Konglomerat RI Kuasai Bisnis di Singapura, dari Tanoto hingga Prajogo
- Tanoto, Salim hingga Prajogo Pangestu memperluas bisnis di Singapura. Jejaknya mencakup RGE, PacificLight, Chandra Asri hingga otomotif.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Singapura menjadi salah satu lokasi penting bagi ekspansi bisnis sejumlah konglomerat asal Indonesia. Di negara kota tersebut, jejak bisnis keluarga Sukanto Tanoto, jaringan investasi Salim Group, hingga Chandra Asri milik Prajogo Pangestu telah masuk ke berbagai sektor, mulai dari pusat kendali bisnis, properti, listrik, energi, petrokimia, SPBU, hingga otomotif.
Ekspansi tersebut berlangsung dengan pola yang berbeda. Keluarga Tanoto menjadikan Singapura sebagai basis penting untuk mengendalikan bisnis global Royal Golden Eagle (RGE), sekaligus memperluas portofolio properti. Sementara jaringan bisnis yang terafiliasi dengan First Pacific masuk ke sektor kelistrikan melalui PacificLight.
Di sisi lain, Prajogo Pangestu melalui Chandra Asri Group dalam beberapa tahun terakhir memperbesar pijakan di Singapura dengan mengakuisisi aset energi dan petrokimia milik Shell, jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil, serta menyiapkan ekspansi ke bisnis otomotif Cycle & Carriage.
Baca juga : Tergerus Lagi, Emas Antam Tembus Harga Terendah Sejak Pertengahan Juli
Tanoto Jadikan Singapura Pusat Bisnis Global
Sukanto Tanoto merupakan pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE), kelompok usaha yang bergerak di sektor berbasis sumber daya. Asia Pacific Rayon, salah satu perusahaan dalam ekosistem RGE, menyebut RGE berkantor pusat di Singapura dan telah memiliki aset lebih dari US$35 miliar serta mempekerjakan lebih dari 80.000 orang.
Bisnis RGE mencakup sejumlah sektor, antara lain pulp dan kertas, kelapa sawit, serat viscose, specialty cellulose, serta energi. Operasinya tersebar di berbagai negara dan kawasan.
Kehadiran keluarga Tanoto di Singapura juga terlihat dari sektor properti. Pada Februari 2022, Pacific Eagle Real Estate, perusahaan pengembang berbasis Singapura yang dimiliki secara privat oleh keluarga Tanoto, membeli Tanglin Shopping Centre dengan nilai S$868 juta.
Menurut Channel NewsAsia, transaksi tersebut menjadikan Pacific Eagle Real Estate sebagai pemilik baru pusat perbelanjaan yang berada di kawasan Tanglin tersebut. Nilai transaksinya setara dengan S$2.769 per kaki persegi berdasarkan asumsi penggunaan komersial penuh.
Dengan demikian, Singapura tidak hanya menjadi lokasi kantor pusat bagi RGE, tetapi juga menjadi salah satu tempat keluarga Tanoto menempatkan investasi di sektor properti.
Jaringan Salim Masuk ke Bisnis Listrik
Jejak konglomerasi Indonesia lainnya muncul melalui jaringan First Pacific. Salah satu asetnya adalah PacificLight, perusahaan pembangkit listrik sekaligus peritel listrik di Singapura.
PacificLight menyebut perusahaan tersebut dimiliki oleh pemegang saham di bawah First Pacific Group dan Meralco PowerGen Corporation. First Pacific sendiri merupakan perusahaan investasi berbasis Hong Kong yang memiliki kepentingan di berbagai sektor Asia, termasuk telekomunikasi, infrastruktur, produk konsumen, dan sumber daya alam.
PacificLight mengoperasikan pembangkit listrik berbahan bakar LNG di Jurong Island. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas sekitar 830 MW dan mulai beroperasi secara komersial pada 2014.
Ekspansi kapasitas PacificLight juga berlanjut. Perusahaan telah menyelesaikan fasilitas Fast Start berkapasitas 100 MW pada 2025. Selain itu, PacificLight tengah menyiapkan pembangkit Combined Cycle Gas Turbine (CCGT) baru yang hydrogen-ready dengan kapasitas sekitar 670 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Fasilitas baru tersebut akan melengkapi pembangkit CCGT 830 MW dan fasilitas Fast Start 100 MW yang telah dimiliki PacificLight.
