Tren Pasar

Kala Yang Lain Tertekan, BFI Finance Tetap Stabil, Simak Kinerjanya

  • Dengan coverage ratio tinggi dan gearing rendah, BFI Finance dinilai punya bantalan kuat menghadapi tekanan ekonomi 2026.
Kantor Pusat BFI Finance Serpong, Tangerang Selatan.JPG
Kantor Pusat BFI Finance. (dok. Perseroan)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Di saat banyak perusahaan multifinance berjuang menghadapi volatilitas pasar pada awal 2026, BFI Finance justru tampil dengan profil risiko yang relatif paling sehat di antara para pesaingnya. Menariknya, hal itu bukan dicapai lewat ekspansi agresif, melainkan melalui strategi yang lebih disiplin dan selektif.

Hal ini terlihat dari pembiayaan baru (new booking) yang berada di angka Rp5,5 triliun pada kuartal I 2026. Secara sekilas, angka tersebut memang tampak biasa saja karena tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan, namun justru di situlah poin pentingnya.

Di tengah tekanan global, mulai dari tensi geopolitik Timur Tengah hingga gejolak suku bunga, BFI Finance memilih untuk tidak memaksakan pertumbuhan. Fokus utama perusahaan adalah menjaga kualitas pembiayaan dan kesehatan neraca.

Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi, menegaskan strategi tersebut dalam keterbukaan informasi. “Kami optimistis dapat terus menjaga postur risiko yang sehat. Pendekatan selektif dan disiplin merupakan faktor dalam mengantisipasi volatilitas pasar serta menjaga fondasi keberlanjutan bisnis kami.” jelasnya dengan optimis kepada awak media, dikutip Kamis, 14 Mei 2026.

Baca juga : AMMN Diskon jadi 3700, Fundamental Moncer, Saatnya Masuk?

Strategi itu tercermin langsung pada kualitas kredit perusahaan. NPF bruto BFI Finance tercatat hanya 1,57%, jauh lebih rendah dibanding rata-rata industri multifinance yang mencapai 2,78% per Februari 2026. 

Dalam industri pembiayaan, selisih lebih dari 1 poin persentase seperti ini tergolong sangat signifikan karena menunjukkan tingkat kredit bermasalah yang jauh lebih terkendali.

Portofolio: Siapa yang Dibiayai?

Dari total managed receivablesatau total seluruh piutang pembiayaan yang masih berjalan dan dikelola BFIN per Maret 2026 Rp26,8 triliun, komposisinya sebagai berikut:

  • Modal kerja (berbagai skala usaha): 57,8% atau Rp15,5 triliun — segmen terbesar
  • Kendaraan roda empat (refinancing + pembelian): 68,1% dari portofolio total
  • Alat berat & mesin: 15,0%
  • Properti & lainnya: 8,9%
  • Kendaraan roda dua: 8,0%

Modal kerja mendominasi, artinya BFI Finance bukan sekadar leasing kendaraan, tapi sudah bergerak sebagai mitra pembiayaan usaha, dari UMKM hingga korporasi menengah.

Likuiditas & Rating: Fondasi yang Solid

Bukan hanya soal kualitas kredit melalui rasio Non-Performing Financing (NPF), BFI Finance juga menjaga kesehatan perusahaan dari sisi pendanaan dan struktur utang,

  • Pada Januari 2026, perseroan melunasi pokok dan bunga Obligasi Berkelanjutan V Tahap III Seri C tepat waktu.
  • Fitch Ratings Indonesia kembali menegaskan peringkat nasional jangka panjang BFI Finance di level 'AA-(idn)' dengan outlook Stabil, rating yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan bayar jangka panjang perusahaan.
  • Rasio gearing di 1,2 kali, jauh di bawah batas maksimum regulator, berarti ruang ekspansi masih sangat terbuka jika kondisi pasar membaik.

Baca juga : Valuasi IHSG Sudah Diskon Jadi 6723, Momentum Buy Sudah Tiba?

Kuartal I-2026 bukan kuartal yang mudah bagi industri jasa keuangan Indonesia. Tensi geopolitik di kawasan Teluk, potensi dampak kebijakan tarif global, dan konsumsi domestik yang masih tertekan menjadi tantangan nyata. 

Rata-rata NPF industri multifinance meningkat ke 2,78% sinyal bahwa tidak sedikit pemain yang mulai merasakan tekanan kualitas aset.

BFI Finance, dengan coverage ratio 2,71 kali NPF bruto-nya, punya bantalan yang jauh lebih tebal dibanding rata-rata pasar untuk menghadapi kemungkinan gagal bayar ke depan.

BFI Finance bukan yang tumbuh paling cepat di Q1-2026. Tapi mereka mungkin yang paling prudent dan dalam kondisi pasar yang tidak menentu seperti sekarang, itu justru nilai tambah yang nyata.

Pertanyaannya, apakah strategi konservatif ini cukup untuk mempertahankan kepercayaan investor dan nasabah jika kompetitor mulai tumbuh lebih agresif di kuartal berikutnya?