Tren Global

Krisis Ekonomi di Depan Mata jika Gencatan Senjata Iran-AS Batal

  • Penutupan Selat Hormuz kembali menyebabkan lonjakan harga minyak, merusak rantai pasok global, meningkatkan inflasi, serta mendorong dunia menuju resesi.
315763-1468x710.jpg
Kerusakan hebat terjadi di kota-kota di Lebanon usai serangan Israel. (Amnesty International)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi global. Pembatalan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang diikuti penutupan Selat Hormuz, Kamis, 4 April 2026, dinilai berpotensi memicu krisis energi dan ekonomi dunia yang lebih besar dibandingkan krisis sebelumnya.

Diketahui Iran menutup kembali Selat Hormuz, setelah Israel melakukan serangan besar besaran pada Rabu malam, 8 April 2026. Selain itu Presiden Amerika Serikat dilaporkan hanya menerima satu dari sepuluh tuntutan yang dilayangkan Iran.

"Retorika kasar, arogan, dan ancaman tak berdasar dari presiden AS yang delusional tidak berpengaruh terhadap kelanjutan operasi penyerangan dan penghancuran yang dilakukan para pejuang Islam terhadap musuh Amerika dan Zionis," tegas Khatam al-Anbiya, juru bicara militer Iran, dilansir kantor berita Tasnim, Kamis, 9 April 2026.

Penutupan selat vital tersebut, menurut ekonom, dampaknya tidak hanya terbatas pada lonjakan harga minyak, tetapi juga dapat merusak rantai pasok global, meningkatkan inflasi, serta mendorong dunia menuju resesi atau bahkan stagflasi.

Selat Hormuz, Urat Nadi Energi

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, berada di antara wilayah Iran dan Oman. Meski secara geografis kecil, perannya sangat vital bagi perdagangan energi dunia.

Data industri energi global menunjukkan beberapa fakta penting:

  • Sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat ini.
  • Volume tersebut setara dengan 20–25% perdagangan minyak laut global.
  • Sekitar 20% pasokan LNG (liquefied natural gas) dunia juga melalui jalur ini.
  • Negara eksportir utama yang bergantung pada jalur ini meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar.
  • Jika jalur ini tertutup, sebagian besar ekspor energi dari kawasan Teluk akan terhenti. Akibatnya, pasokan energi global dapat mengalami guncangan besar dalam waktu singkat.

Harga Minyak Akan Melonjak Tajam

Lonjakan harga minyak menjadi dampak pertama yang hampir pasti terjadi. Harga minyak acuan global seperti Brent Crude Oil telah beberapa kali menembus US$100 per barel ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Beberapa proyeksi ekonomi menunjukkan potensi kenaikan yang jauh lebih tinggi:

  • Analisis dari Federal Reserve Bank of Dallas memperkirakan jika penutupan berlangsung hingga tiga kuartal, harga minyak dapat melonjak hingga US$167 per barel.
  • Pada skenario ekstrem, harga minyak bahkan bisa mendekati US$200 per barel jika konflik meluas.
  • Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, menyebut krisis energi yang mungkin terjadi bisa menjadi salah satu yang paling serius dalam sejarah modern. Menurutnya, dampak gangguan pasokan dari Selat Hormuz berpotensi lebih besar dibandingkan krisis minyak tahun 1973, 1979, maupun lonjakan harga energi akibat perang Ukraina pada 2022.

Baca juga : Peran Penting Selat Hormuz untuk Akses Internet hingga Fintech

Cadangan Minyak Darurat Global Habis April

Cadangan strategis yang dilepas untuk menutup kekurangan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan distribusi melalui Selat Hormuz diketahui akan habis pertengahan April

Sejumlah laporan pasar energi dari Reuters dan The Guardian menyebut cadangan tersebut berpotensi mendekati batas jika gangguan pasokan tidak segera pulih.

Data pelepasan cadangan menunjukkan:

  • Total cadangan darurat yang dilepas sekitar 400 juta barel.
  • Kontribusi terbesar berasal dari Amerika Serikat melalui Strategic Petroleum Reserve sekitar 172 juta barel.
  • Cadangan digunakan untuk menutup gangguan pasokan minyak global akibat konflik.

