IPO BACH 2026, Emiten Afiliasi Djarum Tawarkan Valuasi Murah
- PT Bach Multi Global Tbk (BACH) siap IPO pada Juli 2026. Didukung afiliasi Grup Djarum, emiten ini membidik dana hingga Rp307,5 miliar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Bach Multi Global Tbk (BACH), perusahaan infrastruktur yang terafiliasi dengan Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026.
Melalui penawaran umum perdana saham (IPO), perseroan menawarkan valuasi yang relatif menarik di tengah pertumbuhan bisnis yang kuat sepanjang 2025. BACH akan melepas sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan kisaran harga penawaran Rp400-Rp500 per saham, perusahaan berpotensi menghimpun dana hingga Rp307,5 miliar. Pada harga tertinggi, kapitalisasi pasar BACH setelah IPO diperkirakan mencapai sekitar Rp2,04 triliun.
Profil Bisnis BACH
PT Bach Multi Global Tbk memiliki dua lini usaha utama yang menopang pendapatan perusahaan.
Pertama, bisnis penjualan dan penyewaan generator set (genset). Perseroan merupakan agen tunggal merek Himoinsa di Indonesia serta memasarkan berbagai merek genset global seperti Cummins, Perkins, Mitsubishi, Kubota, Yanmar, hingga Doosan.
Kedua, bisnis konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi yang mencakup layanan Site Acquisition (SITAC), Civil Mechanical Electrical (CME), pembangunan menara BTS, jaringan fiber optik, hingga pemeliharaan sekitar 41.000 site telekomunikasi di seluruh Indonesia.
Kombinasi kedua segmen usaha tersebut membuat BACH memiliki eksposur terhadap pertumbuhan sektor energi cadangan sekaligus perkembangan infrastruktur digital nasional.
Masa bookbuilding berlangsung pada 22–24 Juni 2026, sementara penawaran umum dijadwalkan pada 1–3 Juli 2026. Perseroan menargetkan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026. Adapun PT Erdikha Elit Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam aksi korporasi ini.
Baca juga : Cek Data yang Bakal Ditanyakan dalam Sensus 2026
Valuasi dan Kinerja Keuangan
Salah satu daya tarik utama IPO BACH adalah valuasinya yang relatif rendah dibandingkan sejumlah calon emiten lain yang akan melantai pada periode yang sama.
Berdasarkan kisaran harga penawaran, saham BACH dipasarkan dengan Price to Earnings Ratio (P/E) sekitar 10,5 hingga 13,1 kali. Sementara Price to Book Value (P/BV) berada di kisaran 2,1 hingga 2,4 kali.
Dengan pertumbuhan laba yang hampir mencapai 100% pada 2025, valuasi tersebut dinilai cukup kompetitif dan berpotensi menarik perhatian investor yang mencari emiten berfundamental kuat dengan harga yang masih terjangkau.
BACH mencatatkan pertumbuhan kinerja yang impresif sepanjang 2025. Pendapatan neto perusahaan mencapai Rp1,73 triliun atau meningkat 39,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, laba operasi melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp220,1 miliar.
Laba sebelum pajak juga meningkat 90,4% menjadi Rp201,9 miliar dari Rp106 miliar pada 2024. Sementara laba bersih tercatat tumbuh sekitar 98%, mencerminkan peningkatan efisiensi operasional dan ekspansi bisnis yang berjalan positif.
Baca juga : Bagaimana Kualitas Udara Jakarta Hari Ini 23 Juni 2026?
Penggunaan Dana IPO
Sebagian besar dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan mendukung ekspansi usaha.
Sekitar Rp91,02 miliar dialokasikan untuk pembayaran sebagian utang jangka pendek kepada PT Bank Permata Tbk. Sementara Rp213,48 miliar akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset yang akan dijual maupun disewakan kepada pelanggan.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas bisnis perseroan sekaligus memperkuat posisi keuangan pasca-IPO. Prospek BACH dinilai cukup menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan energi cadangan dan ekspansi infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Dalam prospektusnya, perusahaan memperkirakan pasar genset nasional akan tumbuh dari US$679,5 juta pada 2024 menjadi sekitar US$1,76 miliar pada 2035. Pertumbuhan tersebut didorong oleh proyek industri, pembangunan infrastruktur, hilirisasi mineral, serta meningkatnya kebutuhan pasokan listrik cadangan.
Di sisi lain, konsumsi data yang terus meningkat dan pengembangan jaringan 4G serta 5G diperkirakan akan mendorong permintaan terhadap jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.
Sentimen positif lainnya datang dari rencana PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), anak usaha TOWR, yang akan meningkatkan kepemilikan menjadi 51% setelah IPO sehingga menjadi pemegang saham pengendali.
Afiliasi tersebut berpotensi membuka akses BACH ke ekosistem infrastruktur digital milik Grup Djarum yang memiliki lebih dari 36.000 menara telekomunikasi dan sekitar 170.000 kilometer jaringan serat optik di Indonesia.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: CUAN dan BRPT Ngebut, AKRA Melorot
Risiko yang Perlu Dicermati Investor
Meski menawarkan prospek menarik, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko.
Pertama, ketergantungan terhadap sektor telekomunikasi membuat kinerja perusahaan berpotensi terpengaruh oleh perubahan belanja modal operator telekomunikasi dan perusahaan menara.
Kedua, penggunaan sebagian dana IPO untuk membayar utang menunjukkan perseroan masih memiliki kewajiban keuangan yang perlu dikelola secara hati-hati.
Ketiga, persaingan dalam bisnis genset maupun jasa konstruksi telekomunikasi tergolong ketat dengan banyak pemain nasional maupun internasional. Selain itu, proses IPO masih menunggu pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.
Dengan pertumbuhan pendapatan hampir 40%, lonjakan laba mendekati 100%, serta valuasi P/E di kisaran 10–13 kali, IPO BACH menjadi salah satu penawaran saham perdana yang menarik untuk dicermati pada pertengahan 2026.
Dukungan afiliasi Grup Djarum, prospek pertumbuhan sektor genset, serta peluang dari ekspansi infrastruktur telekomunikasi dapat menjadi katalis positif bagi kinerja perseroan ke depan. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko industri dan membaca prospektus secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
