Dunia

Indonesia Lanjut, Korea Selatan Luncurkan Jet Tempur KF-X

  • SEOUL-Korea Selatan meluncurkan jet tempur supersonik buatan sendiri yang disebut KF-X pada Jumat 9 April 2021. Pesawat tersebut kini secara resmi mendapat nama KF-21. Negara tersebut, bergabung dengan klub eksklusif raksasa penerbangan militer dunia. Sementara Indonesia dikabarkan akan tetap bergabung dalam program tersebut. Setelah beroperasi KF-21 diharapkan akan dipersenjatai dengan berbagai rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan […]

<p>KF-21/tangkapan layar YouTube KKone2</p>

KF-21/tangkapan layar YouTube KKone2

(Istimewa)

SEOUL-Korea Selatan meluncurkan jet tempur supersonik buatan sendiri yang disebut KF-X pada Jumat 9 April 2021. Pesawat tersebut kini secara resmi mendapat nama KF-21. Negara tersebut, bergabung dengan klub eksklusif raksasa penerbangan militer dunia. Sementara Indonesia dikabarkan akan tetap bergabung dalam program tersebut.

Setelah beroperasi KF-21 diharapkan akan dipersenjatai dengan berbagai rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan – dan bahkan mungkin rudal jelajah yang diluncurkan dari udara. Pesawat tempur bermesin ganda akan datang dalam versi satu dan dua kursi, tergantung pada misi yang mereka tugaskan.

Presiden Korea Selata Moon Jae-in saat peluncuran KF-21  di fasiltias produksi Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon, provinsi Gyeongsang Selatan mengatakan era baru pertahanan independen telah dimulai dan ini merupakan tonggak bersejarah dalam pengembangan industri penerbangan Korea Selatan.

Pesawat itu mendapat julukan Boramae yang artinya elang muda yang dilatih untuk beruburu. Moon mengatakan setelah uji darat dan penerbangan selesai, produksi massal KF-21 akan dimulai dengan target 40 jet yang dikerahkan pada 2028 dan 120 pada 2032.

“Ketika produksi massal skala penuh dimulai, 100.000 pekerjaan tambahan akan tercipta dan kami akan memiliki nilai tambah 5,9 triliun won Korea (sekitar Rp76 triliun). Efeknya akan jauh lebih besar jika diekspor,” kata Moon.

Korea Selatan diharapkan menghasilkan enam prototipe KF-21 untuk pengujian dan pengembangan dengan  tiga yang pertama akan selesai pada akhir tahun 2021 ini. Sementara tiga berikutnya pada paruh pertama tahun 2022.

Meski hanya 65% dari KF-21 yang benar-benar berasal dari Korea Selatan, peluncurannya tetap menandai pencapaian yang signifikan bagi negara yang tidak memiliki sejarah panjang dalam produksi pesawat.  CNN melaporkan Korea Selatan akan menjadi negara kedelapan di dunia yang telah mengembangkan pesawat tempur supersonik canggih. Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Rusia, China, Jepang, Prancis, Swedia dan konsorsium Eropa dari Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Namun CNN tidak menyebut India yang juga telah membangun jet tempur ringan Tejas.

Dari segelintir negara tersebut, hanya Amerika Serikat, Rusia dan China yang telah mampu membangun jet tempur generasi kelima. Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan atau DAPA menyebut KF-21 sebagai jet tempur generasi 4,5.

KF-21 direncanakan akan menggantikan ratusan jet tempur di armada Korea Selatan namun juga juga memiliki potensi ekspor yang signifikan karena label harga dan biaya operasionalnya jauh lebih rendah daripada F-35. Thailand, Filipina, dan bahkan mungkin Irak bisa menjadi klien utama bagi jet tempur tersebut.

Seperti diketahui KF-21 adalah proyek bersama antara Korea Selatan dan Indonesia di mana Seoul memiliki 80% saham sementara Indonesia 20%. Setelah melakukan investasi tahap awal sebesar Rp2,9 triliun Jakarta terlambat dalam membayar sisanya. Namun dalam peluncuran, bendera merah putih tersemat di badan pesawat.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menghadiri acara peluncuran tersebut dan sempat melakukan pertemuan dengan Menhan Korea Selatan, Suh Wook di Seoul. Sejumlah media menyebut Indonesia sepakat melanjutkan proyek pembuatan jet tempur tersebut.  

Kementerian Pertahanan Indonesia mengatakan dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak  berdiskusi dan bertukar pandangan tentang beberapa hal strategis di bidang pertahanan dan keamanan. Salah satunya membahas mengenai kerja sama bilateral dan keamanan regional.

Korea Selatan sendiri mengatakan meski Indonesia terlambat dalam pembayaran untuk proyek tersebut tetapi negosiasi terus berlanjut.