IHSG Tumbang dari Level 9.000, Data Ini Jadi Bandul
- IHSG terkoreksi ke 8.925 usai sentuh level 9.000. Pelajari kaitan pola Shooting Star, aksi profit taking, dan strategi menghadapi pembalikan arah pasar modal.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Euforia pelaku pasar modal yang sempat menyaksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level tertinggi sepanjang masa di 9.000 pada perdagangan Kamis, 8 Januari 2026, harus berakhir antiklimaks. Indeks acuan saham nasional ini gagal mempertahankan posisinya di zona hijau dan terpaksa ditutup melemah.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup terkoreksi di level 8.925,47 atau turun 0,22% pada akhir sesi. Pembalikan arah yang terjadi sangat cepat menjelang penutupan pasar ini menghapus keuntungan yang sempat diraih pada sesi pertama, meninggalkan pola pergerakan harga yang cenderung mengkhawatirkan bagi trader.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai volatilitas ini sebagai hal lumrah dalam dinamika pasar keuangan global. "IHSG yang naik ke 9.000 tadi itu baru awal, perkiraan saya akan naik terus karena ekonomi kita akan kita manage ke arah perbaikan," ujarnya optimis dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, pada Kamis, 8 Januari 2026.
Aksi Jual Sektoral dan Tekanan Fiskal
Sementara itu, Tim Riset Phintraco Sekuritas memiliki pandangan lebih waspada terkait fenomena pelemahan di akhir sesi ini. "IHSG ditutup melemah setelah sempat menembus level psikologis 9.000. Sektor basic material mencatatkan koreksi terbesar akibat profit taking setelah reli selama beberapa hari terakhir," tulis mereka dalam ulasannya hari ini.
Perusahaan efek menilia sentimen negatif yang mengambrolkan IHSG juga datang dari data fiskal terbaru yang cukup mengecewakan pelaku pasar domestik. "Defisit APBN mencapai Rp695,1 triliun per Desember 2025 atau setara 2,92% dari PDB, lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3% dari PDB," ungkap riset tersebut.
Realisasi ini melampaui target APBN 2025 sebesar 2,53% PDB. Phintraco menambahkan, "Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7% target, sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp2.602,3 triliun atau 96,3% dari anggaran."
Cadev Menguat di Tengah Ketidakpastian
Di sisi eksternal, cadangan devisa memberikan sedikit angin segar bagi stabilitas ekonomi nasional. Data cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$156,5 miliar di Desember 2025. Kenaikan ini didorong oleh penerimaan pajak, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri untuk pembangunan.
Level ini merupakan posisi tertinggi sejak Maret 2025 dan setara pembiayaan 6,4 bulan impor. "Selanjutnya investor akan menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif," tulis riset tersebut, mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap rilis data ekonomi riil pada esok hari.
Sinyal Bahaya 'Shooting Star' dan Pilihan Saham
Secara teknikal, pergerakan indeks membentuk pola candlestick yang rawan terhadap koreksi lanjutan jangka pendek. "IHSG membentuk pola Shooting Star yang mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli beberapa hari terakhir. Stochastic RSI berada di area overbought dan berpotensi membentuk Death Cross," jelas analisisnya.
Dengan kondisi tersebut, Phintraco memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji level 8.850-8.900. Investor disarankan bersikap defensif sambil menantikan fase konsolidasi. "Top picks kami untuk perdagangan besok adalah UNVR, ACES, SMDR, BKSL, dan SIDO," tutup riset tersebut merekomendasikan saham pilihan.

Alvin Bagaskara
Editor
