Tren Pasar

IPO PRDL Bidik Dana Rp62,75 M, Mayoritas untuk Bayar Utang

  • PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) akan IPO pada 9 Juli 2026 dengan target dana Rp62,75 miliar. Mayoritas dana digunakan untuk melunasi utang perbankan.
Prodia Health Care.jpg
Suasana gedung Health Care Prodia Tower di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta, Jum'at, 16 Juli 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), anak usaha Grup Prodia yang bergerak di bidang manufaktur alat kesehatan diagnostik, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Perusahaan yang dikenal dengan nama Proline tersebut dijadwalkan resmi tercatat di BEI pada 9 Juli 2026 dengan menawarkan maksimal 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Melalui aksi korporasi ini, PRDL membidik dana segar hingga Rp62,75 miliar, yang sebagian besar akan digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan perusahaan melalui pelunasan utang perbankan.

Siapa PRDL?

PRDL merupakan kode saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk, perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Prodia dan berfokus pada produksi alat kesehatan diagnostik atau in-vitro diagnostics (IVD).

Selain memproduksi alat kesehatan diagnostik, perusahaan juga menjalankan bisnis perdagangan alat laboratorium dan farmasi, jasa kalibrasi, serta layanan metrologi.

Perusahaan mengoperasikan fasilitas produksi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat dan telah memproduksi berbagai produk diagnostik selama lebih dari satu dekade sejak tahun 2010.

Saat ini, PRDL melayani lebih dari 7.600 fasilitas kesehatan yang terdiri dari rumah sakit, laboratorium, puskesmas, dan institusi kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.

Meski demikian, peluang pertumbuhan masih terbuka lebar. Berdasarkan data perusahaan, sekitar 47% fasilitas kesehatan serta hampir 38% dinas kesehatan kabupaten dan kota di Indonesia masih belum menjadi pelanggan perusahaan.

Berdasarkan prospektus, proses IPO akan berlangsung dalam beberapa tahapan sebagai berikut,

  • Masa penawaran awal atau bookbuilding dijadwalkan berlangsung pada 18-23 Juni 2026.
  • Selanjutnya, perusahaan menargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Juni 2026.
  • Masa penawaran umum akan berlangsung pada 1-7 Juli 2026, dengan tanggal penjatahan pada 7 Juli 2026.
  • Distribusi saham secara elektronik dilakukan pada 8 Juli 2026, sedangkan pencatatan perdana saham PRDL di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 9 Juli 2026.

Harga IPO dan Potensi Dana yang Dihimpun

Dalam masa bookbuilding, PRDL menawarkan saham pada kisaran harga Rp100 hingga Rp120 per saham. Dengan jumlah saham yang ditawarkan mencapai 522,9 juta lembar, perusahaan berpotensi meraih dana maksimal sekitar Rp62,75 miliar.

Selain saham untuk publik, perusahaan juga mengalokasikan program Employee Stock Allocation (ESA) sebanyak 36,6 juta saham atau setara 7% dari total saham yang ditawarkan dalam IPO.

Harga pelaksanaan ESA akan sama dengan harga penawaran umum perdana saham. Adapun penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO ini adalah PT Sucor Sekuritas.

Berbeda dengan banyak perusahaan yang menggunakan dana IPO untuk ekspansi agresif, PRDL akan memanfaatkan sebagian besar hasil penawaran umum untuk memperkuat struktur keuangan.

Sekitar 57% dana IPO atau setara Rp35,67 miliar akan digunakan untuk melunasi pinjaman bank. Dana tersebut terdiri dari pembayaran utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar Rp21,5 miliar dan kepada PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin Bank) sebesar Rp14,17 miliar.

Sementara itu, sekitar 28,92% dana IPO atau sekitar Rp18,1 miliar akan digunakan sebagai belanja modal (capital expenditure/capex).

Belanja modal tersebut mencakup pembelian mesin produksi, peralatan kalibrasi, kendaraan operasional, perangkat lunak (software), relayout area produksi, hingga pengembangan sistem Air Handling Unit (AHU) untuk Laboratorium Biomolekuler.

