Kisah Mia Krisna Pratiwi Ubah Sampah Jadi Kekuatan Ekonomi
- Lewat Griya Luhu, Mia Krisna Pratiwi membangun sistem bank sampah yang mengelola ratusan ton sampah dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Saat persoalan sampah kian mendesak di Indonesia, khususnya di daerah wisata seperti Bali, nama Ni Putu Oka Mia Krisna Pratiwi muncul sebagai salah satu sosok muda yang konsisten menghadirkan solusi berbasis komunitas.
Berbekal latar belakang sebagai insinyur lingkungan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), Mia kini dikenal sebagai Ketua organisasi nirlaba Griya Luhu, komunitas pengelola sampah berkelanjutan yang berbasis di Gianyar, Bali.
Perempuan kelahiran Gianyar, 19 Juni 1996 ini menempatkan isu lingkungan bukan sekadar sebagai persoalan teknis, melainkan tantangan sosial dan ekonomi yang harus diselesaikan bersama masyarakat.
Ketertarikan Mia pada isu pengelolaan sampah sudah tumbuh sejak masa kuliah. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik (S.T.) Teknik Lingkungan di ITB dengan fokus skripsi pada perancangan ulang fasilitas daur ulang sampah plastik di Jembrana, Bali, sebuah riset yang kelak menjadi fondasi aktivismenya.
Pada Februari 2019, Mia bergabung dengan Griya Luhu sebagai sukarelawan. Organisasi ini bergerak dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dengan pendekatan ekonomi sirkular dan pemberdayaan warga. Berkat dedikasi dan kompetensinya, Mia dipercaya menjadi Ketua Griya Luhu pada 2021.
Baca juga : Kampoong Ecopreneur, Dari Wakaf Jadi Usaha Hijau
Bank Sampah dan Inovasi Digital
Di bawah kepemimpinannya, Griya Luhu mengembangkan berbagai program strategis. Salah satu yang paling menonjol adalah sistem bank sampah berbasis komunitas melalui program “Mengolah Sampah Jadi Rupiah”. Program ini mendorong warga memilah sampah dari rumah, yang kemudian ditabung dan dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Tak berhenti di situ, pada tahun 2020, Mia turut menginisiasi aplikasi bank sampah digital. Inovasi ini mempermudah proses pencatatan, penjadwalan pengambilan sampah, hingga transparansi data antara pengelola dan masyarakat.
“Digitalisasi menjadi kunci agar pengelolaan sampah bisa berjalan efisien, terukur, dan berkelanjutan,” menjadi prinsip yang terus ia dorong dalam setiap program.
Selain pengelolaan teknis, Mia aktif melakukan edukasi lingkungan di sekolah, desa adat, hingga kawasan wisata. Kampanye pengurangan sampah plastik sekali pakai menjadi agenda rutin Griya Luhu, sejalan dengan upaya mendorong kebijakan publik yang lebih berpihak pada lingkungan.
Baca juga : Kampoong Ecopreneur, Dari Wakaf Jadi Usaha Hijau
Pendekatan yang ia lakukan menekankan perubahan perilaku, bukan sekadar penanganan akhir sampah.
Program-program Griya Luhu di bawah kepemimpinan Mia Krisna Pratiwi telah mencatatkan dampak signifikan dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Hingga kini, organisasi tersebut mampu mengelola lebih dari 100 ton sampah per tahun di Provinsi Bali, sekaligus melayani lebih dari 12.000 pelanggan yang terlibat aktif dalam sistem pemilahan dan pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Selain itu, Griya Luhu mengoperasikan lebih dari 100 unit bank sampah yang tersebar di lima provinsi, serta menjalin kolaborasi dengan lebih dari 20 mitra strategis, mulai dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, hingga komunitas lokal.
Capaian tersebut menempatkan Griya Luhu sebagai salah satu model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang semakin diperhitungkan secara nasional, khususnya dalam mendorong praktik ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Baca juga : Kampoong Ecopreneur, Dari Wakaf Jadi Usaha Hijau
Pengakuan Internasional
Dedikasi Mia mendapat pengakuan luas. Pada 2021, ia terpilih sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia dalam daftar BBC 100 Women, yang menyoroti peran perempuan inspiratif dunia. BBC menilai pendekatan Mia sebagai upaya inovatif dalam “mereset” cara pandang sosial terhadap tantangan lingkungan pascapandemi.
Pada tahun yang sama, ia juga diangkat sebagai “jagoan lingkungan” dalam serial “Jagoan 2021” yang ditayangkan RTV.
Bagi Mia Krisna Pratiwi, pengelolaan sampah bukan semata soal kebersihan, tetapi tentang keadilan lingkungan, kemandirian ekonomi, dan masa depan generasi berikutnya. Dari Bali, ia membuktikan bahwa solusi lokal berbasis komunitas mampu menjawab persoalan global.
Dengan kombinasi keilmuan teknik, inovasi digital, dan pendekatan sosial, Mia terus mendorong perubahan—dimulai dari sampah rumah tangga, untuk dampak yang jauh lebih besar.

Muhammad Imam Hatami
Editor
