan pertama 2026. Pelemahan penjualan dan kenaikan beban pokok penjualan menjadi faktor yang menekan kinerja keuangan produsen Tolak Angin tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan periode Januari-September 2026, laba bersih SIDO turun dari Rp818,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi seiring melemahnya penjualan bersih perseroan sebesar 8,4% menjadi sekitar Rp2,5 triliun.

Tekanan terhadap kinerja SIDO juga terlihat pada sejumlah pos laba lainnya. Laba bruto turun 15,7% menjadi sekitar Rp1,3 triliun, sedangkan laba usaha merosot 23,3% menjadi Rp788,01 miliar dari sebelumnya Rp1,03 triliun.

Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp802,51 miliar, turun 23,8% dibandingkan Rp1,05 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Baca juga : Awas Boros Listrik! Ini 6 Cara Hemat Tagihan Saat Cuaca Panas

Penjualan Turun, Beban Pokok SIDO Naik

Penurunan penjualan menjadi salah satu faktor utama yang menekan profitabilitas SIDO sepanjang Januari-September 2026. Di tengah melemahnya pendapatan, beban pokok penjualan justru meningkat 1% menjadi Rp1,19 triliun.

Kondisi tersebut membuat laba bruto turun lebih dalam dibandingkan penjualan. Berdasarkan estimasi dari angka yang tersedia, margin laba bruto SIDO menyusut dari sekitar 57% menjadi 52%.

Penyempitan margin tersebut mengindikasikan bahwa perseroan menghadapi tekanan dalam menghasilkan laba dari setiap rupiah penjualan. Meski demikian, penyebab spesifik kenaikan beban pokok penjualan belum dapat dipastikan hanya dari data yang tersedia.

Dari sisi biaya operasional, beban penjualan dan pemasaran SIDO turun 2,6% menjadi Rp401,44 miliar. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk mengimbangi kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 11,5% menjadi Rp155,73 miliar.

Di sisi lain, pendapatan lain-lain meningkat 46,2% menjadi Rp48,01 miliar dari Rp32,84 miliar. Kenaikan ini memberikan tambahan pendapatan, tetapi belum mampu mengimbangi penurunan laba bruto dan laba usaha.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan neto sebesar Rp183,41 miliar, laba bersih SIDO tercatat Rp619,1 miliar. Nilai tersebut turun 21,7% dibandingkan beban pajak Rp234,21 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga : 4 Alasan Seseorang Jadi Hobi Flexing, Kamu Termasuk?

Laba dan Liabilotas

Penurunan laba bersih juga tercermin pada laba per saham dasar atau earnings per share (EPS). Pada sembilan bulan pertama 2026, EPS SIDO tercatat Rp21,04, turun 23,5% dibandingkan Rp27,52 pada Januari-September 2025.

Penurunan EPS menjadi salah satu indikator yang dapat diperhatikan investor dalam mengevaluasi perkembangan profitabilitas perusahaan. Namun, penilaian terhadap prospek saham SIDO tetap perlu mempertimbangkan valuasi, kebijakan dividen, arus kas, dan prospek pertumbuhan bisnis.

Bagi investor, perkembangan penjualan menjadi salah satu faktor penting untuk dicermati pada periode berikutnya. Kemampuan perseroan menjaga margin keuntungan di tengah perubahan biaya produksi juga akan memengaruhi pemulihan laba.

Di tengah penurunan laba, posisi keuangan SIDO menunjukkan perkembangan berbeda. Per 30 September 2026, total aset perseroan tercatat Rp3,65 triliun, turun sekitar 0,9% dibandingkan Rp3,68 triliun pada akhir Desember 2025.

Total liabilitas atau kewajiban perseroan turun 33,4% menjadi Rp374,23 miliar. Pada saat yang sama, total ekuitas meningkat 4,9% menjadi Rp3,27 triliun.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa liabilitas SIDO relatif kecil dibandingkan ekuitasnya. Meski demikian, penilaian menyeluruh terhadap kesehatan keuangan tetap memerlukan pemeriksaan terhadap komposisi aset, kas, arus kas operasional, dan kewajiban lancar.

Dengan demikian, penurunan laba pada sembilan bulan pertama 2026 belum diikuti pelemahan pada seluruh indikator neraca. Tantangan utama perseroan saat ini terlihat pada sisi penjualan dan profitabilitas.

Baca juga : 5 Dampak Negatif Kebiasaan Pamer atau Flexing

Sejarah Sido Muncul dan Produk Andalan

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jamu, obat herbal, suplemen, dan produk kesehatan. Perusahaan ini dikenal luas melalui merek Tolak Angin dan Kuku Bima.

Sejarah Sido Muncul berawal dari usaha jamu rumahan yang dirintis pada 1940. Usaha tersebut kemudian berkembang di Semarang, Jawa Tengah, hingga menjadi perusahaan dengan fasilitas produksi modern.

Pada 2013, SIDO mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Sejumlah produk yang dikenal dari portofolio perseroan antara lain:

  • Tolak Angin, produk herbal yang dipasarkan untuk membantu meredakan gejala masuk angin.
  • Kuku Bima Ener-G!, minuman energi.
  • Tolak Linu, produk herbal untuk membantu meredakan keluhan pegal linu.
  • Diapet, produk herbal untuk membantu mengatasi diare.
  • Esemag, produk yang dipasarkan untuk membantu meredakan keluhan lambung.
  • Kunyit Asam, minuman herbal berbahan tradisional.