Komet Halley Ternyata Ditemukan Abad 11 oleh Biarawan
- Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Halley bukanlah orang pertama yang menemukan siklus sekitar 75 tahun komet tersebut.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID- Komet Halley yang terkenal dinamai menurut nama astronom Inggris Edmond Halley. Tokoh yang menyusun orbit batuan luar angkasa tersebut pada tahun 1705 melalui kombinasi pengamatannya sendiri dan catatan sejarah dari pengamat lain.
Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa Halley bukanlah orang pertama yang menemukan siklus sekitar 75 tahun komet tersebut. Biarawan Inggris Eilmer (juga dikenal sebagai Aethelmaer) dari Malmesbury mungkin telah menghubungkan dua pengamatan komet tersebut lebih dari 600 tahun sebelumnya.
Eilmer mungkin paling dikenal karena konon merupakan orang pertama di Inggris yang mencoba penerbangan. Setelah tumbuh besar dengan membaca mitologi Yunani, Eilmer terpesona dengan kisah Daedalus. Sosok mitologi yang putranya, Icarus, terbang terlalu dekat dengan matahari. Pada akhir tahun 990-an atau awal tahun 1000-an, Eilmer dilaporkan membuat sepasang sayap, memasangnya di tangannya, dan melompat dari menara.
Menurut sejarawan abad ke-12, William of Malmesbury, biarawan itu meluncur sekitar 660 kaki (200 meter) sebelum hembusan angin mengganggu penurunan dan ia jatuh ke tanah, menyebabkan kedua kakinya patah.
Selain ketertarikannya pada penerbangan, Eilmer juga memiliki minat yang besar pada astrologi dan astronomi. Sebagai seorang anak laki-laki pada tahun 989, ia menyaksikan sebuah komet melintas di langit di atas rumahnya di Inggris, tulis William dari Malmesbury.
Melihat Dua Kali
Beberapa dekade kemudian, pada tahun 1066, ia melihat komet itu untuk kedua kalinya. Dia kemudian menghubungkan kedua peristiwa tersebut. Demikian argumen Simon Portegies Zwart , seorang astronom di Universitas Leiden di Belanda, dalam sebuah buku baru.
- Baca juga: Diduga Pecahan Komet Helly, Batu Meteor Berusia 5 Miliar Tahun Hantam Rumah di New Jersey
Portegies Zwart menulis bahwa menurut catatan William dari Malmesbury, setelah melihat komet pada tahun 1066, Eilmer berseru, "Kau telah datang, ya?. Sudah lama sejak aku melihatmu; tetapi seperti yang kulihat sekarang, kau jauh lebih mengerikan, karena kulihat kau mengibaskan kehancuran tanah airku."
Pada saat itu, Inggris berada di tengah krisis suksesi setelah kematian Raja Edward sang Pengaku Iman yang tidak meninggalkan pewaris takhta yang jelas. Jika catatan William akurat, maka Eilmer menyadari bahwa dua "bintang berkilauan" yang disaksikannya memang sama. Bagaimanapun, jelas bahwa William sendiri menyadari hubungannya.
Komet Halley adalah komet pertama yang diakui oleh para astronom sebagai komet periodik, atau berulang. Komet ini memiliki orbit yang sangat elips mengelilingi matahari. Orbit yang memanjang ini menyebabkan komet tersebut melewati Bumi setiap 72 hingga 80 tahun, meninggalkan jejak debu yang terang di belakangnya.
Catatan paling awal yang mungkin tentang komet Halley berasal dari kronik Tiongkok pada tahun 239 SM. Sejak itu, komet ini telah dicatat puluhan kali oleh para astronom di seluruh dunia, sering kali ditafsirkan sebagai semacam pertanda. Sejarawan Romawi-Yahudi Flavius Josephus, misalnya, percaya bahwa pengamatannya terhadap komet pada tahun 66 M menandai jatuhnya Yerusalem.
Peristiwa lewatnya komet ini juga diabadikan dalam Permadani Bayeux , yang mencatat invasi William Sang Penakluk ke Inggris pada tahun 1066 setelah komet tersebut terlihat melintas di atas Brittany dan Kepulauan Inggris pada bulan April tahun itu.
Halley, sang astronom, menghubungkan kemunculan komet pada tahun 1531, 1607, dan 1682. Dia kemudian memprediksi kemunculannya kembali pada tahun 1758. Halley meninggal pada tahun 1742 sebelum ia dapat melihat ramalannya terwujud, tetapi ia terbukti benar ketika komet tersebut memang kembali seperti yang diharapkan.
Perhitungan Halley sangat mengesankan, tetapi Portegies Zwart berpendapat bahwa Eilmer pantas mendapatkan penghargaan karena telah menyusun penampakan komet tersebut berabad-abad sebelumnya. Ia dan Michael Lewis dari British Museum, menerbitkan sebuah bab yang membahas hal ini dalam buku " Dorestad and Everything After: Ports, Townscapes and Travelers in Europe, 800-1100 "

Amirudin Zuhri
Editor
