Tren Pasar

IPO EMMI Bidik Dana Rp269 M, Cek Kinerja dan Alokasi Duitnya

  • PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menargetkan dana IPO hingga Rp269,27 miliar. Simak kinerja keuangan, penggunaan dana, prospek, dan strategi ekspansinya.
3_Istilah_Penting_Tentang_IPO.jpg
Ilustrasi saham IPO. (IDX Channel) (IDX Channel)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), perusahaan distribusi dan manufaktur alat kesehatan nasional, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Perseroan menargetkan penghimpunan dana hingga Rp269,27 miliar dari aksi korporasi tersebut.

EMMI menawarkan sebanyak 522,86 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawaran berada pada kisaran Rp446 hingga Rp515 per saham.

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, masa bookbuilding berlangsung pada 22–24 Juni 2026, dilanjutkan penawaran umum pada 2–6 Juli 2026. Saham EMMI dijadwalkan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026.

Penawaran umum ini dijamin secara penuh (full commitment) oleh PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Baca juga : Pembukaan LQ45 24 Juni 2026: JPFA dan ASII Naik, HRTA Turun

Kinerja Keuangan dan Struktur Keuangan 

Menjelang IPO, EMMI mencatatkan pertumbuhan kinerja yang cukup agresif. Laba bersih perusahaan melonjak dari sekitar Rp940 juta pada 2023 menjadi lebih dari Rp11 miliar pada 2024, atau tumbuh lebih dari 1.000%.

Pertumbuhan tersebut berlanjut pada 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp32,43 miliar hingga Rp34,13 miliar, meningkat sekitar 188% hingga 210% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi pendapatan, penjualan bersih EMMI mencapai Rp454,64 miliar pada 2025, tumbuh 18,11% secara tahunan (year-on-year).

Kenaikan pendapatan turut didukung oleh laba kotor yang mencapai Rp163,21 miliar dengan beban pokok penjualan sebesar Rp291,21 miliar. Perbaikan profitabilitas juga tercermin dari meningkatnya rasio pengembalian aset (ROA) dan pengembalian ekuitas (ROE).

Per 31 Desember 2025, total aset EMMI tercatat sebesar Rp564,44 miliar. Sementara itu, total liabilitas mencapai Rp419,42 miliar dan ekuitas sebesar Rp145,01 miliar.

Meski masih memiliki tingkat utang yang relatif tinggi dibandingkan modal sendiri, tren leverage menunjukkan perbaikan. Rasio liabilitas jangka panjang terhadap ekuitas turun menjadi 0,74 kali pada 2025, dari 1,17 kali pada 2024 dan 1,28 kali pada 2023.

Perbaikan struktur permodalan ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor menjelang pencatatan saham perdana perusahaan.

Baca juga : IHSG Dibuka Naik 0,56 Persen Usai Pengumuman MSCI, Cek Datanya

Penggunaan Dana IPO EMMI

Manajemen EMMI mengungkapkan dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung ekspansi bisnis. Sekitar Rp50 miliar akan dialokasikan untuk pembayaran pokok pinjaman. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan beban keuangan dan memperbaiki profil neraca perusahaan.

Selain itu, sekitar 11,8% dana IPO akan digunakan sebagai belanja modal (capital expenditure/capex), terutama untuk pembangunan gedung pabrik baru di Cikupa. Porsi terbesar, sekitar 68,7%, akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk pembelian barang proyek, bahan baku produksi, serta pengelolaan persediaan.

Perseroan juga menyatakan berencana membagikan dividen tunai mulai tahun buku 2027 dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) hingga 30% dari laba bersih, menyesuaikan kondisi keuangan dan kebutuhan investasi perusahaan.

EMMI beroperasi di sektor alat kesehatan yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Industri ini didorong oleh peningkatan belanja kesehatan nasional, perluasan fasilitas layanan kesehatan, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta kebijakan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Pasar alat kesehatan Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 8,68% hingga 2030.

Sebagai pemain yang telah beroperasi lebih dari dua dekade, EMMI memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, termasuk hak distribusi eksklusif beberapa merek alat kesehatan global, jaringan pemasaran nasional, serta basis pelanggan lebih dari 200 rumah sakit dan institusi kesehatan.

Perseroan juga memiliki satu kantor pusat, dua fasilitas produksi, dan empat kantor perwakilan yang mendukung distribusi produk di berbagai wilayah Indonesia. Selama periode 2022 hingga 2025, EMMI mencatatkan perolehan proyek dengan nilai lebih dari Rp750 miliar.

Baca juga : IPO BACH 2026, Emiten Afiliasi Djarum Tawarkan Valuasi Murah

Strategi Ekspansi untuk Tingkatkan Pendapatan

Ke depan, EMMI berencana memperluas portofolio bisnis ke segmen alat kesehatan habis pakai atau consumables. Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah produksi benang bedah melalui skema joint venture dengan mitra global.

Strategi tersebut bertujuan meningkatkan pendapatan berulang (recurring income), memperbaiki margin usaha, serta mengurangi ketergantungan pada proyek-proyek yang bersifat tidak berulang.

Diversifikasi ke segmen consumables juga dinilai dapat memberikan stabilitas pendapatan yang lebih baik dibandingkan bisnis berbasis proyek.

Dari sisi fundamental, EMMI menunjukkan pertumbuhan laba yang kuat, perbaikan struktur keuangan, serta beroperasi di sektor yang memiliki prospek jangka panjang positif.

Namun demikian, investor tetap perlu memperhatikan valuasi final saat penawaran umum, keberlanjutan pertumbuhan laba pasca-IPO, serta tingkat liabilitas perusahaan yang masih relatif tinggi dibandingkan ekuitas.