Kenapa Asing Serok BBRI Rp640 Miliar Jelang Lapor Lapkeu?
- Aliran modal asing masuk saham BBRI sebesar Rp640 miliar menjelang rilis laporan keuangan resmi. Target harga saham perseroan dipatok pada level Rp5.200.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham perbankan pelat merah raksasa PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tiba-tiba menjadi magnet utama di lantai Bursa. Menjelang pengumuman rilis laporan keuangan tahun buku 2025, investor asing agresif melakukan aksi borong saham secara masif.
Pada penutupan sesi perdagangan Rabu, 25 Februari 2026 kemarin, aliran modal para investor asing terpantau deras mengakumulasi saham perbankan pelat merah tersebut. Total nilai pembelian bersih dari barisan pemodal asing ini sukses mencapai angka fantastis sebesar Rp640 miliar.
Geliat akumulasi dana asing tersebut membawa dampak positif bagi fundamental harga saham perseroan di pasar reguler. Sepanjang perdagangan sesi hari Rabu, saham emiten bank spesialis rakyat kecil ini berhasil ditutup menguat menembus batas level harga Rp3.970 per lembarnya.
1. Manuver Sekuritas Raksasa Asing
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, akumulasi dana asing ini ternyata sudah berlangsung konsisten selama sepekan terakhir. Dalam rentang waktu tujuh hari perdagangan bursa, emiten perbankan ini sukses menghimpun total nilai pembelian asing bersih mencapai nominal sebesar Rp1,57 triliun.
Lompatan persentase penguatan saham juga mulai mencatatkan rekor baru yang sangat menggembirakan bagi seluruh pemegang saham. Secara akumulatif atau perhitungan Year to Date/YTD, saham emiten perbankan pelat merah ini telah sukses menguat tajam 9,07% sejak awal pembukaan tahun berjalan.
Berdasarkan penelusuran data ringkasan broker dari platform Stockbit Sekuritas pada hari Rabu, terdapat tiga pialang raksasa yang aktif memborong. Macquarie Sekuritas memimpin barisan dengan borongan Rp197,1 miliar, langsung disusul Maybank Sekuritas Rp151,8 miliar, serta broker UBS Sekuritas mencapai Rp122,5 miliar.
2. Proyeksi Kinerja dan Target Harga
BBRI sendiri dijadwalkan akan mengumumkan rilis kinerja keuangan pada Kamis, 26 Februari 2026. Para pelaku pasar terlihat sangat antusias menantikan pembuktian kinerja fundamental perseroan di tengah derasnya tekanan dinamika perekonomian global.
Berdasarkankonsensus analis Bloomberg, laba bersih perseroan diproyeksikan sedikit tertekan menuju angka Rp56,25 triliun. Secara tahunan atau Year on Year/YoY, estimasi tersebut mencerminkan potensi penurunan sebesar 6,49% dibandingkan pencapaian fantastis sebesar Rp60,15 triliun pada tahun 2024.
Analis Sucor Sekuritas, Arief Putra, tetap merekomendasikan beli saham emiten perbankan pelat merah ini dengan mematok target harga tinggi mencapai level Rp5.200 per lembarnya. Koreksi harga pasar belakangan dinilai lebih mencerminkan sentimen sesaat jangka pendek dibandingkan indikasi pelemahan kinerja struktural.
3. Mesin Penyaluran Kredit Rakyat
Info saja, kata analis yang dihimpun Bloomberg, mesin BBRI penyaluran masih berfungsi sangat optimal di tengah ketidakpastian ekonomi global. Total penyaluran kredit segmentasi secara keseluruhan pada periode tahun 2025 diperkirakan akan mampu menembus batas pencapaian angka yang sangat fantastis hingga mencapai nominal Rp1.472,23 triliun.
Angka penyaluran fasilitas pinjaman masyarakat tersebut mencerminkan potensi kenaikan impresif sebesar 8,68% secara tahunan. Pencapaian luar biasa itu sukses melampaui jauh total rekam jejak penyaluran kredit pada kurun waktu tahun 2024 lalu yang nyatanya hanya menyentuh level angka Rp1.354,64 triliun.
Sebagai gambaran, bank spesialis rakyat kecil ini telah menyampaikan realisasi Kredit Usaha Rakyat/KUR sebesar Rp178,08 triliun. Kucuran dana segar puluhan triliun rupiah tersebut secara resmi telah disalurkan langsung kepada lebih dari 3,8 juta orang debitur UMKM hingga akhir bulan Desember 2025.
4. Fondasi Sektor Ketahanan Pangan
Direktur Micro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), Akhmad Purwakajaya, memberikan rincian penyaluran strategis tersebut. Beliau menyampaikan bahwa fasilitas kredit tersebut diutamakan bagi para pelaku usaha kecil yang berkontribusi menyerap tenaga kerja serta memperkuat program ketahanan pangan secara nasional.
Sektor produksi komoditas pokok nasional terbukti mendominasi penyerapan dana pinjaman program dari perbankan pelat merah ini. Sektor utama yang meliputi bidang pertanian, perikanan, industri pengolahan, serta ragam jasa lainnya tersebut berhasil menyerap porsi sangat masif sebesar 64,49% dari keseluruhan pendanaan.
Dukungan konsisten perusahaan sangat dibutuhkan untuk memastikan roda perekonomian rakyat kecil tetap mampu berputar kencang. "Perseroan terus berupaya mendorong pertumbuhan sektor UMKM agar tetap sehat dan berkelanjutan sebagai tulang punggung utama perekonomian nasional," kata Akhmad pada 1 Februari 2026.
5. Tantangan Kualitas Aset Keuangan
Dari segi penghimpunan pendanaan masyarakat secara luas, emiten pelat merah ini dinilai tetap memiliki fondasi yang cukup solid. Total raupan Dana Pihak Ketiga/DPK perseroan sepanjang tahun 2025 ini diproyeksikan akan sanggup menembus pencapaian luar biasa sebesar Rp1.494,3 triliun atau naik 9,44%.
Namun pada sisi lain, tingkat rentabilitas atau Return on Equity/ROE perseroan diperkirakan akan mengalami sedikit pelonggaran efisiensi. Rasio kemampuan mencetak tingkat keuntungan perusahaan tahun ini diproyeksikan turun ke posisi 17,63% dari catatan rekor 19,14% pada pencapaian gemilang periode sebelumnya.
Selain itu, tingkat margin keuntungan bunga bersih atau Net Interest Margin/NIM akan bergerak stabil pada kisaran level 7,72%. Risiko beban kredit macet atau Non Performing Loan/NPL diperkirakan turut meningkat 10,01% menjadi Rp41,47 triliun mengiringi tingginya ekspansi pembiayaan kredit yang sangat agresif.

Alvin Bagaskara
Editor