Selanjutnya, sekitar 8,51% dana IPO atau sekitar Rp5,3 miliar akan dialokasikan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya penelitian dan pengembangan (research and development/R&D), serta kegiatan pemasaran dan penjualan.

Beban Utang Masih Dominan

Fokus penggunaan dana IPO untuk pelunasan pinjaman tidak terlepas dari kondisi neraca perusahaan. Per 31 Desember 2025, total liabilitas PRDL tercatat sebesar Rp111,37 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp94,2 miliar atau sekitar 85% merupakan utang bank.

Pinjaman dari BCA memiliki tingkat bunga sekitar 7,75% per tahun dan digunakan untuk pembangunan kantor, gudang, serta laboratorium perusahaan di Cikarang.

Sementara itu, pinjaman dari Panin Bank dikenakan bunga sebesar 2% ditambah spread 0,5% per tahun yang digunakan untuk pembelian tanah dan bangunan fasilitas produksi.

Dari sisi kinerja, PRDL sempat mengalami perlambatan pada 2024 sebelum kembali menunjukkan pemulihan pada 2025. Pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp111,8 miliar pada 2023, kemudian turun menjadi Rp58,7 miliar pada 2024.

Namun pada 2025, pendapatan kembali meningkat menjadi Rp74,4 miliar, atau tumbuh sekitar 26,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan kinerja juga terlihat pada laba operasi yang meningkat dari Rp15,2 miliar pada 2024 menjadi Rp24,4 miliar pada 2025.

Sementara laba bersih melonjak dari Rp10 miliar pada 2024 menjadi Rp17 miliar pada 2025, atau tumbuh sekitar 69,9%. Data tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai keluar dari tekanan yang terjadi pada 2024 dan kembali mencatatkan pertumbuhan yang lebih solid.

Struktur Kepemilikan dan Dividen

Sebelum IPO, saham perusahaan mayoritas dimiliki oleh PT Prodia Utama sebanyak 622,20 juta saham atau sekitar 51% kepemilikan. Setelah penerbitan saham baru melalui IPO, porsi kepemilikan PT Prodia Utama diperkirakan terdilusi menjadi sekitar 35,7%.

Sementara itu, publik akan menguasai sekitar 30% saham perusahaan sesuai jumlah saham yang ditawarkan melalui IPO. Perusahaan juga memberikan porsi kepemilikan kepada karyawan melalui program ESA sebesar 7% dari total saham IPO.

Meskipun terafiliasi dengan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), emiten laboratorium diagnostik yang melantai di bursa pada 2016 dengan perolehan dana Rp1,22 triliun, PRDA bukan merupakan pemegang saham langsung PRDL. Entitas induk perusahaan adalah PT Prodia Utama.

Bagi investor yang mengincar pendapatan pasif, PRDL menyatakan berencana membagikan dividen tunai maksimal 20% dari laba bersih setiap tahun.

Kebijakan dividen tersebut akan mulai berlaku untuk tahun buku 2026, dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan dan kebutuhan pengembangan usaha perusahaan.

IPO PRDL tergolong sebagai IPO berukuran relatif kecil dengan target dana maksimal hanya Rp62,75 miliar, jauh di bawah IPO induk grupnya, PRDA, yang berhasil menghimpun dana sekitar Rp1,22 triliun pada 2016.

Selain itu, mayoritas dana IPO akan digunakan untuk melunasi utang, bukan untuk ekspansi bisnis secara agresif. Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan kesehatan neraca keuangan setelah mengalami perlambatan kinerja pada 2024.

Di sisi lain, pemulihan laba pada 2025, basis pelanggan yang telah mencapai lebih dari 7.600 fasilitas kesehatan, serta masih besarnya potensi pasar yang belum tergarap menjadi faktor yang dapat diperhatikan investor dalam menilai prospek jangka panjang perusahaan.

Namun, seperti investasi pada umumnya, keputusan berinvestasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, prospektus resmi, dan kondisi pasar saat penawaran berlangsung.