Industri

Kalah dari Malaysia dan Thailand, Penetrasi Asuransi Jiwa di Indonesia Rendah

  • Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menyatakan, penetrasi industri ini di masyarakat masih rendah.

<p>Pekerja membersihkan logo beberapa perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Rabu 10 Juni 2020. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2020 nilai aset asuransi jiwa mengalami penurunan secara tahun berjalan maupun secara tahunan sedangkan asuransi umum justru tumbuh, industri asuransi jiwa mencatatkan total aset Rp 529,2 trilun atau menurun 10,4 % (ytd) dari Desember 2019 senilai Rp 590,7 triliun. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Pekerja membersihkan logo beberapa perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Rabu 10 Juni 2020. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2020 nilai aset asuransi jiwa mengalami penurunan secara tahun berjalan maupun secara tahunan sedangkan asuransi umum justru tumbuh, industri asuransi jiwa mencatatkan total aset Rp 529,2 trilun atau menurun 10,4 % (ytd) dari Desember 2019 senilai Rp 590,7 triliun. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menyatakan, penetrasi industri ini di masyarakat masih rendah.

Oleh sebab itu, pandemi COVID-19 disikapi sebagai momentum memperlebar cakuban nasabah baik dari segi geografis maupun kelompok ekonomi.

“COVID-19 membawa dua masalah utama, yakni kesehatan dan perekonomian. Kombinasi keduanya membuat proteksi menjadi lebih dibutuhkan. Maka peluang industri asuransi jiwa (IAJ) masih sangat besar,” kata Budi dalam webinar Bisnis Indonesia, Selasa 6 Juli 2021.

Berdasarkan data AAJI, penetrasi IAJ terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya 1,2%. Dengan tingkat penetrasi terhadap jumlah penduduk hanya 6,5% pada 2020, turun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu 2017 (7,0%), 2018 dan 2019 (6,8%).

Data tersebut makin menyedihkan jika dibandingkan dengan negara tetangga yakni Malaysia dan Thailand. Sebagai sesame negara berkembang, Thailand dan Malaysia memiliki angka penetrasi IAJ yang jauh di atas Indonesia.

Apabila penetrasi IAJ terhadap PDB di Indonesia hanya 1,2% (2019), maka di Malaysia mencapai 3,20% dan Thailand 3,54%. Dari segi aset IAJ, Indonesia (US$40,75 juta), Malaysia (US$62,25 juta), dan Thailand (US$116,54 juta).

Sementara total investasi di IAJ di Indonesia (US$36,74 juta), Malaysia (US$49,90 juta), dan Thailand (US$111,08 juta).

Rendahnya penetrasi IAJ di Tanah Air tak lepas dari masih minimnya tingkat literasi keuangan. Pada 2019, Indeks Literasi Keuangan Nasional mencapai 38,03%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 76,19%.

Capaian di sektor asuransi mencatatkan angka yang lebih rendah dengan indeks literasi sebesar 19,40% dan indeks inklusi sebesar 13,15%. Sementara, Presiden Joko Widodo telah menetapkan target inklusi keuangan pada 2024 sebesar 90%.

“Perlu kerja keras dari berbagai pihak termasuk AAJI untuk lebih intensif dalam melakukan sosialisasi dan edukasi keuangan, termasuk tentang manfaat dari memiliki asuransi jiwa.” (RCS)