Indonesia akan Kloning Rudal China?
- Kemenhan berharap penguasaan teknologi ini pada akhirnya akan mengarah pada keberadaan industri rudal anti-kapal dan kemampuan untuk memproduksi senjata di dalam negeri untuk mendukung angkatan bersenjata.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA-Sebuah konsorsium Indonesia yang sebagian besar terdiri dari badan usaha milik negara telah dibentuk. Mereka diberi tugas untuk merekayasa balik jenis rudal anti-kapal untuk dibangun di dalam negeri.
Sebagaimana dilaporkan Jane, konsorsium tersebut dipimpin oleh Direktorat Teknologi dan Industri Pertahanan Kementerian Pertahanan Indonesia dan BUMN PT Dirgantara Indonesia, perusahaan elektronik pertahanan PT Len, produsen bahan peledak PT Dahana, dan produsen kendaraan berat dan amunisi PT Pindad.
Sedangkan dua perusahaan swasta yang masuk dalam konsorsium adalah perusahaan software pertahanan PT Mulia Laksana Utama dan produsen kendaraan udara tak berawak PT Aero Terra Indonesia. Kementerian Pertahanan mengatakan kesepakatan untuk meresmikan konsorsium ditandatangani pada 1 April 2022.
- Respons Tren Work From Cafe, BRI Hadirkan Botani BRIWORK IPB
- Pejualan Ritel Trisula Textille (BELL) Naik Jadi Rp84,5 Miliar pada 2021
- Mengapa Aplikasi Binomo Bisa Menggiurkan bagi Banyak Orang? Begini Pendapat Ahli
Hal-hal yang diformalkan antara lain ruang lingkup pekerjaan yang akan digeluti oleh masing-masing perusahaan, serta proses pengujian dan sertifikasi yang akan dilakukan pada berbagai tahapan pembongkaran senjata tersebut.
Kemenhan berharap penguasaan teknologi ini pada akhirnya akan mengarah pada keberadaan industri rudal anti-kapal dan kemampuan untuk memproduksi senjata di dalam negeri untuk mendukung angkatan bersenjata.
Pernyataan Kementerian Pertahanan tidak mengungkapkan jenis rudal yang akan terlibat dalam proses rekayasa balik. Namun, gambar yang menyertai pernyataannya sangat mirip dengan rudal anti-kapal jarak menengah C-705 yang diproduksi oleh China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC). Rudal C-705 sendiri sudah digunakan oleh beberapa kapal perang Angkatan Laut Indonesia.
Transfer teknologi rudal ini sendiri sudah menjadi pembicaraan lama. Bahkan sudah sejak tahun 2013. Dirjen Potensi Keamanan Kementerian Pertahanan Indonesia saat itu Pos Hutabarat mengatakan kedua negara perlu memenuhi persyaratan hukum masing-masing tentang transfer teknologi.
Salah satu yang masih dibicarakan saat itu adalah berapa yang harus dibayar Indonesia untuk untuk transfer teknologi dari China.
Namun pada 2016 sempat terjadi insiden penembakan yang gagal dari rudal tersebut. Padahal peluncuran disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Rudal itu gagal diluncurkan segera setelah ditembakkan. Beberapa saat kemudian, rudal itu akhirnya meledak.
- Guci Batu Raksasa Misterius Ditemukan di India
- Harga Minyak Mentah Merosot Imbas Gencatan Senjata Yaman
- Jalur Ganda KA Bogor - Sukabumi Siap Beroperasi Pekan Depan, Waktu Tempuh Jadi 80 Menit!
Keluarga rudal jelajah C-705 dapat diluncurkan dari darat, kapal permukaan, dan pesawat terbang. Rudal dapat dilengkapi dengan pencari modular dan tersedia dalam versi radar, kamera dan pencitraan inframerah.
Informasi resmi mengenai C-704 dirilis dalam pameran dirgantara Zhuhai tahun 2006 dengan spesifikasi sebagai berikut:
Berdasarkan data public rudal ini membawa hulu ledak 130 kg dan terbang pada kecepatan subsonic tinggi. Jangkauan rudal adalah 35 km dan terbang pada ketinggian jelajah 15–20 meter. Tingkat probalisitas rudal adalah sekitar 97 persen. China sendiri mulai menggunakan rudal tersebut sejak 2006.
