Kupas Tuntas Saham AADI 2026, Masih Layak Dikoleksi Investor?
- AADI mencatat laba menurun, tetapi tetap membagikan dividen besar dan memiliki valuasi menarik. Berikut analisis kinerja dan prospek sahamnya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) merupakan salah satu produsen batu bara termal terbesar di Indonesia yang menjadi bagian dari Grup AlamTri.
Setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), AADI menjadi emiten yang banyak diperhatikan investor karena memiliki fundamental yang kuat, kebijakan dividen besar, serta biaya produksi yang relatif kompetitif dibandingkan perusahaan sejenis.
Meski demikian, perusahaan juga menghadapi tantangan berupa pelemahan harga batu bara global, penurunan laba selama beberapa tahun terakhir, hingga perubahan regulasi pertambangan di Indonesia.
Lantas, bagaimana profil perusahaan, siapa saja anak usahanya, bagaimana kinerja keuangannya, dan seperti apa prospek saham AADI ke depan?
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) didirikan pada 2004 sebagai perusahaan induk (holding company) yang mengelola bisnis pertambangan batu bara termal dalam Grup AlamTri Resources Indonesia Tbk, yang sebelumnya dikenal sebagai PT Adaro Energy Indonesia Tbk.
AADI menjalankan model bisnis vertically integrated coal mining, yakni mengelola rantai bisnis pertambangan mulai dari eksplorasi, penambangan, pengangkutan, logistik, hingga pemasaran batu bara.
Keunggulan utama perusahaan terletak pada biaya produksi (cash cost) yang relatif rendah serta kepemilikan tambang dengan status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Sekitar 90% produksi AADI berasal dari area IUPK, sehingga dinilai memiliki perlindungan lebih baik terhadap potensi pembatasan produksi dibandingkan tambang yang masih menggunakan skema IUP biasa.
Baca juga : PLTP Sekincau, Energi Bersih dan Tantangan Dampak Ekologis
Daftar Anak Usaha AADI
Sebagai perusahaan induk, AADI membawahi sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan pendukung operasional. Anak usaha tersebut meliputi,
- PT Adaro Indonesia – operator utama pertambangan batu bara.
- PT Laskar Semesta Alam – pengelolaan aset pertambangan.
- PT Semesta Centramas – investasi dan pengembangan usaha.
- PT Paramitha Cipta Sarana – jasa penunjang operasional.
- PT Mustika Indah Permai – pengelolaan aset dan kegiatan pendukung.
- Kestrel Coal Resources – perusahaan patungan yang mengelola tambang batu bara metalurgi di Australia.
Keberadaan Kestrel Coal Resources menjadi salah satu strategi diversifikasi perusahaan karena menghasilkan batu bara metalurgi yang digunakan industri baja, berbeda dengan bisnis utama AADI yang didominasi batu bara termal untuk pembangkit listrik.
Bagaimana Kinerja Keuangan AADI?
Dalam beberapa tahun terakhir, AADI masih membukukan laba yang besar. Namun, tekanan harga batu bara global menyebabkan tren pendapatan dan laba mengalami penurunan dibandingkan periode booming komoditas pada 2022.
Pendapatan Turun Tiga Tahun Berturut-turut
Setelah mencetak pendapatan tertinggi sebesar US$7,73 miliar pada 2022, kinerja perusahaan mulai mengalami normalisasi.
Perbandingan kinerja:
- 2022: US$7,73 miliar
- 2023: menurun
- 2024: US$5,32 miliar
- 2025: US$4,91 miliar
Artinya, sepanjang 2025 pendapatan turun sekitar 7,69% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga batu bara internasional serta penurunan volume perdagangan global.
Laba Bersih Turun Lebih dari 37%
Tidak hanya pendapatan, laba bersih juga mengalami tekanan. Pada 2024 AADI masih membukukan laba sekitar US$1,21 miliar. Namun pada 2025 laba bersih turun menjadi sekitar US$760 juta, atau turun sekitar 37,2%.
Sepanjang Januari–September 2025, laba bersih bahkan turun sekitar 45,35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Walaupun demikian, perusahaan masih mampu menjaga profitabilitas melalui efisiensi operasional.
