Industri

Kemenperin Dukung Chandra Asri Bangun Kompleks Kedua Petrokimia Senilai Rp71 Triliun

  • Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung perusahaan industri petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dalam pembangunan proyek kompleks petrokimia yang kedua.
Pabrik petrokimia milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.
Pabrik petrokimia milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (Chandra-asri.com)

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung perusahaan industri petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dalam pembangunan proyek kompleks petrokimia yang kedua.

Menurut Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (Dirjen IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam, pembangunan proyek kompleks petrokimia yang kedua tersebut memiliki nilai investasi mencapai US$5 miliar atau sekira Rp71 triliun.

“Chandra Asri selama ini memproduksi bahan baku plastik yang dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk hilir oleh sektor industri lainnya, seperti produk kemasan, pipa, otomotif, hingga elektronik,” katanya dalam keterangan resmi seperti yang dikutip, Selasa, 14 Desember 2021. 

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Muhammad Khayam ketika mendampingi kunjungan kerja spesifik Ketua Komisi VII DPR bersama jajarannya ke pabrik PT Chandra Asri Petrochemical (PT CAP) di Cilegon, Banten, beberapa waktu lalu.

Pembangunan kompleks petrokimia kedua Chandra Asri atau CAP2 merupakan upaya dalam memenuhi permintaan produk petrokimia dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Kompleks tersebut nantinya akan terintegrasi sepenuhnya dengan pabrik sebelumnya yang telah ada di Cilegon dan akan terdiri atas Naphtha Cracker, Butadiene, High Density Polyethylene (HDPE), dan Polypropylene (PP).

Selanjutnya, Aromatic (Benzene, Toluene, dan Mixed Xylenes), serta Low Density Polyethylene (LDPE) yang juga akan menjadi pabrik LDPE pertama di Indonesia.

“Melalui anak perusahaan PT CAP, yaitu PT Chandra Asri Perkasa, pembangunan kompleks CAP2 nantinya akan menambah kapasitas total produksi dari 4,2 juta ton menjadi lebih dari 8 juta ton per tahun,” ujar Muhammad Khayam.

Pembangunan kompleks CAP2 diharapkan dapat menjadi stimulus bagi industri petrokimia hilir lokal, mengurangi beban impor, mendukung penciptaan lapangan kerja, serta mengakselerasi penerapan Industri 4.0 di Indonesia.

Pembangunan CAP2 saat ini berada dalam tahap Front-End Engineering Design (FEED) yang merupakan Stage 3 dalam proses tersebut. 

Pada November 2021, PT CAP telah menunjuk empat kontraktor yaitu Toyo Engineering Corporation, Samsung Engineering Co., Ltd., Wood, dan PT Haskoning Indonesia untuk mengerjakan FEED bagi kompleks CAP2. Kerja sama tersebut melibatkan empat kontraktor dari Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand. 

FEED merupakan tahapan kunci untuk perencanaan rinci proyek CAP2 dan akan diikuti dengan proses seleksi untuk para kontraktor teknis, pengadaan, dan konstruksi (Engineering, Procurement, and Construction atau EPC).

Final Investment Decision (FID) akan diambil oleh para pemegang saham setelah seleksi EPC selesai. PT CAP menargetkan untuk mengambil FID pada 2022 dan operasional CAP2 akan dimulai pada 2026.