Gangguan Rantai Pasok Global

Lonjakan harga energi hampir selalu memicu efek domino terhadap sektor ekonomi lainnya.

Kepala ekonom komoditas di Goldman Sachs, Daan Struyven, menjelaskan bahwa biaya transportasi global akan meningkat signifikan jika pasokan minyak terganggu.

Beberapa dampak langsung yang diperkirakan terjadi antara lain:

  • Biaya logistik global meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar kapal dan pesawat.
  • Harga pangan naik karena biaya distribusi lebih mahal.
  • Harga bahan baku industri melonjak, terutama produk berbasis petrokimia seperti plastik.

Efek ini sudah mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Di Indonesia, misalnya, pelaku usaha kecil melaporkan kenaikan harga plastik hingga lebih dari 50% akibat lonjakan harga bahan baku minyak bumi.

Ancaman Inflasi Global

Lonjakan harga energi hampir selalu berdampak langsung pada inflasi. Ekonom memperkirakan inflasi global dapat meningkat secara signifikan jika gangguan pasokan energi berlangsung lama.

Menurut analisis Federal Reserve Bank of Dallas inflasi di Amerika Serikat dapat melampaui 4% pada akhir tahun jika harga energi terus naik. Negara berkembang berpotensi mengalami inflasi lebih tinggi karena ketergantungan pada impor energi.

Direktur pelaksana International Monetary Fund, Kristalina Georgieva, mengatakan konflik energi global hampir selalu berujung pada kombinasi harga tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Risiko Resesi dan Stagflasi

Skenario paling mengkhawatirkan adalah munculnya stagflasi, yaitu kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan.

Kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut dunia berisiko menghadapi “resesi energi” jika pasokan minyak global terganggu dalam waktu lama.

Beberapa proyeksi ekonomi global menunjukkan:

  • Pertumbuhan ekonomi dunia dapat turun dari 3,3% menjadi sekitar 2,9%.
  • Negara importir energi besar seperti Jepang, Korea Selatan, dan India akan terkena dampak paling besar.
  • Negara berkembang berpotensi mengalami tekanan fiskal akibat subsidi energi yang meningkat.

Proyeksi tersebut juga diperkuat oleh analisis dari Organisation for Economic Co-operation and Development yang telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global akibat risiko geopolitik dan gangguan energi.

Baca juga : Dampak Sistemik Jika Iran Putus Kabel Internet di Hormuz

Dampak Terhadap Industri Transportasi

Sektor transportasi merupakan salah satu yang paling rentan terhadap kenaikan harga energi. Direktur jenderal International Air Transport Association, Willie Walsh, menyatakan bahwa harga jet fuel akan tetap tinggi bahkan setelah konflik mereda.

  • Maskapai membutuhkan berbulan-bulan untuk memulihkan rantai pasok bahan bakar.
  • Harga tiket pesawat berpotensi meningkat signifikan.
  • Permintaan perjalanan global dapat melemah akibat kenaikan biaya.

Analis geopolitik Jiang Xueqin berpendapat bahwa konflik berkepanjangan dapat menguras sumber daya kedua pihak.

Menurutnya, momentum perang Iran - Amerika dan Israel bisa jadi momentum bagi China. Berpedoman pada strategi geopolitik terkenal asal China yang mengikuti prinsip dalam buku The Art of War karya Sun Tzu, China tak perlu berperang untuk dapat menang.  Seperti yang dikatakan Tsuzu “menang tanpa harus bertempur.”

Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu geopolitik regional, melainkan ancaman langsung terhadap sistem energi dan perdagangan global.

Jika jalur ini benar-benar terblokir dalam waktu lama, dunia dapat menghadapi kombinasi krisis energi, inflasi tinggi, serta perlambatan ekonomi global.

Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa stabilitas jalur energi internasional memiliki peran krusial dalam menjaga kestabilan ekonomi dunia.