Baca juga : Mattel Indonesia Digitalisasi Kawasan Berikat, ERP Indonesia Implementasi BZone
Profitabilitas Masih Relatif Tinggi
Meski laba menurun, rasio keuntungan AADI masih tergolong kuat dibandingkan rata-rata industri. Beberapa indikator utama meliputi,
- Profit Margin: 15,48%
- Return on Assets (ROA): 11,12%
- Return on Equity (ROE) 2025: 22,8%
- Margin EBITDA: sekitar 29–30%
Margin EBITDA yang tetap stabil menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu mengendalikan biaya produksi di tengah tekanan harga jual batu bara.
Bagaimana Strategi Investasi AADI?
Untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, perusahaan tetap menjalankan belanja modal (capital expenditure/capex).
Capex 2025
- Target belanja modal: US$300 juta
- Realisasi hingga September 2025: US$243 juta
Fokus investasi diarahkan pada:
- penguatan infrastruktur logistik,
- efisiensi rantai pasok,
- pengembangan proyek Kaltara Power Indonesia (KPI),
- diversifikasi ke sektor ketenagalistrikan.
Strategi tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap penjualan batu bara semata.
Bagaimana Pergerakan Saham AADI?
Sepanjang paruh pertama 2026, saham AADI bergerak cukup fluktuatif mengikuti dinamika harga batu bara global.
Data perdagangan
- Harga saham (6 Juli 2026): Rp7.975
- Kapitalisasi pasar: sekitar Rp62,68 triliun
- Price to Earnings Ratio (P/E): sekitar 5,4 kali
Valuasi tersebut membuat AADI dipandang sebagai salah satu emiten batu bara dengan valuasi relatif murah dibandingkan rata-rata historisnya.
Dividen AADI Masih Menarik
Salah satu daya tarik utama saham AADI adalah kebijakan pembagian dividen. Sepanjang 2025, perusahaan membagikan,
- Dividen final: Rp463,32 per saham.
- Dividen interim: Rp538,08 per saham.
Yield dividen yang mencapai dua digit menjadikan AADI sebagai salah satu emiten dengan tingkat pengembalian dividen terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Beberapa katalis yang dinilai dapat menopang kinerja AADI antara lain,
1. Harga Batu Bara Berpotensi Menguat
Gangguan pasokan LNG global membuat pembangkit listrik di sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batu bara. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga batu bara acuan internasional sepanjang 2026.
2. Perlindungan Produksi Melalui IUPK
Sekitar 90% produksi AADI berasal dari tambang berstatus IUPK. Status tersebut dinilai memberikan kepastian produksi yang lebih baik apabila pemerintah melakukan penyesuaian kuota produksi nasional.
3. Diversifikasi Bisnis Energi
Investasi pada proyek Kaltara Power Indonesia membuka peluang pendapatan baru di sektor pembangkit listrik. Diversifikasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap siklus harga batu bara.
4. Efisiensi Operasional
Sebagai produsen dengan biaya produksi rendah, AADI memiliki daya tahan yang relatif lebih baik ketika harga batu bara mengalami penurunan.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: BUMI dan DEWA Perkasa, ISAT Ambles
Tekanan Harga Batu Bara Global
Harga batu bara masih dipengaruhi oleh:
- perlambatan ekonomi global,
- penurunan impor dari China,
- kebijakan energi India,
- transisi menuju energi rendah karbon.
Jika harga batu bara kembali melemah, kinerja keuangan AADI berpotensi mengalami tekanan.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) masih menjadi salah satu emiten batu bara terbesar di Indonesia dengan fondasi operasional yang kuat. Meski pendapatan dan laba mengalami tekanan akibat siklus penurunan harga batu bara global, perusahaan tetap mempertahankan profitabilitas yang relatif tinggi, biaya produksi yang kompetitif, serta kebijakan dividen yang menarik bagi investor.
Dalam jangka menengah, prospek AADI akan sangat ditentukan oleh arah harga batu bara dunia, implementasi regulasi pertambangan di Indonesia, serta keberhasilan perusahaan menjalankan strategi diversifikasi ke sektor energi.
Dengan valuasi yang masih relatif rendah dan proyeksi pemulihan laba pada 2026–2028, AADI tetap menjadi salah satu saham batu bara yang banyak diperhatikan pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Editor