Keterkaitan jaringan Salim dengan sektor energi Singapura juga terlihat dari proyek energi surya lintas negara. PacificLight Renewables bersama Medco Power Indonesia dan Gallant Venture, perusahaan dari Salim Group, pernah memperoleh persetujuan bersyarat dari Energy Market Authority (EMA) Singapura untuk proyek impor listrik tenaga surya berkapasitas 600 MW dari Pulau Bulan, Kepulauan Riau.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: MBMA dan AMRT Meroket, ICBP Anjlok
Prajogo Pangestu Ambil Alih Aset Shell
Jika Tanoto menggunakan Singapura sebagai basis bisnis global dan jaringan Salim masuk melalui sektor listrik, Chandra Asri Group membawa ekspansi ke sektor energi dan petrokimia dalam skala besar.
Pada 2 April 2025, Chandra Asri Group bersama Glencore merampungkan akuisisi kepemilikan Shell Singapore Pte. Ltd. di Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura.
Transaksi tersebut dilakukan melalui CAPGC Pte. Ltd., perusahaan patungan antara Chandra Asri Capital Pte. Ltd. dan Glencore Asian Holdings Pte. Ltd. Chandra Asri menjadi pemegang saham mayoritas, sedangkan Glencore merupakan mitra minoritas. Setelah akuisisi, aset tersebut berganti nama menjadi Aster Energy and Chemicals Park.
Aset yang diambil alih bukan sekadar fasilitas pengolahan minyak biasa. Aster memiliki kawasan energi dan kimia dengan luas lebih dari 60 hektare, termasuk kilang dengan kapasitas pengolahan 237.000 barel minyak mentah per hari serta ethylene cracker berkapasitas 1,1 juta ton per tahun.
Selain itu, kawasan tersebut dilengkapi berbagai aset kimia hilir yang memperkuat posisi Chandra Asri dalam rantai pasok energi dan petrokimia regional.
Ekspansi Chandra Asri di Singapura tidak berhenti pada aset Shell. Pada 24 Oktober 2025, Chandra Asri mengumumkan penandatanganan perjanjian jual beli untuk mengakuisisi jaringan SPBU ritel bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura.
Akuisisi tersebut dilakukan melalui special purpose vehicle di bawah anak usaha Chandra Asri yang dimiliki sepenuhnya.
Dalam transaksi tersebut, Chandra Asri tetap menggunakan merek Esso dan melanjutkan pembelian bahan bakar bermerek dari ExxonMobil. Dengan demikian, perpindahan kepemilikan jaringan SPBU tidak berarti ExxonMobil sepenuhnya meninggalkan bisnis bahan bakar di Singapura.
Langkah tersebut memperluas bisnis Chandra Asri dari sektor energi dan petrokimia ke jaringan ritel bahan bakar yang berhubungan langsung dengan konsumen.
Pada 21 Agustus 2026, Chandra Asri kembali mengumumkan ekspansi di Singapura dan Malaysia melalui penandatanganan Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi bisnis otomotif Cycle & Carriage dari Jardine Cycle & Carriage.
Baca juga : Soal Akuisisi BYAN, JARR Bantah Beri Pendanaan
Cycle & Carriage memiliki sejarah panjang di Asia Tenggara sejak 1899 dan menjalankan bisnis distribusi serta ritel berbagai merek otomotif global di Singapura dan Malaysia.
Bagi Chandra Asri, transaksi tersebut menjadi bagian dari strategi membangun platform regional di bidang energi, infrastruktur, dan mobilitas.
Namun, transaksi ini belum sepenuhnya selesai. Chandra Asri menyatakan penyelesaian akuisisi masih bergantung pada persetujuan dari produsen otomotif dan pemenuhan sejumlah persyaratan lainnya.
Jika transaksi tersebut rampung, portofolio Chandra Asri di Singapura akan semakin beragam. Perusahaan tidak hanya memiliki eksposur pada kilang dan petrokimia, tetapi juga jaringan SPBU serta bisnis mobilitas dan otomotif.
Singapura, negaranya memang kecil secara geografis. Namun, bagi sejumlah konglomerat Indonesia, Singapura menjadi salah satu lokasi penting untuk membangun dan mengendalikan bisnis yang menyasar pasar Asia Tenggara dan global.
