Kenaikan Indeks Pangan Dunia Bisa Kerek Harga Kopi dan Mi Instan
- FAO mencatat indeks harga pangan dunia Maret 2026 naik 2,4% secara bulanan, level tertinggi sejak September 2025. Ini efeknya untuk kopi, roti hingga mi instan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kenaikan harga pangan global mulai terasa dampaknya di Indonesia. Laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization mencatat indeks harga pangan dunia pada Maret 2026 naik 2,4% secara bulanan menjadi 128,5 poin, level tertinggi sejak September 2025.
Kondisi ini bukan sekadar angka global, dampaknya langsung merembet ke makanan sehari-hari seperti mi instan, roti, cokelat, dan kopi yang selama ini menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z dan milenial.
Data Harga Pangan Global
- Indeks FAO: 128,5 poin
- Perubahan bulanan: +2,4%
- Perubahan tahunan: +1,0%
Data diatas menunjukan adanya tekanan harga pangan yang masih berlanjut secara global. Meski tidak setinggi masa krisis, tren ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Secara umum, kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa harga bahan baku makanan akan terus mengalami tekanan dalam jangka pendek. Negara importir seperti Indonesia menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena bergantung pada pasar global.
Baca juga : Realokasi APBN Rp130 T dan Dampak Langsungnya ke Kamu
Komoditas Paling Terdampak
Berdasarkan laporan FAO, terdapat beberapa komoditas harga pangan pokok yang terdampak kenaikan harga pangan global, diantaranya sebagai berikut,
- Gula: +7,2%
- Minyak nabati: +5,1%
- Gandum: +4,3%
- Daging: +1,0%
- Susu: +1,2%
Lonjakan tertinggi terjadi pada gula dan minyak nabati yang sangat dipengaruhi oleh faktor energi dan kebijakan global. Sementara itu, gandum menjadi sorotan karena merupakan bahan baku utama banyak makanan olahan.
Meski beras mengalami penurunan harga, dampaknya tidak cukup kuat untuk menahan kenaikan komoditas lain. Hal ini membuat tekanan harga tetap terasa secara keseluruhan di sektor pangan.
Penyebab Kenaikan Harga Pangan
- Pelemahan rupiah terhadap dolar AS
- Gangguan rantai pasok global
- Cuaca ekstrem seperti El Nino
di Indonesia sendiri, kenaikan harga pangan disebabkan beberapa aspek tambahan, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat biaya impor menjadi lebih mahal, terutama untuk komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS. Akibatnya, harga bahan baku yang masuk ke Indonesia ikut meningkat.
Di sisi lain, gangguan pasokan akibat konflik seperti Perang Rusia-Ukraina serta cuaca ekstrem memperparah kondisi. Produksi terganggu, distribusi tersendat, dan harga pun terdorong naik secara global.
Dampak Langsung ke Masyarakat
- Harga makanan naik
- Uang jajan lebih cepat habis
- Konsumsi non-prioritas berkurang
Kenaikan harga pangan akan langsung terasa di pengeluaran harian. Dengan uang yang sama, masyarakat mendapatkan porsi yang lebih sedikit, sehingga daya beli secara riil menurun.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengubah pola konsumsi. Masyarakat akan lebih selektif dalam belanja, mengurangi konsumsi gaya hidup seperti kopi kekinian atau camilan, dan fokus pada kebutuhan utama.
Baca juga : Dampak Ekonomi Saat QRIS Dipakai di Banyak Negara
Daftar makanan yang terkana dampak
- Mi instan
- Roti dan kue
- Cokelat
- Kopi
- produk olahan daging
Produk-produk ini terdampak karena sangat bergantung pada bahan baku impor seperti gandum, kakao, dan kopi. Ketika harga global naik, produsen di dalam negeri tidak punya banyak pilihan selain menyesuaikan harga.
Selain kenaikan harga, dampak lain yang mulai muncul adalah fenomena shrinkflation, yaitu ukuran produk yang mengecil tanpa penurunan harga. Ini membuat konsumen sebenarnya membayar lebih mahal tanpa disadari.
Solusi: Dorong Pangan Lokal
Pemerintah mendorong diversifikasi pangan terutama ke produk pangan lokal seperti singkong, sorgum, sagu, untuk mengurangi ketergantungan pada impor, terutama gandum. Langkah ini penting untuk menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang.
Namun, tantangan terbesar adalah perubahan kebiasaan konsumsi. Produk berbasis gandum sudah sangat melekat di kehidupan masyarakat, sehingga transisi ke pangan lokal membutuhkan waktu dan strategi yang tepat.
Kenaikan harga pangan global sebesar 2,4% menjadi sinyal tekanan ekonomi yang nyata. Dampaknya tidak hanya dirasakan di level global, tetapi langsung menyentuh konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia.
Jika tren ini berlanjut, maka harga makanan populer akan terus naik dan daya beli masyarakat semakin tertekan. Adaptasi konsumsi dan kebijakan pangan menjadi kunci untuk menghadapi situasi ini.

Chrisna Chanis Cara
Editor
