Tren Pasar

Jangan Cuma Belanja Lebaran, Saham Konsumer Juga Menarik

  • Memasuki Ramadan 2026 dan Lebaran, saatnya ubah mindset! Jangan cuma habiskan THR buat belanja, intip peluang investasi cerdas di sektor konsumer di sini.
Perkembangan Ritel - Panji 1.jpg
Nampak pengunjung tengah berbelanja di sebuah gerai Transmart, Senin 14 Februari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Memasuki Ramadan 2026 dan Lebaran pada pertengahan tahun ini, tingkat konsumsi masyarakat domestik diproyeksikan akan segera melonjak. Pada perdagangan hari Kamis, 19 Februari 2026, periode libur panjang ini sekaligus menjadi peluang berharga bagi pemodal guna menyusun portofolio saham sektor konsumsi.

Daripada sekadar menghabiskan seluruh dana tunjangan hari raya untuk gaya hidup konsumtif, masyarakat sangat didorong mengalihkan dana tersebut pada investasi saham. Sektor barang konsumsi diprediksi menjadi primadona utama yang sukses mendulang tingkat keuntungan paling besar selama berjalannya perayaan musim liburan.

Terdapat empat alasan kuat mengapa momentum perayaan hari raya kali ini merupakan waktu yang sangat tepat bagi pemodal merombak portofolio. Berikut rangkuman analisis teknikal dan fundamental dari berbagai pakar sekuritas mengenai prospek pergerakan emiten pada sektor barang konsumsi publik tersebut.

1. IKK Meroket Signifikan

Data Indeks Keyakinan Konsumen pada awal tahun ini sukses melonjak drastis hingga menyentuh level tertinggi di angka 127. Posisi puncak tersebut memberikan sinyal sangat kuat bahwa masyarakat saat ini sedang merasa sangat percaya diri untuk membelanjakan uang tunjangan hari raya.

Tingkat optimisme tersebut turut didukung oleh rencana pemerintah pusat menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp809 triliun pada kuartal pertama. Angka tersebut setara dengan 21% dari total belanja yang siap memicu perputaran roda perekonomian nasional dengan sangat masif.

2. Stimulus Rp13 Triliun

Dari total anggaran tersebut, pemerintah secara resmi menyiapkan dana segar senilai Rp13 triliun yang akan digelontorkan sebagai stimulus. Analis KISI Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, memprediksi kombinasi momentum hari raya dan stimulus fiskal ini bakal mendorong lonjakan konsumsi hingga 20%.

Wafi memaparkan proyeksi positif pada kinerja keuangan perusahaan. "EPS sektor konsumer bisa tumbuh rata-rata 8,6% secara tahunan di 2026, didukung pemulihan volume penjualan dan efisiensi biaya input," jelasnya menegaskan prospek cerah bagi pertumbuhan nilai portofolio pemodal ritel di bursa efek.

3. Saham Kebutuhan Harian

Memasuki Ramadan 2026 dan Lebaran, konsumsi harian masyarakat otomatis meningkat. PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) dan pengelola Alfamart, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dipastikan mendulang keuntungan. "Kami memandang positif prospek permintaan dan penjualan," kata Helina dari ULTJ.

Berdasarkan prospek cerah tersebut, analis memberikan rekomendasi beli. Target harga saham produsen makanan ringan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dipatok pada posisi ideal Rp2.440 per lembar saham demi memberikan tingkat keuntungan paling maksimal bagi masyarakat yang berani melakukan investasi pasar.

4. Ritel Fesyen Menarik

Selain pemenuhan kebutuhan pangan, emiten ritel fesyen dipastikan turut kecipratan berkah. Saham PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) sangat direkomendasikan para analis pasar modal dengan target harga penutupan cukup realistis untuk diperdagangkan masyarakat yang saat ini berada pada level Rp550.

Rekomendasi pamungkas untuk melengkapi portofolio jatuh pada saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) di angka Rp2.050. Namun, analis Sinarmas Sekuritas, Cindy Alicia Ramadhania, tetap memberikan peringatan penting. "Risiko keterlambatan realisasi anggaran serta pelemahan rupiah perlu diperhatikan," tegasnya.

Oleh karena itu, momentum pembagian dana tunjangan hari raya sangat disarankan tidak hanya menjadi ajang belanja semata. Membeli kepemilikan saham perusahaan penyedia produk Lebaran menjadi langkah finansial paling bijaksana guna mengamankan tingkat pertumbuhan nilai kekayaan investasi secara jangka panjang.