Jurus Stabilkan IHSG: Tunda Short Shelling dan Buyback Saham Tanpa RUPS
- BEI dan OJK menunda transaksi short selling serta mengkaji relaksasi buyback saham tanpa RUPS guna meredam volatilitas dan menopang IHSG di tengah tekanan jual investor.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah mitigasi untuk menahan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus tertekan sepanjang awal 2025.
Salah satu kebijakan utama yang tengah dikaji adalah penundaan transaksi short selling serta rencana buyback saham tanpa perlu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Langkah ini diharapkan dapat mengurangi volatilitas pasar dan mencegah tekanan jual lebih lanjut.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 3 Maret 2025, Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menegaskan bahwa kebijakan penundaan short selling diambil berdasarkan kondisi pasar yang masih belum stabil.
- Prakiraan Cuaca Besok dan Hari Ini 04 Maret 2025 untuk Wilayah DKI Jakarta
- Mikey Madison Menangkan Oscar 2025, Berapa Kekayaan Bersih Gen Z Itu?
- Daftar Promo Makanan dan Minuman Spesial Ramadan 2025
Meskipun tujuan awal dari kebijakan ini adalah meningkatkan likuiditas pasar, BEI dan OJK menilai bahwa penerapannya saat ini justru dapat memperburuk keadaan karena IHSG tengah dalam tekanan jual oleh investor.
"Jika melihat kondisi hari ini, memang belum ideal untuk penerapan short selling. Oleh karena itu, OJK memutuskan untuk menunda implementasi tersebut. Kami akan terus mengevaluasi perkembangan pasar," ujar Iman.
Selain itu, BEI dan OJK juga mengkaji opsi pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui RUPS. Skema ini bertujuan memberikan fleksibilitas lebih bagi emiten dalam menjaga harga sahamnya di tengah ketidakpastian pasar.
"Keputusan ini diharapkan dapat segera diambil karena kami harus memperhatikan pergerakan pasar setiap hari," kata Deputi Komisioner Pengawasan Pengelola Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Aditya Jayantara.
Aditya menyebut bahwa respons pelaku pasar terhadap rencana ini cukup positif. Namun, OJK belum dapat memastikan kapan relaksasi buyback saham tanpa RUPS ini akan direalisasikan.
"Kami tidak bisa memberikan target waktu, tetapi akan diupayakan sesegera mungkin. Responsnya cukup positif, meskipun masih ada beberapa masukan yang perlu dipertimbangkan dalam proses ini," tambahnya.
Sementara itu, CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Anindya Bakrie, menyambut baik kebijakan ini sebagai langkah positif dalam mendorong sentimen pasar dan memberikan manfaat bagi investor.
"Buyback ini merupakan langkah yang menarik dan dapat memberikan return kepada investor. Apalagi saat ini, banyak perusahaan di Indonesia, termasuk grup kami, yang sangat prospektif untuk dibeli," ujarnya dalam sesi wawancara di Bursa Efek Indonesia.
Sentimen Pasar Masih Lemah
Meskipun kebijakan ini diharapkan mampu menopang IHSG, investor asing tetap menunjukkan sikap hati-hati. Sepanjang dua bulan pertama 2025, investor asing telah mencatat net sell sebesar Rp21,89 triliun di pasar saham Indonesia.
Tekanan ini menyebabkan IHSG sempat turun ke level 6.270 pada 28 Februari 2025, posisi terendah dalam empat tahun terakhir. Namun, IHSG mengalami rebound sebesar 3,97% ke level 6.519,66 pada perdagangan Senin, 3 Maret 2025.
Selain itu, sejumlah analis menilai bahwa penguatan ini masih bersifat teknikal dan lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti pergerakan positif di pasar global serta penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kendati begitu, MNC Sekuritas dalam risetnya mangatakan posisi IHSG saat ini sedang berada di awal wave B dari wave (Y), sehingga pada perdagangan Selasa, 4 Maret 2025, IHSG diperkirakan berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji 6,639-6,882.
Namun, waspadai kemungkinan pembalikan arah untuk menguji kembali area support. Perusahaan dengan kode broker EP menyarankan investor untuk memperhatikan level support di 6.297 dan 6.203 serta resistance di 6.639 dan 6.698.

Chrisna Chanis Cara
Editor
