Tren Pasar

Kupas Tuntas Prospek ADMR, Masih Layak Dibeli?

  • JAKARTA, TrenAsia.id – Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) kembali menjadi perhatian investor pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Ketika Indeks Ha
Adaro Minerals
Ilustrasi kegiatan usaha PT Adaro Minerals Tbk (www.adarominerals.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi perhatian investor pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat, saham ADMR justru bergerak di zona merah dan melanjutkan tren koreksi yang telah berlangsung sejak awal tahun.

Penurunan harga tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah pelemahan ADMR hanya koreksi sementara atau menjadi sinyal melemahnya prospek bisnis perusahaan?

Meski tekanan jangka pendek masih membayangi, sejumlah analis menilai fundamental perusahaan dan prospek bisnis jangka panjang ADMR tetap menarik, terutama seiring transformasi perusahaan dari produsen batu bara metalurgi menjadi pemain utama industri aluminium nasional.

Saham ADMR Hari Ini Masih Tertekan

Pada sesi akhirperdagangan, Selasa, 2 Juni 2026 saham ADMR turun sekitar 5,23% ke level Rp1.450 per saham. Secara teknikal, saham ini masih berada dalam tren bearish jangka pendek.

Sejumlah indikator teknikal menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan. Relative Strength Index (RSI) berada di kisaran 39, yang mengindikasikan momentum saham masih lemah dan belum memasuki fase pemulihan yang kuat.

Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu munculnya sinyal pembalikan arah yang lebih jelas.

Mengapa Harga Saham ADMR Turun?

Koreksi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir sebenarnya bukan fenomena yang berdiri sendiri.

Jika dibandingkan dengan posisi akhir April 2026, saham ADMR telah turun lebih dari 19%. Saat itu saham masih diperdagangkan di kisaran Rp1.860 per saham dan bahkan sempat mendapatkan rekomendasi trading buy dari sejumlah sekuritas.

Salah satu faktor yang menekan harga adalah momentum ex-dividend yang terjadi pada akhir April 2026. Setelah memasuki periode ex-dividen, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan sehingga memicu tekanan jual di pasar.

Selain itu, pelemahan pasar saham Indonesia sepanjang 2026 turut memberikan sentimen negatif terhadap saham-saham berbasis komoditas, termasuk ADMR.

Baca juga : CUAN dan AMRT Tak Tertahankan di Penutupan LQ45

Kinerja Keuangan ADMR: Sempat Tertekan pada 2025

Dari sisi fundamental, tahun 2025 menjadi periode yang cukup menantang bagi ADMR.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$271,21 juta, turun sekitar 37,88% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$436,65 juta. Pendapatan usaha juga turun 15,7% menjadi US$972,94 juta.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi normalisasi harga batu bara metalurgi setelah periode lonjakan harga komoditas global dalam beberapa tahun sebelumnya.

Meski demikian, kondisi keuangan perusahaan tetap relatif kuat. Total aset ADMR meningkat menjadi US$2,89 miliar dari sebelumnya US$2,07 miliar, menunjukkan perusahaan tetap agresif melakukan investasi untuk mendukung ekspansi bisnis jangka panjang.

Di tengah tekanan yang terjadi sepanjang 2025, kinerja kuartal pertama 2026 menunjukkan perubahan arah yang cukup signifikan.

Pendapatan usaha ADMR pada Januari-Maret 2026 meningkat 33,79% secara tahunan menjadi US$267,49 juta. Sementara laba bersih tumbuh 34,01% menjadi US$87,71 juta.

Pertumbuhan tersebut menjadi indikasi bahwa fase terburuk penurunan kinerja kemungkinan telah terlewati. Bagi investor, peningkatan pendapatan dan laba di tengah kondisi pasar komoditas yang belum sepenuhnya pulih menjadi sinyal penting bahwa fundamental perusahaan mulai kembali menguat.

