Tren Inspirasi

Javara, Gagasan Helianti Hilman Angkat Pangan Nusantara ke Dunia

  • Beras organik menjadi salah satu unggulan, mulai dari beras hitam Toraja, beras merah Bali, hingga beras pandan wangi.
1000642640.jpg
javara (Instagram javara)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Javara mungkin belum setenar brand makanan besar di pasar modern, namun kiprahnya dalam membawa pangan nusantara ke panggung global sudah tak diragukan lagi.

Perusahaan sosial yang didirikan oleh Helianti Hilman pada 2008 ini berangkat dari gagasan sederhana, bagaimana kekayaan pangan lokal Indonesia bisa bernilai tinggi, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar dunia.

Latar belakang Helianti sendiri bukan dari dunia pertanian, melainkan hukum dan konsultan bisnis. Namun perjumpaannya dengan komunitas adat dan petani lokal membuka mata bahwa Indonesia memiliki ratusan varietas beras, rempah, dan hasil pangan unik yang tak ditemukan di negara lain.

Sayangnya, banyak dari kekayaan itu terancam hilang karena minimnya permintaan pasar dan kurangnya regenerasi petani. Dari situ, ia menggagas Javara sebagai “jembatan” antara produsen tradisional dengan konsumen modern. 

Baca juga: Ide Bisnis Rumahan untuk Ibu Rumah Tangga, Bisa Sambil Asuh Anak

Lewat Javara, Helianti tak sekadar menjual produk pangan, melainkan juga mengangkat cerita di baliknya. Beras organik menjadi salah satu unggulan, mulai dari beras hitam Toraja, beras merah Bali, hingga beras pandan wangi.

Javara juga dikenal lewat gula kelapa kristal organik yang jadi favorit pasar ekspor karena lebih sehat sebagai pemanis alami. Tak berhenti di sana, ada pula garam laut tradisional Madura, rempah-rempah asli nusantara seperti pala, kayu manis, hingga cengkeh, serta produk inovatif seperti mie instan sorgum yang bebas gluten.

Produk inovasi Javara terus berkembang mengikuti tren pangan sehat dunia. Mereka mengeluarkan minyak kelapa murni (VCO), tepung singkong dan sorgum sebagai alternatif gandum impor, hingga snack sehat berbahan kelor dan kacang-kacangan lokal. Semua dikemas modern tanpa meninggalkan identitas lokal, menjadikan produk Javara relevan di pasar global yang kian sadar pada isu kesehatan dan keberlanjutan.

Kini, produk Javara sudah hadir di lebih dari 25 negara di empat benua, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Belanda, hingga Uni Emirat Arab. Tidak sedikit konsumen asing yang mengenal Indonesia justru lewat produk Javara yang terpajang di rak-rak supermarket internasional.

Indigenous Indonesia

Tak hanya berfokus pada ekspor, Javara juga mengembangkan Indigenous Indonesia, lini usaha ritel yang menghadirkan pengalaman kuliner nusantara langsung ke konsumen domestik. Gerai pertamanya di Jakarta menjadi ruang edukasi, di mana pengunjung bisa mencicipi masakan berbasis bahan pangan lokal sekaligus belajar tentang sejarah dan manfaatnya.

Sebanyak 20% produk Javara dibeli oleh hotel, restoran, dan penyedia katering. Selama pandemi, jumlah pengunjung industri jasa boga merosot tajam. Banyak restoran, terutama yang berada di mal, tutup.

Bisnis katering juga lesu karena orang memilih memasak sendiri di rumah. Mau tak mau mereka harus menggenjot penjualan dengan cara lain, yakni lewat online. Penjualan daring sebelumnya hanya menyumbang tak sampai 1 persen dari total pemasukan Javara.

Dampak nyata Javara juga terlihat di hulu. Hingga kini, perusahaan ini bekerja sama dengan lebih dari 50.000 petani, nelayan, dan perajin pangan lokal di berbagai daerah.

Melalui skema fair trade, mereka mendapatkan harga yang lebih adil sekaligus pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk. Helianti menyebut, tujuan utama Javara adalah membangun ekosistem yang berkelanjutan sehingga warisan pangan Indonesia bisa lestari sekaligus memberikan kesejahteraan bagi para penjaganya.

Helianti Hilman, lewat Javara, telah memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak selalu lewat seni atau musik, melainkan juga lewat pangan.

Dalam setiap butir beras hitam, tetes gula kelapa, hingga bumbu rempah yang dikirim ke luar negeri, tersimpan narasi panjang tentang sejarah, alam, dan masyarakat Indonesia. Dan dengan strategi bisnis sosial yang berkelanjutan, kisah itu bukan hanya didengar, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi jutaan lidah dan ribuan petani nusantara.