Dunia

Jasa-jasa Jimmy Carter, Presiden ke-39 AS yang Meninggal di Usia 1 Abad

  • Salah satu prestasi terbesar Carter adalah peranannya dalam menengahi Perjanjian Camp David pada 1978, yang berhasil membawa Mesir dan Israel ke meja perundingan setelah bertahun-tahun konflik.
JimmyCarterPortrait_(cropped).jpg

JAKARTA - James Earl "Jimmy" Carter, petani kacang asal negara bagian Georgia yang menjadi Presiden AS pada tahun  1977-1981, meninggal pada tanggal 29 Desember 2024 tepat di usianya ke seratus tahun. 

Pria yang lahir pada tanggal 1 Oktober 1924 dikenang sebagai penerima Nobel Perdamaian 2002 atas dedikasinya terhadap resolusi konflik internasional dan advokasi hak asasi manusia.

Menjadi presiden dengan masa hidup terpanjang (100 tahun), Carter dibesarkan di Plains, Georgia, darikeluarga petani kacang. Ia menyelesaikan pendidikan di Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat di Annapolis, Maryland, pada 1946. Setelah lulus, ia bertugas di kapal selam nuklir. 

Pada tahun1953 Carter meninggalkan karir militernya untuk kembali mengurus bisnis keluarganya setelah kematian ayahnya. Dilansir dari berbagai sumber, Carter memulai karier politiknya sebagai Senator negara bagian Georgia selama dua periode sebelum menjabat sebagai Gubernur Georgia ke-76 pada tahun 1971–1975. 

Sebagai gubernur, ia menonjol dengan membawa isu keadilan sosial dan kebijakan progresif. Berbekal reputasi ini, ia memenangkan pemilihan presiden tahun 1976 sebagai kandidat dari partai Demokrat.

Kala itu Carter berusaha meraih kepercayaan publik setelah Skandal Watergate yang memaksa Richard Nixon mundur. Carter, yang kurang dikenal dan tidak terhubung dengan elit Washington, berhasil mengalahkan pentahana, mantan Presiden Gerald Ford meski tanpa pengalaman ditingkat nasional.

Prestasi dan Kontroversi Kepresidenan

Selama masa kepresidenannya, Carter menghadapi berbagai tantangan besar yang membentuk citra kepemimpinannya. Meskipun dikritik karena kesulitan dalam mengatasi krisis energi dan ekonomi, di mana inflasi tinggi dan resesi melanda AS, Carter tetap dipandang sebagai pemimpin yang memiliki visi jangka panjang. 

Salah satu kebijakanCarter yang semakin dihargai seiring berjalannya waktu adalah kebijakan-kebijakan lingkungan dan energi terbarukan yang ia promosikan. Ia adalah salah satu presiden pertama yang menyadari urgensi perubahan iklim dan mengarahkan Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. 

Carter juga mendirikan Departemen Energi dan memperkenalkan langkah-langkah konservasi energi yang bertujuan mengurangi konsumsi energi di tengah krisis minyak global.

Salah satu prestasi terbesar Carter adalah peranannya dalam menengahi Perjanjian Camp David pada 1978, yang berhasil membawa Mesir dan Israel ke meja perundingan setelah bertahun-tahun konflik.

Kesepakatan tersebut tidak hanya berhasil menciptakan perdamaian antara kedua negara tersebut, tetapi juga memperkuat posisi AS sebagai mediator yang berpengaruh di Timur Tengah. Carter dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 2002 sebagai pengakuan atas upayanya dalam menciptakan perdamaian dunia.

Masa jabatan Carter juga diwarnai oleh krisis sandera di Teheran yang terjadi pada 1979. Ketika sekelompok militan Iran menyandera 52 diplomat Amerika di kedutaan AS di Teheran, situasi ini menciptakan ketegangan diplomatik yang besar dan merusak citra kepemimpinan Carter. 

Setelah 444 hari, sandera-sandera tersebut akhirnya dibebaskan, krisis tersebut mengalihkan perhatian publik dari prestasi internasional Carter dan memperburuk popularitasnya di dalam negeri. 

Ketidakmampuannya menyelesaikan krisis ini sebelum pemilihan presiden 1980 menjadi salah satu faktor utama kekalahannya melawan Ronald Reagan, yang saat itu dianggap lebih tegas dan siap menghadapi tantangan internasional.

Kehidupan Setelah Kepresidenan

Setelah meninggalkan Gedung Putih, Carter menunjukkan dedikasi luar biasa untuk kemanusiaan. Bersama istrinya, Rosalynn, ia mendirikan Carter Center yang berfokus pada promosi demokrasi, pencegahan konflik, dan pemberantasan penyakit di seluruh dunia. Aktivitas ini menjadi dasar penghargaan Nobel Perdamaian yang ia terima pada 2002.

Pada tahun 2015, Carter didiagnosis kanker melanoma yang telah menyebar ke otak dan hati. Namun, berkat pengobatan, ia sembuh total. Ia juga mengalami beberapa cedera akibat jatuh di usia lanjut. 

Dengan usia mencapai 100 tahun ia menjadi Presiden AS tertua yang masih hidup dan memegang rekor sebagai presiden terlama yang hidup setelah meninggalkan jabatannya. Jimmy Carter akan dimakamkan di kampung halamannya, Plains, Georgia, sesuai keinginannya. 

Sebelum itu, penghormatan kenegaraan akan diberikan di Carter Center dan Washington, D.C., sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya bagi bangsa dan dunia.