Tren Ekbis

Konversi LPG ke CNG: Awas Mengulang Jebakan Minyak Tanah

  • Pemerintah mendorong konversi LPG ke CNG untuk tekan impor dan subsidi energi. Apakah kebijakan ini solusi jangka panjang atau mengulang jebakan konversi minyak tanah ke LPG?
865767449.jpg
Pengelolaan CNG merek GasLink. (PGN)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Pemerintah mulai mendorong wacana konversi penggunaan LPG ke CNG (Compressed Natural Gas) sebagai bagian dari strategi mengurangi impor energi dan menekan beban subsidi.

Indonesia diketahui masih memiliki cadangan gas domestik yang besar, sementara ketergantungan pada LPG impor terus membengkak. Mengalihkan sebagian konsumsi rumah tangga ke gas bumi dinilai bisa mengurangi tekanan terhadap devisa dan APBN.

Namun, apakah konversi LPG ke CNG akan menjadi solusi jangka panjang, atau justru mengulang kesalahan besar program konversi minyak tanah ke LPG pada 2007? Pertanyaan ini penting dijawab karena Indonesia pernah mengalami pola kebijakan serupa.

Alasan Konversi LPG ke CNG

Untuk memahami kebijakan ini, publik perlu memahami masalah dasarnya. Masalah utama Indonesia saat ini bukan sekadar harga LPG mahal, melainkan ketergantungan impor.

Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional pada 2025 mencapai sekitar 9,27 juta metrik ton. Masalahnya, produksi domestik jauh dari cukup. Produksi LPG nasional hanya sekitar 1,91 juta ton. Artinya, Indonesia harus mengimpor sekitar 7,47 juta ton LPG per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Dengan kata lain, lebih dari 80% konsumsi LPG nasional bergantung pada impor. Angka ini sangat besar. Karena LPG dibeli dalam dolar AS, beban negara menjadi sangat sensitif terhadap dua variabel:

  • harga energi global
  • kurs rupiah terhadap dolar

Ketika harga energi naik atau rupiah melemah, beban fiskal langsung melonjak. Dalam RAPBN 2026, subsidi LPG 3 kg ditetapkan sekitar Rp80,3 triliun. Itu belum termasuk risiko tambahan bila:

  • minyak dunia naik
  • rupiah melemah
  • konsumsi rumah tangga bertambah

Ekonom energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai tekanan fiskal dari LPG kini menjadi salah satu tantangan struktural sektor energi Indonesia. “Selama ketergantungan LPG impor tetap tinggi, APBN akan terus rentan terhadap gejolak eksternal seperti harga minyak dan pelemahan rupiah.”

Mengapa CNG Dianggap Menarik?

Secara teori, CNG menawarkan beberapa keunggulan. CNG adalah gas bumi yang dikompresi hingga tekanan tinggi agar mudah disimpan dan didistribusikan. Keunggulan utamanya:

  • lebih murah dibanding LPG impor
  • memanfaatkan sumber daya gas domestik
  • mengurangi kebutuhan devisa
  • emisi karbon relatif lebih rendah

Indonesia sebenarnya memiliki cadangan gas yang cukup besar. Data SKK Migas menunjukkan cadangan gas Indonesia masih termasuk yang terbesar di Asia Tenggara.

Secara kebijakan, ini terlihat seperti solusi logis. Daripada terus impor LPG, mengapa tidak memanfaatkan gas domestik? Tetapi kebijakan energi tak sesederhana itu.

Pelajaran Besar dari 2007: Konversi Minyak Tanah ke LPG

Untuk memahami risiko konversi LPG ke CNG, kita perlu mundur hampir 20 tahun. Pada pertengahan 2000-an, pemerintah menjalankan salah satu program konversi energi terbesar dalam sejarah Indonesia: minyak tanah ke LPG.

Saat itu, tujuan pemerintah juga untuk mengurangi subsidi energi dan mengurangi beban fiskal. Selain itu, konversi tersebut diharapkan membuat konsumsi rumah tangga lebih efisien.

Program tersebut sempat dipuji sebagai keberhasilan. Rumah tangga beralih ke LPG. Konsumsi minyak tanah turun drastis, subsidi minyak tanah menyusut. Secara jangka pendek, kebijakan itu sukses. Namun dalam jangka panjang kebijakan ini ternyata menyimpan bom waktu. 

Permintaan LPG tumbuh jauh lebih cepat daripada produksi domestik. Akibatnya Indonesia justru masuk jebakan baru yakni ketergantungan masif pada LPG impor.

Ekonom energi dari Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menilai transisi energi rumah tangga harus melihat keberlanjutan pasokan, bukan hanya penghematan jangka pendek.

“Konversi energi bisa sukses secara awal, tetapi bila tidak didukung strategi pasokan jangka panjang, negara hanya memindahkan ketergantungan dari satu energi ke energi lain," ujarnya. 

Apakah CNG Akan Jadi “LPG Baru”?

Hari ini Indonesia memang kaya gas. Namun gas juga bukan sumber daya tanpa batas. Gas domestik juga dibutuhkan untuk:

  • pembangkit listrik
  • pupuk
  • industri petrokimia
  • smelter
  • manufaktur

Jika konsumsi rumah tangga tiba-tiba melonjak besar akibat konversi massal ke CNG, pertanyaan berikutnya muncul: Apakah pasokan domestik cukup dalam 10–20 tahun?

Jika tidak, Indonesia berisiko mengulang pola lama:

  • awalnya hemat devisa
  • lalu konsumsi melonjak
  • pasokan domestik tak cukup
  • akhirnya impor lagi

Artinya, masalah hanya bergeser.

Tantangan Infrastruktur

Ada masalah lain yang sering luput. LPG unggul karena sangat praktis. Tabung bisa diantar ke mana saja. Indonesia cocok dengan model ini karena negara kepulauan. CNG berbeda. Ia membutuhkan:

  • jaringan pipa
  • stasiun pengisian
  • storage bertekanan tinggi
  • distribusi khusus

Ini membuat biaya infrastruktur awal besar. Ekonom energi dari Center of Reform on Economics, Piter Abdullah, menilai transisi energi rumah tangga harus realistis terhadap kondisi geografis Indonesia. “Tantangan terbesar Indonesia bukan hanya ketersediaan energi, tetapi biaya distribusinya karena struktur geografis kepulauan.”

Artinya, konversi CNG mungkin efektif di:

  • Jawa
  • kota besar
  • kawasan industri

Tetapi belum tentu ekonomis untuk:

  • pulau kecil
  • daerah terpencil
  • wilayah timur

CNG Jadi Solusi atau Risiko Baru?

Konversi LPG ke CNG bisa menjadi solusi. Terutama untuk:

  • mengurangi impor LPG
  • menghemat devisa
  • menekan subsidi

Namun sejarah memberi peringatan penting. Indonesia pernah terlalu percaya bahwa konversi minyak tanah ke LPG adalah solusi permanen. Kini pemerintah berada di persimpangan yang mirip.

Kalau konversi ke CNG hanya dilihat sebagai solusi fiskal jangka pendek, Indonesia berisiko mengulang kesalahan lama. Tetapi jika kebijakan ini disertai dengan:

  • roadmap pasokan 20 tahun
  • pembangunan infrastruktur distribusi
  • proyeksi demand yang realistis
  • prioritas alokasi gas domestik

maka CNG bisa menjadi bagian penting dari transisi energi nasional. Bisakah Indonesia melakukannya tanpa menciptakan ketergantungan impor baru 10 tahun dari sekarang?