Kredit Konsumtif Tumbuh 0,3 Persen pada April 2021
JAKARTA – Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro dalam risetnya menyebutkan kredit konsumtif (rumah tangga) nasional pada April 2021 tumbuh 0,3% year on year (yoy) dibandingkan dengan – 1,1% yoy pada Maret 2021. Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) terbaru, hanya terdapat tiga provinsi yang mengalami penurunan penyaluran kredit konsumtif pada April 2021, […]

Ananda Astri Dianka
Author


Karyawati menghitung uang di gerai salah satu cabang Bank Mandiri, di Jakarta, Selasa, 6 April 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro dalam risetnya menyebutkan kredit konsumtif (rumah tangga) nasional pada April 2021 tumbuh 0,3% year on year (yoy) dibandingkan dengan – 1,1% yoy pada Maret 2021.
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) terbaru, hanya terdapat tiga provinsi yang mengalami penurunan penyaluran kredit konsumtif pada April 2021, yaitu (- 7,8%), Aceh (-2,4%) dan Bali (-2,3%).
Meskipun demikian, total penyaluran kredit konsumtif nasional berhasil tumbuh setelah sebelumnya terus mengalami kontraksi. Hal ini disebabkan oleh penurunan kontraksi kredit konsumtif di DKI Jakarta, yakni dari -10,1% pada Maret 2021 menjadi hanya -7,8% pada April 2021.
- Modernland Realty Raup Marketing Sales Rp341 Miliar pada Kuartal I-2021
- Waskita Karya Raih Kontrak Pembangunan Jalan Perbatasan RI-Malaysia Rp225 Miliar
- Pengelola Hypermart (MPPA) Berpotensi Meraih Rp670,85 Miliar Lewat Private Placement
Jakarta sendiri adalah provinsi dengan market share terbesar, yakni mencapai 26,6% dari total penyaluran kredit konsumtif nasional, sehingga sangat mempengaruhi kinerja penyaluran kredit konsumsi nasional.
“Adapun Non-Performing Loan (NPL) kredit konsumtif pada April 2021 cenderung flat, yakni sebesar 1,9 persen,” tulis Andry dalam riset terbarunya, Rabu 7 Juli 2021.
Andry memprediksi penyaluran kredit konsumtif akan membaik ke depan seiring dengan pemulihan laju pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, pemulihan pertumbuhan kredit konsumsi saat ini dibayangi oleh resiko kenaikan kasus COVID-19 yang sudah terjadi sejak bulan Juni.
“Peningkatan kasus COVID-19 ini telah mengakibatkan restriksi mobilitas yang pada akhirnya bisa mempengaruhi kecepatan laju pemulihan ekonomi dan permintaan kredit konsumtif,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kasus COVID-19 seperti yang terjadi saat ini adalah faktor resiko terbesar karena akan mengakibatkan laju pemulihan ekonomi terhambat akibat restriksi mobilitas, konsumen menahan
belanja dan juga kegiatan produksi menurun.
Bercermin pada pengalaman kenaikan kasus COVID-19
pada bulan Januari 2021 setelah periode libur Natal dan Tahun Baru, diperlukan waktu tiga bulan untuk menurunkan kasus harian mencapai angka “normal” sebanyak 5000-6000 kasus per hari. (RCS)
