Dunia

Inflasi Zona Euro Melonjak ke Level Tertinggi dalam 13 Tahun

  • Inflasi zona euro mencapai level tertinggi dalam 13 tahun pada September 2021 lalu dan tampaknya masih akan melonjak lebih tinggi.
frankfurt.jpg

FRANKFURT- Inflasi zona euro mencapai level tertinggi dalam 13 tahun pada September 2021 lalu dan tampaknya masih akan melonjak lebih tinggi. 

Data Badan Pusat Statistik Uni Eropa pada hari Jumat sebagiamana dikutip Reuters menunjukkan inflasi harga konsumen di 19 negara yang berbagi euro meningkat menjadi 3,4% YoY pada September dari 3% sebulan sebelumnya. Ini adalah angka tertinggi sejak September 2008 dan tepat di depan ekspektasi analis sebesar 3,3%.

Harga naik terutama karena lonjakan biaya energi. Sebagian besar memang merupakan pembalikan dari jatuhnya harga minyak yang terjadi selama pandemi COVID-19, tetapi dampak dari kemacetan produksi dan pengiriman juga terlihat karena harga barang tahan lama naik 2,3% dari Agustus.

Dengan melonjaknya harga gas alam dan kemacetan yang berdampak pada segala hal mulai dari produksi mobil hingga manufaktur komputer, inflasi dapat mencapai 4% pada akhir tahun, dua kali lipat dari target European Central Bank's (ECB).

Tetapi gangguan rantai pasokan tampaknya semakin buruk, meningkatkan kemungkinan inflasi merembes ke harga yang mendasarinya dan menciptakan tekanan yang lebih permanen mengingat perusahaan menyesuaikan kebijakan penetapan harga dan upah.

Hingga saat ini, ECB bertahan dengan narasinya bahwa serangan inflasi ini akan cepat berlalu dan pertumbuhan harga akan bertahan di bawah targetnya untuk tahun-tahun mendatang.

Tetapi Presiden ECB Christine Lagarde memberikan nada lebih berhati-hati minggu ini dengan  menunjuk pada peningkatan risiko inflasi. Bahkan dia meminta kesabaran dan memperingatkan agar tidak bereaksi berlebihan.

Sementara itu, ekonom pasar mengubah pandangan mereka, dengan alasan bahwa bank sentral mungkin meremehkan risiko inflasi.

"Kami pikir ada kemungkinan besar bahwa inflasi ini kurang sementara daripada yang disarankan semua bank sentral, termasuk ECB," kata ekonom BNP Paribas Luigi Speranza.

"Konsumen mungkin mulai menuntut upah yang lebih tinggi dan perusahaan harus mengakomodasi mereka dan  kemudian membebankan pada harga akhir yang lebih tinggi."