Industri Keuangan Syariah Makin Subur di Tengah Pandemi
Pembentukan BSI menjadi lompatan besar bagi industri keuangan syariah di Indonesia.

Muhamad Arfan Septiawan
Author


PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) resmi beroperasi mulai 1 Februari 2021 / Dok. Bank Syariah Indonesia
(Istimewa)JAKARTA – Pemerintah terus mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah di tengah pandemi COVID-19. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Erick Thohir mengatakan, potensi industri keuangan semakin nampak ke permukaan.
“Alhamdulillah jasa keuangan syariah terus tumbuh bahkan di tengah pandemi COVID-19. Terlebih setelah Bank Syariah Indonesia (BSI) terbentuk,” ucap Erick Thohir Forum Diskusi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Rabu, 17 Maret 2021.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan aset bank syariah di Indonesia lebih agresif ketimbang bank umum konvesional. Sepanjang 2020, bank syariah mengalami kenaikan aset hingga 10,9%. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bank umum konvensioanal yang hanya sebesar 7,7%.
Empat Tantangan Utama
Seperti disebut Erick, lompatan besar pada industri keuangan syariah terjadi lewat pembentukan Bank Syariah Indonesia. Direktur Utama BSI Herry Gunadi menyebut industri keuangan syariah punya prospek yang cerah dalam beberapa tahun ke depan.
Kendati demikian, Herry menjelaskan masih ada pekerjaan besar dalam mengurangi ketimpangan layanan antara bank konvensional dan bank syariah.
“Setidaknya terdapat empat tantangan utama yang mengganjal BSI,” jelas dia dalam Forum Nasional Ekonomi Syariah, Jumat 12 Maret 2021.
Herry memaparkan tantangan tersebut yakni jejaring bank di daerah yang masih minim, inklusi dan literasi keuangan syariah yang masih perlu ditingkatkan, infrastruktur digital, hingga permodalan.
Ketimpangan bank syariah dan bank konvensional nampak dari ketersediaan jaringan unit bank di berbagai daerah. Jaringan bank konvensional di Indonesia sudah tersedia hingga 28.342 unit. Angka ini jauh lebih banyak ketimbang bank syariah sebanyak 2.664 unit.
Selain itu, ruang permodalan yang dimiliki bank syariah masih sangat kecil. Dalam laporannya, Herry menyampaikan total modal bank syariah di Indonesia hingga Desember 2020 baru sebesar Rp4,7 triliun. Sementara total aset bank konvensional sudah mencapai Rp1300 triliun.
“Kalau kami melihat, yang paling besar bank syariah itu bangsa Indonesia. Ini menjadi tantangan sekaligus kendala dari sistem permodalan untuk memberikan pembiayaan yang lebih besar kepada nasabah yang membutuhkan,” ujarnya.
Naik Tingkat ke BUKU IV
Pengamat Ekonomi Syariah Syakir Sula menuturkan BSI perlu didorong agar masuk kategori Bank Umum Berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) empat atau bank dengan modal inti di atas Rp30 triliun. Pasalnya, posisi BSI masih berada di BUKU tiga atau bank dengan modal inti Rp5 sampai Rp30 triliun.
“BSI belum masuk ke BUKU 4. Ini tantangan pertama direksi BSI, bagaimana membawa BSI masuk ke posisi masuk ke urutan ke 5 atau 6 bank terbesar di Indonesia,” kata Syakir kepada TrenAsia.com, Jumat 12 Maret 2021.
Kemungkinan ini, menurut Syakir, terbuka lebar apabila BSI fokus menyasar segmen menengah ke bawah atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Dana yang dihimpun dari masyarakat salurkan ke UMKM, bukan ke korporasi,” ujarnya.
Untuk diketahui, ekonomi syariah Indonesia mengalami kenaikan pesat dalam tiga tahun terakhir ini. Menengok laporan The State of The Global Islamic Economy Report 2020, Indonesia berada di posisi ke empat sebagai negara dengan ekonomi syariah terbesar di dunia.
Posisi Indonesia ini terus merangkak, dari posisi ke 10 pada 2018, naik menuju posisi kelima pada 2019. Kemudian, berhasil masuk ke jajaran empat besar ekonomi syariah tahun lalu.
