Tren Ekbis

Kinerja Investasi Melonjak, PALM Bagikan Dividen Rp50 Miliar

  • PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) membagikan dividen Rp50 miliar usai mencatat laba bersih Rp1,85 triliun pada 2025, naik 193% dibanding tahun sebelumnya.
WhatsApp Image 2026-06-17 at 17.02.56.jpeg

JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) memutuskan untuk membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp50 miliar atau setara 2,97% dari laba bersih perseroan. Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 di tengah strategi perusahaan yang tetap berfokus pada ekspansi portofolio dan pertumbuhan investasi jangka panjang.

Sepanjang tahun 2025, PALM mencatatkan kinerja keuangan yang signifikan dengan laba bersih mencapai Rp1,85 triliun atau meningkat 193% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan tersebut didukung oleh keuntungan neto investasi saham dan efek ekuitas yang mencapai Rp2,23 triliun. Sementara itu, total aset perseroan turut meningkat 17% menjadi Rp9,19 triliun.

Direktur Utama PALM Tri Boewono mengatakan pembagian dividen tersebut mencerminkan keberhasilan strategi investasi yang dijalankan perusahaan.

Baca juga : Penutupan LQ45 Hari Ini: ESSA dan HRTA Top Gainers

“Pembagian dividen untuk tahun buku 2025 yang diputuskan RUPST hari ini menjadi salah satu bukti kinerja tim investasi kami yang sangat baik. Kami akan terus mendorong kapasitas dan kualitas SDM PALM untuk memastikan bahwa setiap investasi yang dilakukan Perusahaan mampu tumbuh positif secara berkelanjutan,” kata Tri dalam RUPS yang di gelar di Jakarta, Senin, 17 Juni 2026.

Meski membagikan dividen, PALM masih berada dalam fase ekspansi portofolio aktif. Oleh karena itu, sebagian besar laba ditahan untuk memperkuat kapasitas investasi perusahaan.

PALM saat ini memfokuskan investasi pada tiga sektor utama, yakni sumber daya alam, teknologi, media dan telekomunikasi (TMT), serta logistik yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Tiga sektor tersebut memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang sangat baik dan menjadi katalis utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami berharap setiap investasi PALM juga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tri.

Kinerja positif perusahaan berlanjut pada kuartal I/2026. PALM membukukan laba periode berjalan sebesar Rp2,32 triliun atau tumbuh 263,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 Keuntungan neto investasi saham dan efek ekuitas juga meningkat 287,2% menjadi Rp2,44 triliun, sedangkan total aset naik 25,6% menjadi Rp11,55 triliun.

Direktur PALM Ellen Kartika menyebut capaian tersebut menjadi bukti bahwa strategi investasi aktif yang diterapkan perusahaan memberikan hasil yang berkelanjutan.

Baca juga : IHSG 17 Juni 2026 Ditutup Melemah 0,55 Persen

“Kinerja 2025 dan kuartal I/2026 membuktikan bahwa strategi investasi aktif yang kami jalankan memberikan hasil yang konsisten. Kami membangun portofolio di sektor-sektor dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang,” ujar Ellen.

Salah satu faktor pendorong kinerja perseroan adalah keberhasilan divestasi saham MMLP melalui PT Suwarna Arta Mandiri pada September 2025. Langkah tersebut menghasilkan keuntungan signifikan dari selisih harga beli dan harga jual, sekaligus membantu mempercepat pembayaran utang dan restrukturisasi portofolio investasi.

Selain itu, PALM juga memiliki investasi strategis di sektor pertambangan melalui kepemilikan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

Berdasarkan data per 31 Maret 2026, PALM menguasai 1,34 miliar saham MDKA dengan nilai wajar investasi mencapai Rp4,20 triliun. Investasi tersebut diperoleh dengan harga rata-rata Rp512,53 per saham, sementara nilai pasar saat ini mencapai sekitar Rp3.140 per saham. Dengan demikian, nilai investasi PALM pada MDKA meningkat sekitar 512,65% atau lebih dari lima kali lipat dari modal awal.

Baca juga : Dividen BSSR Rp486 per Saham, Catat Jadwal Cum Date dan Risikonya

Menurut Ellen, investasi pada aset dengan karakteristik defensif menjadi semakin menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama yang memiliki fundamental bisnis yang kuat.

“Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, aset dengan karakteristik defensif dan memiliki fundamental kuat menjadi semakin menarik. MDKA merupakan salah satu contoh investasi yang kami nilai memiliki posisi strategis karena didukung eksposur terhadap komoditas emas yang saat ini menunjukkan tren positif,” tutur Ellen.