Jet Pribadi Naik Daun, Emisi dan Ketimpangan Membesar
- Permintaan jet pribadi melonjak seiring bertambahnya orang super kaya, namun dampaknya terhadap emisi dan keadilan iklim kian disorot.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Lonjakan permintaan terhadap perjalanan mewah, khususnya penggunaan jet pribadi, terus mencatatkan tren kenaikan signifikan dan kian menjadi sorotan di tengah krisis iklim dunia.
Berdasarkan data lembaga pemerhati penerbangan WingX, pada tahun 2025, jumlah penerbangan jet pribadi global mencapai sekitar 3,7 juta penerbangan, meningkat 5% dibanding 2024 dan melonjak 35% dibanding periode pra-pandemi, menurut data industri penerbangan.
Pertumbuhan ini berjalan seiring dengan melonjaknya jumlah ultra-high-net-worth individuals (UHNWI) atau individu super kaya dengan aset di atas US$30 juta.
Selama periode 2020 - 2025, jumlah kelompok ini meningkat lebih dari 70% secara global, memperkuat permintaan terhadap moda transportasi eksklusif, cepat, dan privat.
Melihat peluang tersebut, produsen pesawat dunia kini semakin fokus membidik pasar kalangan ultra-kaya dan korporasi global. Nama-nama besar seperti Gulfstream, Dassault, Bombardier, Embraer, hingga Textron Aviation bersaing ketat di segmen jet bisnis premium.
“Kami melihat adanya pergeseran besar penggunaan pesawat bisnis ke arah perusahaan-perusahaan besar dan individu dengan kekayaan tinggi,” ujar Scott Neal, Head of Worldwide Sales Gulfstream, dalam pernyataannya, dikutip Senin, 9 Februari 2025.
Asia menjadi wilayah pertumbuhan utama. Gulfstream mencatat peningkatan pengiriman pesawat ke berbagai negara, termasu Vietnam, Singapora, Indonesia, Malaysia, Australia, dan Selandia Baru
Sementara itu, Dassault Aviation melaporkan lonjakan permintaan di India, Thailand, dan Laos, seiring meningkatnya mobilitas bisnis lintas negara.
Menariknya, keterbatasan infrastruktur penerbangan di sejumlah negara justru memperkuat daya tarik jet pribadi. Di negara seperti Indonesia dan Filipina, banyak bandara memiliki landasan pacu pendek yang tidak dapat didarati pesawat komersial berbadan besar.
Dalam konteks ini, jet bisnis berukuran kecil hingga menengah dinilai lebih fleksibel karena mampu menjangkau wilayah terpencil, memangkas waktu transit, dan menghindari koneksi penerbangan yang panjang.
Kritik Lingkungan Kian Menguat
Di balik pertumbuhan industri, kritik keras datang dari kelompok pemerhati lingkungan. Jet pribadi disebut sebagai salah satu moda transportasi paling intensif karbon di dunia, terutama jika diukur berdasarkan emisi per penumpang.
Berbagai studi menunjukkan dampak yang mencolok. Studi Nature mencatat emisi jet pribadi global mencapai 15,6 juta ton CO₂ pada 2023, setara dengan emisi tahunan 67 juta penduduk Tanzania.
International Council on Clean Transportation (ICCT) memperkirakan emisi bahkan bisa mencapai 19,5 juta ton gas rumah kaca, melebihi total emisi seluruh penerbangan dari Bandara Heathrow London dalam setahun.
Dikutip data lembaga asal Belgia, European Federation for Transport and Environment, emisi jet pribadi mencapai 1.300 gram CO₂ per penumpang per kilometer, atau 10 kali lipat pesawat komersial.
Beberapa model jet bahkan dapat menghasilkan hingga 2 ton CO₂ per jam penerbangan, memperkuat label jet pribadi sebagai aktivitas paling intensif karbon yang bisa dilakukan seseorang.
Selain itu, diketahui bahwa hampir 900 ribu penerbangan jet pribadi dilakukan untuk jarak di bawah 50 kilometer. Sekitar 50% penerbangan berjarak kurang dari 500 kilometer.
Pola ini memicu kritik karena jet pribadi kerap digunakan layaknya “taksi udara”, meskipun tersedia alternatif transportasi yang jauh lebih rendah emisi.
Masalah jet pribadi tidak hanya soal emisi, tetapi juga ketimpangan sosial. Diperkirakan hanya sekitar 0,003% populasi dewasa global, sekitar 256 ribu orang yang rutin menggunakan jet pribadi.
Namun kelompok kecil ini bertanggung jawab atas porsi emisi yang sangat besar. Analisis menunjukkan 1% orang terkaya dunia menyumbang sekitar 50% emisi sektor penerbangan global. Bahkan, laporan Oxfam (2026) menyebut kelompok ini menghabiskan “anggaran karbon” tahunan mereka hanya dalam 10 hari.
Ironisnya, sekitar 80% populasi dunia tidak pernah naik pesawat sama sekali, tetapi justru paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Merespons kritik, produsen pesawat menekankan upaya peningkatan efisiensi. Gulfstream menyatakan pesawat terbarunya dapat terbang menggunakan 100% sustainable aviation fuel (SAF).
Meski demikian, penggunaan SAF masih terkendala produksi yang terbatas dan harga yang jauh lebih mahal dibanding bahan bakar konvensional.
Secara absolut, kontribusi jet pribadi terhadap total emisi global memang relatif kecil, sekitar 1,8% dari emisi penerbangan dunia atau kurang dari 4% penerbangan sipil. Namun signifikansinya terletak pada intensitas karbon yang ekstrem dan ketidakadilan distribusinya.
Di tengah upaya global menekan emisi dan mendorong transisi hijau, lonjakan perjalanan mewah berbasis jet pribadi kian dipandang sebagai simbol nyata ketimpangan iklim, di mana gaya hidup segelintir elite menghasilkan dampak lingkungan yang tidak proporsional bagi planet dan masyarakat luas.

Muhammad Imam Hatami
Editor
