Tren Ekbis

Inflasi April Diprediksi Turun, Tapi Dompetmu Bilang Apa?

  • Inflasi April melandai pasca-Lebaran. Tapi tiga tekanan ini masih mengintai daya beli kamu di Mei-Juni 2026.
Ilustrasi Pasar Inflasi-6.jpg
Katvitas pedagang di lapaknya di Pasar Senen, Jakarta, Selasa, 13 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Angka inflasi April 2026 akan segera dirilis BPS. Konsensus ekonom memperkirakan angkanya turun ke kisaran 2,39%-2,84%, jauh dari puncak Maret yang sempat menyentuh 3,48%. Di atas kertas, ini kabar bagus.

Tapi coba ingat belanja kamu bulan lalu. Inflasi April 2026 memang diproyeksikan melandai setelah berakhirnya puncak konsumsi Ramadan dan Lebaran. Penurunan tekanan pangan menjadi faktor utama yang meredam laju inflasi. 

Dilansir data BPS, Harga ayam turun, telur turun, cabai sempat koreksi. Itu benar, tapi turun dari angka berapa?

  • 22 April: cabai rawit merah sempat menyentuh Rp71.450 per kg sebelum turun
  • 25 April: cabai rawit merah masih di level Rp64.050 per kg
  • Cabai merah besar: Rp48.750 per kg
  • Bawang merah: Rp46.100 per kg
  • Bawang putih: Rp39.700 per kg

Turun? Iya, murah? Belum tentu.

Ini pola yang sering luput dari headline, berdasarkan definisi inflasi dari BPS dan Bank Indonesia serta konsep dalam literatur makroekonomi, inflasi mengukur laju kenaikan harga, bukan levelnya. Ketika inflasi turun, harga belum tentu turun, hanya naik lebih lambat. 

Selama harga kebutuhan pokok masih lebih tinggi dibanding sebelum Lebaran dan tidak diimbangi kenaikan pendapatan, daya beli rumah tangga cenderung tetap tertekan.

Baca juga : UMR Naik di Atas Inflasi, Kenapa Kita Masih Sering Bokek?

Tiga Tekanan yang Belum Selesai

Meski inflasi terlihat melandai, ada tiga faktor yang berpotensi mendorong harga kembali naik, energi, rupiah, dan pangan. Efeknya tidak selalu langsung, tapi bertahap masuk ke harga barang dan jasa.

Rinciannya:

  • Energi (efek tertunda ke inflasi)
    Kenaikan harga BBM non-subsidi dan LPG belum sepenuhnya tercermin di inflasi April karena ada jeda distribusi dan penyesuaian harga di lapangan.
    • Pertamax Turbo: Rp19.400 per liter
    • Pertamina Dex: Rp23.900 per liter
    • LPG 12 kg: Rp228.000 (Jabodetabek), Rp285.000 (Indonesia Timur)
      → Dampak ke ongkos transportasi dan logistik biasanya baru terasa di Mei–Juni
  • Rupiah (tekanan impor)
    Nilai tukar di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS membuat biaya impor naik, meski tidak selalu terlihat langsung.
    → Efeknya merembet ke harga barang: dari bahan baku UMKM sampai elektronik harian
  • Pangan (tren belum stabil)
    Harga belum sepenuhnya turun secara konsisten pasca-Lebaran, masih ada fluktuasi tajam.
    • Cabai rawit merah: naik lagi ke Rp60.000/kg (dari Rp54.400 di akhir April)
      → Menunjukkan tren penurunan tidak linier dan rawan rebound

Tekanan harga belum benar-benar reda, yang terlihat di data inflasi sekarang bisa jadi masih “tenang di permukaan”, sementara tekanan utamanya baru akan muncul bertahap di bulan berikutnya.

Baca juga : LQ45 Index Hari Ini Senin, 04 Mei 2026 Dibuka Naik ke 671,55 Poin

Low Base Effect

Ini konteks yang penting dipahami, BPS menjelaskan lonjakan inflasi tahunan pada Januari-Februari 2026 yang masing-masing mencapai 3,55% dan 4,76% sebagian besar dipicu low base effect, bukan karena ekonomi benar-benar panas. 

Diskon tarif listrik yang diberikan awal 2025 membuat angka pembanding tahun lalu terlalu rendah, sehingga inflasi 2026 terlihat melonjak tajam secara statistik.

Sekarang efek itu mulai hilang, inflasi turun bukan karena harga turun, tapi karena basis perbandingannya sudah normal kembali. Yang perlu kamu perhatikan bulan ini bukan angka inflasi headline-nya, melainkan tiga hal ini:

  1. Pertama, harga energi di Mei dan Juni. Jika harga BBM non-subsidi naik lagi mengikuti harga minyak global yang tidak stabil akibat ketegangan Timur Tengah, inflasi bisa balik naik lebih cepat dari perkiraan.
  2. Kedua, pergerakan rupiah. Kalau rupiah terus melemah melewati Rp17.500, tekanan harga impor akan makin terasa di tingkat konsumen akhir.
  3. Ketiga, Bank Indonesia menegaskan inflasi 2026 dan 2027 masih dalam kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%. Target ini masih bisa dicapai, tapi syaratnya harga energi tidak mengamuk di semester dua.

Inflasi turun memang kabar baik, tapi turun ke angka yang masih di atas target, dari puncak yang dipicu faktor statistik, di tengah tekanan energi yang belum selesai, bukan kemenangan yang perlu dirayakan dulu.