Tren Pasar

IHSG Terus Tertekan, Net Sell Asing Tembus Rp77,5 T di 2026

  • IHSG turun 3,71% sepekan dan 5,79% sebulan. Simak faktor yang menekan pasar, mulai dari aturan harga Rp1 hingga arus keluar asing.
IHSG Ditutup Menguat-3.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 94,03 poin atau 1,51% ke level 6.147,85 pada perdagangan Senin, 28 September 2026. 

Tekanan jual semakin kuat pada sesi kedua seiring pasar merespons perubahan aturan batas harga minimum saham, keluarnya 92 saham dari Papan Pemantauan Khusus (PPK), serta sentimen dari arus modal asing dan perubahan posisi Menteri Keuangan.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.140,3-6.227,8 sepanjang perdagangan. Volume transaksi mencapai 37,11 miliar saham dengan nilai Rp12,51 triliun dan frekuensi 1.652.859 kali.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 180 saham naik, 532 saham turun, dan 81 saham stagnan. Pelemahan tersebut menunjukkan tekanan pasar yang cukup luas. Hanya dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau, yakni sektor transportasi yang naik 0,47% dan energi 0,04%.

Sementara itu, sembilan sektor lainnya berada di zona merah. Sektor teknologi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 4,46%, disusul barang baku 3,33% dan barang konsumen siklikal 3,04%.

Baca juga : GOTO, INCO dan HRTA Tumbang di Penutupan LQ45 Hari Ini

Saham GOTO hingga INCO Jadi Pemberat

Tekanan terhadap IHSG juga datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. Di kelompok saham LQ45, penurunan terdalam antara lain terjadi pada GOTO sebesar 14%, diikuti INCO yang turun 5,98% dan HRTA sebesar 5,68%.

Khusus GOTO, saham tersebut turun ke level Rp43 setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menerapkan batas harga minimum saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1.

Pada perdagangan hari pertama penerapan aturan tersebut, GOTO bahkan sempat mencatat antrean jual sekitar 1 miliar lot di harga Rp43.

Pergerakan GOTO menjadi perhatian karena saham tersebut sebelumnya tertahan di level Rp50 selama beberapa bulan. Setelah batas bawah Rp50 dihapus, harga saham dapat bergerak ke bawah level tersebut sehingga proses pembentukan harga kembali berlangsung.

Baca juga : IHSG Makin Terperosok, Hari Ini Ditutup Anjlok 1,5 Persen

BEI memang mulai memberlakukan perubahan batas harga minimum saham pada 28 September 2026. Untuk saham pada rentang harga tertentu, mekanisme auto rejection juga mengalami penyesuaian.

Kondisi tersebut membuat saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 memiliki ruang untuk menemukan harga pasar baru. Namun, besarnya penurunan pada hari pertama tidak dengan sendirinya menunjukkan perubahan fundamental emiten.

92 Saham Keluar dari Papan Pemantauan Khusus

Sementara itu, mulai 28 September 2026 BEI juga mengeluarkan 92 efek dari Papan Pemantauan Khusus dan Full Call Auction (FCA), sedangkan 42 efek lainnya tetap berada dalam papan tersebut. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi dari penyempurnaan Peraturan BEI Nomor I-X dan II-X.

BEI menghapus empat kriteria penempatan pada Papan Pemantauan Khusus, yakni kriteria 1, 6, 7, dan 10. Saham yang sebelumnya ditempatkan di papan khusus hanya karena memenuhi kriteria yang dihapus kemudian dikembalikan ke papan pencatatan masing-masing.

Dari 92 saham yang keluar, 44 saham masih aktif diperdagangkan hingga Jumat, 25 September 2026. Sebanyak 28 saham di antaranya memiliki harga di bawah Rp50.

Beberapa saham bahkan berada di bawah Rp20, seperti BTEK, TAXI, KREN, PPRO, dan ASMI. Sejumlah saham BUMN seperti PPRO, WSKT, dan WIKA juga termasuk dalam daftar efek yang keluar dari Papan Pemantauan Khusus.

Baca juga : Saham Rp1 Berlaku, GOTO Langsung Ambles 14 Persen

Kembalinya saham-saham tersebut ke papan reguler mengubah mekanisme perdagangan dan kondisi likuiditasnya. Perubahan tersebut juga berlangsung bersamaan dengan penerapan batas harga minimum Rp1 sehingga menambah dinamika perdagangan pada saham-saham berharga rendah.

BEI menyebut penyempurnaan aturan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas perdagangan, transparansi, perlindungan investor, dan proses pembentukan harga di pasar.

Asing Masih Catat Net Sell

Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Berdasarkan data yang digunakan dalam perdagangan pekan sebelumnya, investor asing mencatat net sell Rp559,08 miliar pada Jumat, 25 September 2026.

Jika dihitung sepanjang pekan sebelumnya, akumulasi net sell asing mencapai Rp3,16 triliun. Sementara secara kumulatif sepanjang 2026, arus keluar bersih investor asing disebut mencapai Rp77,52 triliun.

Arus dana asing menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar karena transaksi investor asing dapat memengaruhi likuiditas dan tekanan permintaan maupun penawaran saham.

Dengan penurunan 1,51% pada perdagangan Senin, kinerja IHSG juga semakin tertekan dalam beberapa periode. Secara mingguan, IHSG turun 3,71%. Dalam periode satu bulan, IHSG melemah 5,79%. Namun, indeks masih mencatat kenaikan 2,48% dalam tiga bulan. Dalam enam bulan terakhir, IHSG terkoreksi 16,21%.

Dengan demikian, pelemahan IHSG pada 28 September 2026 berlangsung di tengah kombinasi perubahan struktural pada mekanisme perdagangan dan sentimen pasar.