Transformasi ADMR: Dari Batu Bara ke Aluminium

Faktor yang paling banyak menarik perhatian analis bukanlah bisnis batu bara ADMR saat ini, melainkan proyek aluminium yang sedang dikembangkan perusahaan.

Melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), ADMR tengah membangun salah satu proyek smelter aluminium terbesar di Indonesia.

Proyek tersebut dirancang dalam tiga tahap dengan kapasitas total mencapai 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun. Pada tahap pertama, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 500.000 ton per tahun.

Produksi komersial dilakukan secara bertahap dan diperkirakan mencapai tingkat optimal pada semester kedua 2026. Sementara kapasitas penuh ditargetkan terealisasi pada 2027.

Langkah ini dianggap strategis karena aluminium merupakan material penting dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV), energi terbarukan, infrastruktur, konstruksi, hingga industri manufaktur modern.

Dengan kata lain, ADMR tidak lagi hanya bergantung pada bisnis batu bara metalurgi, tetapi mulai membangun sumber pertumbuhan baru yang memiliki prospek jangka panjang lebih besar.

Banyak investor menanyakan kapan proyek aluminium mulai memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja perusahaan. Sejumlah analis memperkirakan dampak finansial awal mulai terlihat pada kuartal IV 2026 seiring peningkatan produksi secara bertahap.

Kontribusi yang lebih signifikan diperkirakan mulai terasa pada 2027 ketika fasilitas sudah beroperasi mendekati kapasitas optimal. Jika target tersebut tercapai, ADMR berpotensi mengalami perubahan struktur pendapatan yang cukup besar dalam beberapa tahun mendatang.

Baca juga : IHSG 2 Juni 2026 Naik 1,11 Persen, Ini Data Lengkapnya

Risiko yang Tetap Harus Diperhatikan

Meski prospek jangka panjang terlihat menarik, investor tetap perlu mempertimbangkan sejumlah risiko.

Pertama, harga batu bara metalurgi dan aluminium masih sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global sehingga volatilitas harga komoditas dapat memengaruhi pendapatan perusahaan.

Kedua, proyek smelter membutuhkan investasi besar dan proses konstruksi yang kompleks. Setiap keterlambatan pembangunan atau peningkatan biaya proyek dapat memengaruhi target pertumbuhan.

Ketiga, kondisi pasar keuangan global dan pergerakan nilai tukar rupiah masih menjadi faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap saham-saham komoditas.

Dalam jangka pendek, kondisi teknikal saham ADMR juga masih menunjukkan tekanan sehingga potensi volatilitas harga tetap cukup tinggi.

Target Harga Saham ADMR Menurut Analis

Terlepas dari tekanan jangka pendek, mayoritas analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap ADMR.

Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp2.000 per saham. Sementara J.P. Morgan Sekuritas Indonesia menempatkan target harga pada level Rp2.170 per saham dengan rekomendasi overweight.

Secara konsensus, rata-rata target harga analis berada di kisaran Rp2.400–Rp2.500 per saham. Dengan harga pasar yang saat ini berada di sekitar Rp1.500, terdapat potensi kenaikan lebih dari 60% apabila target tersebut dapat tercapai.

Apakah Saham ADMR Masih Menarik Dikoleksi? Jawabannya bergantung pada profil investor. Bagi investor jangka pendek, tren teknikal yang masih lemah dan sentimen pasar yang belum stabil menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Namun bagi investor jangka panjang, koreksi harga saat ini dapat dilihat sebagai peluang untuk masuk secara bertahap, terutama jika percaya pada prospek bisnis aluminium yang sedang dibangun perusahaan.

Pada akhirnya, nilai utama ADMR saat ini bukan hanya berasal dari bisnis batu bara metalurginya, melainkan dari transformasi menuju industri aluminium yang diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Jika proyek smelter berjalan sesuai rencana, tahun 2027 berpotensi menjadi titik penting yang mengubah wajah bisnis ADMR secara fundamental.