Tren Global

Indeks Dolar Melemah, Tapi Rupiah Terpuruk, Ini Sebabnya

  • Dolar global melemah, namun Rupiah justru anjlok ke rekor terendah. Simak penjelasan lengkap faktor global dan domestik yang menekan Rupiah.
<p>Karyawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin atau 0,93 persen ke posisi Rp15.223 per dolar AS. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.</p>

Karyawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin atau 0,93 persen ke posisi Rp15.223 per dolar AS. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Nilai tukar Rupiah mencatat rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa, 20 Januari 2025. Pelemahan ini terjadi meski indeks dolar AS (DXY) bergerak melemah, mengindikasikan tekanan berasal dari faktor domestik. 

Dalam perdagangan intraday, Rupiah sempat menyentuh level 16.985 per dolar AS, mempertegas rapuhnya sentimen pasar terhadap aset Indonesia.

Tekanan utama datang dari menurunnya kepercayaan investor terhadap independensi bank sentral baik di indonesia mauapun di neara lain. 

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," jelas Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea.

Sejak awal Januari 2026, Rupiah telah melemah hampir 2 persen terhadap dolar AS, melanjutkan tekanan dari tahun sebelumnya ketika mata uang ini terdepresiasi sekitar 3,5 persen sepanjang 2025. 

Dengan kinerja tersebut, Rupiah kini berada di jajaran mata uang negara berkembang Asia dengan performa terburuk pada awal tahun, seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan domestik.

Baca juga : Asing Borong ASII, Kenapa BUMI dan BRPT Malah Terbang?

Dolar Sebenarnya Melemah

Perkembangan data terbaru menunjukkan realitas yang tidak sepenuhnya sejalan. Dalam 12 bulan terakhir, Dolar AS justru tercatat melemah sekitar 9,38 persen berdasarkan data pergerakan Indeks Dolar AS (DXY), yakni indikator yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia. 

Sejumlah proyeksi bahkan memperkirakan tren pelemahan masih akan berlanjut dalam 12 bulan ke depan, sehingga memunculkan pertanyaan baru mengenai relevansi menabung atau berinvestasi dalam dolar bagi anak muda Indonesia.

Meski selama ini dikenal sebagai mata uang global yang dominan, Dolar AS tetap bergerak mengikuti siklus ekonomi dunia. Dalam setahun terakhir, ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS, kebijakan moneter yang lebih longgar, serta pergeseran arus modal global menjadi faktor utama yang menekan nilai dolar.

Secara tahunan, DXY mengalami pelemahan signifikan, meski dalam jangka pendek masih menunjukkan fluktuasi penguatan bulanan. Sementara itu, nilai tukar USD/IDR per 20 Januari 2026 berada di level Rp 16.951,7 dan relatif stabil di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 17.000 sejak Desember 2025. 

Kendati demikian, secara historis Rupiah tetap mencatat tren depresiasi jangka panjang, termasuk pelemahan sekitar 50 persen dalam periode 2011 hingga 2020, yang membuat isu nilai tukar tetap relevan dalam perencanaan keuangan generasi muda.

Pelemahan dolar global tidak otomatis membuat Rupiah menguat. Pergerakan Rupiah ditentukan oleh dua level faktor sekaligus, faktor global dan faktor domestik Indonesia. Ketika faktor domestik lebih lemah dibanding tekanan global, Rupiah tetap bisa melemah meskipun dolar dunia sedang turun.

Baca juga : Optimalisasi Portofolio, APLN Jelaskan Penjualan Aset Mall

Alasan Pelemahan Rupiah

Dikutip dari laman Chanel News Asia, Selasa, 20 Januari 2025, berikut sederet alasan pelemahan rupiah, meski dolah juga tengah melemah,

Pertama, DXY melemah bukan berarti dolar melemah terhadap semua mata uang. Indeks DXY hanya mengukur dolar terhadap mata uang negara maju seperti euro, yen Jepang, pound sterling, dolar Kanada, dan franc Swiss. 

Jadi, ketika DXY turun 9,38 persen, itu berarti dolar melemah terhadap mata uang negara maju, bukan otomatis terhadap mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Rupiah memiliki karakter berbeda karena dianggap sebagai emerging market currency yang lebih berisiko.

Kedua, Rupiah sangat dipengaruhi persepsi risiko (risk sentiment) investor global. Ketika terjadi ketidakpastian global geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, konflik internasional, atau volatilitas pasar, investor cenderung menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti obligasi AS, emas, atau mata uang negara maju. 

Akibatnya, modal asing keluar dari Indonesia (capital outflow), permintaan dolar di dalam negeri naik, dan Rupiah melemah, meskipun dolar secara global sedang melemah terhadap euro atau yen.

Ketiga, faktor fundamental ekonomi domestik Indonesia juga sangat menentukan. Kebutuhan impor Indonesia yang tinggi, terutama untuk energi, pangan, bahan baku industri, dan teknologi, menciptakan permintaan dolar yang besar secara struktural. 

Setiap kali impor meningkat, permintaan dolar naik dan Rupiah tertekan. Ditambah lagi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam denominasi dolar turut meningkatkan kebutuhan valas, sehingga tekanan terhadap Rupiah tetap besar meski dolar global melemah.

Keempat, perbedaan suku bunga dan imbal hasil investasi turut memengaruhi arus modal. Jika imbal hasil aset di negara maju dianggap lebih menarik atau lebih aman, investor global akan mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang ke negara maju. 

Hal ini membuat aliran dana keluar dari Indonesia meningkat, memperlemah Rupiah, meskipun dolar secara global sedang turun terhadap mata uang lain.

Kelima, psikologi pasar dan ekspektasi juga berperan besar. Jika pelaku pasar memprediksi Rupiah akan melemah, maka permintaan dolar meningkat lebih dulu sebagai langkah antisipasi, sehingga pelemahan Rupiah menjadi self-fulfilling prophecy. 

Mekanisme ini membuat Rupiah bisa melemah bukan karena kondisi aktual dolar, tetapi karena ekspektasi kolektif pasar.

Dengan kata lain, dolar global dan Rupiah bergerak di dua arena yang berbeda. Dolar melemah di arena negara maju, sementara Rupiah bergerak di arena negara berkembang yang sangat sensitif terhadap risiko, arus modal, impor, utang luar negeri, dan sentimen investor. Inilah sebabnya, dolar bisa melemah secara global, tetapi Rupiah tetap anjlok secara domestik.

Kesimpulannya, pelemahan Rupiah bukan semata-mata soal kekuatan dolar, melainkan gabungan dari struktur ekonomi Indonesia, ketergantungan impor, arus modal asing, perbedaan tingkat risiko, dan psikologi pasar. 

Selama faktor-faktor domestik tersebut masih menekan, Rupiah tetap berpotensi melemah meskipun dolar dunia sedang dalam tren turun.