Tren Inspirasi

Kisah Rosidah, Pengusaha Gula Merah Sumenep yang Naik Kelas Berkat KUR BRI

  • Rosidah kembangkan usaha gula merah khas Madura sejak 2006. Berkat pembiayaan KUR BRI, produksinya meningkat, perluas pasar, hingga buka lapangan kerja bagi warga di Kabupaten Sumenep.
WhatsApp Image 2026-07-29 at 18.42.05.jpeg
Rosidah mulai mengembangkan usaha gula merah sejak 2006 dengan memanfaatkan nira pohon siwalan atau lontar yang menjadi salah satu komoditas khas Pulau Madura. (BRI)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Di sebuah dapur sederhana di Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep, Madura, aroma khas gula merah dari nira siwalan masih mengepul setiap hari. 

Di tempat itulah Rosidah (50) menghabiskan hampir dua dekade terakhir membangun usaha gula merah yang kini berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi keluarga sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Perjalanan Rosidah menggambarkan tantangan yang masih dihadapi banyak pelaku usaha mikro di Indonesia: keterbatasan modal, peralatan produksi yang sederhana, hingga akses pasar yang belum luas. 

Namun, melalui kombinasi ketekunan, inovasi, dan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, usaha rumahan tersebut mampu berkembang secara bertahap.

Rosidah mulai mengembangkan usaha gula merah sejak 2006 dengan memanfaatkan nira pohon siwalan atau lontar yang menjadi salah satu komoditas khas Pulau Madura.

"Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, kualitas gula merah buatan saya mulai dilirik konsumen. Permintaan mulai berdatangan," ujar Rosidah.

Pada masa awal merintis usaha, seluruh proses produksi masih dilakukan secara tradisional dengan kapasitas terbatas. Modal yang minim membuatnya sulit memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Titik balik usaha terjadi pada 2016 ketika Rosidah memutuskan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Pragaan.

"Saya sudah lama jadi nasabah BRI, tapi baru tahun 2016 itu memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR. Prosesnya cepat dan tim dari BRI sangat responsif. Saya memilih KUR ini karena selain bunganya rendah juga tidak ada agunan. Jadi cocok untuk usaha kecil seperti saya," katanya.

Modal tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat stok bahan baku sekaligus meningkatkan kapasitas produksi. Setelah pinjaman pertama lunas, Rosidah kembali memperoleh fasilitas KUR senilai Rp50 juta. Seiring perkembangan usaha, BRI kembali menambah plafon pembiayaan pada 2024.

Menurut Rosidah, tambahan modal tersebut memungkinkan usahanya memenuhi permintaan pasar yang semakin besar. "KUR BRI ini sangat bermanfaat bagi kami. Khususnya untuk penyediaan bahan baku, peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan," ujarnya.

Produksi Naik Lebih dari Dua Kali Lipat

Dampak pembiayaan tersebut terlihat pada peningkatan kapasitas produksi. Sebelum memperoleh KUR, Rosidah hanya mampu memproduksi sekitar 200 kilogram gula merah setiap hari. Kini kapasitas produksinya meningkat menjadi sekitar 500 kilogram per hari atau naik sekitar 150%.

Pertumbuhan usaha tersebut juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Jika sebelumnya seluruh proses produksi dikerjakan sendiri, kini Rosidah mempekerjakan enam orang warga sekitar.

"Alhamdulillah kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada enam orang," tuturnya.

Produk gula merah buatannya kini dipasarkan ke berbagai wilayah di Madura, seperti Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Sistem pemasarannya pun berkembang dari penjualan langsung menjadi pemesanan rutin oleh para pedagang melalui telepon.

Keberhasilan usaha tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga memungkinkan kedua anak Rosidah merintis usaha sendiri di Surabaya.

Industri Gula Aren dan Siwalan Masih Punya Potensi Besar

Usaha Rosidah berkembang di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pemanis alami. Gula merah dari nira aren maupun siwalan dinilai memiliki nilai ekonomi yang terus meningkat karena banyak digunakan sebagai bahan baku industri makanan, minuman, hingga produk kuliner tradisional.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan salah satu produsen gula palma terbesar di dunia dengan potensi bahan baku yang tersebar di berbagai daerah. 

Selain memenuhi kebutuhan domestik, gula palma Indonesia juga memiliki peluang ekspor seiring meningkatnya permintaan terhadap produk pangan alami dan rendah proses (natural sweetener) di pasar global.

Di Madura, pohon siwalan tidak hanya menghasilkan gula merah, tetapi juga menjadi sumber pendapatan masyarakat melalui berbagai produk turunan seperti legen, buah siwalan, hingga kerajinan berbahan daun lontar.

Akses Pembiayaan Dinilai Krusial bagi UMKM

Kisah Rosidah juga mencerminkan pentingnya akses pembiayaan bagi UMKM. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sektor UMKM menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional.

Namun, keterbatasan akses modal masih menjadi salah satu tantangan utama pelaku usaha mikro untuk meningkatkan skala bisnis.

Pemerintah menjadikan KUR sebagai salah satu instrumen untuk memperluas akses pembiayaan dengan bunga bersubsidi kepada pelaku UMKM yang layak tetapi belum memiliki agunan memadai.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI terus memperluas penyaluran KUR guna mendorong produktivitas pelaku usaha di berbagai daerah. Hingga Juni 2026, realisasi penyaluran KUR BRI mencapai Rp103,81 triliun atau sekitar 54,63% dari kuota tahun ini sebesar Rp190 triliun. 

Sebanyak 75,02% dari total pembiayaan tersebut disalurkan ke sektor-sektor produktif yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

"Kisah Rosidah membesarkan usaha gula merah di Sumenep menjadi contoh bagaimana akses pembiayaan mampu membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas usahanya. Kami berharap kisah ini dapat menginspirasi pelaku UMKM lainnya untuk terus berkembang melalui pemanfaatan akses pembiayaan yang produktif," ujar Akhmad.

Menurutnya, penguatan akses pembiayaan akan terus menjadi bagian dari strategi BRI dalam mendorong pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.