Tren Pasar

IHSG Terus Koreksi, Saham Defensif Bisa jadi Alternatif

  • Pergerakan IHSG diperkirakan masih melanjutkan fase koreksi. Simak level support-resistance serta rekomendasi saham pilihan analis.
Ilustrasi IHSG Bursa Efek Indonesia-04.jpg
Karyawan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 7 Juni 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam fase tekanan pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Sejumlah sentimen global dan domestik membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi, sehingga strategi selektif menjadi kunci dalam menyusun portofolio.

Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat mengalami pelemahan hampir 5%. Tekanan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, proses rebalancing indeks MSCI, hingga munculnya sentimen terkait outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian pelaku pasar memilih melakukan aksi jual, sementara investor jangka menengah dan panjang mulai mencari peluang akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat yang mengalami koreksi harga.

Tim riset MNC Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berpotensi melanjutkan fase koreksi dalam struktur gelombang teknikal yang sedang berlangsung. 

Berdasarkan analisis Elliott Wave, indeks diperkirakan masih bergerak dalam fase wave [v] yang merupakan bagian dari wave A pada wave (2) dalam skenario utama mereka.

Baca juga : Menuntut Desain Ulang Program MBG

Elliott Wave atau Teori Gelombang Elliott sendiri merupakan metode analisis teknikal yang digunakan untuk memprediksi arah pergerakan harga saham, indeks, atau instrumen keuangan lainnya berdasarkan pola psikologi pasar yang berulang.

"Cermati area koreksi berikutnya di 5.755-5.814, untuk area penguatan terdekat berada di 5.958-5.984," dilansir dari riset MNC Sekuritas, Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar perlu mencermati kemungkinan tekanan lanjutan menuju area 5.755 hingga 5.814. Namun demikian, peluang pemulihan masih terbuka apabila IHSG mampu bergerak ke kisaran 5.958 sampai 5.984 sebagai target penguatan terdekat.

Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas memetakan area penopang (support) IHSG berada pada level 5.899 dan 5.755. Sementara itu, area penghalang kenaikan (resistance) diperkirakan berada di kisaran 6.111 hingga 6.286. 

Level-level tersebut dinilai penting untuk diperhatikan investor dalam menentukan strategi perdagangan di tengah volatilitas pasar yang masih cukup tinggi.

Strategi Buy on Weakness Jadi Pilihan

Di tengah volatilitas pasar, sejumlah analis merekomendasikan strategi buy on weakness, yakni membeli saham secara bertahap ketika harga mengalami penurunan pada level yang dinilai menarik.

Beberapa saham yang masuk dalam radar rekomendasi analis pada perdagangan hari ini antara lain:

  • PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan area beli pada kisaran Rp8.500 hingga Rp9.125.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan area akumulasi pada rentang Rp3.880 hingga Rp4.320.
  • PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang direkomendasikan untuk trading buy pada kisaran Rp1.340 hingga Rp1.430.
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan area buy on weakness di level Rp133 hingga Rp153.
  • PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) yang memperoleh rekomendasi speculative buy pada rentang Rp318 hingga Rp324.
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan area beli pada kisaran Rp2.530 hingga Rp2.600.

Menurut analis, saham-saham tersebut memiliki potensi teknikal yang menarik di tengah koreksi pasar, meskipun investor tetap perlu memperhatikan manajemen risiko dan perkembangan sentimen global.

Baca juga : IHSG Merosot Hampir 5 Persen di Pembukaan Hari Ini, Cek Datanya

Saham Defensif Menjadi Alternatif

Selain saham yang direkomendasikan untuk trading jangka pendek, sejumlah analis juga menilai sektor defensif masih layak diperhatikan saat pasar bergejolak.

Saham sektor konsumen primer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dinilai memiliki karakteristik yang relatif tahan terhadap perlambatan ekonomi karena produk-produknya merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masih dianggap memiliki valuasi yang menarik dengan dukungan bisnis digital dan telekomunikasi yang stabil.

Beberapa saham lain seperti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) juga kerap masuk dalam daftar pilihan investor yang mencari fundamental kuat di tengah ketidakpastian pasar.

Investor Disarankan Mencermati Data Real-Time

Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, investor maupun penulis berita pasar modal disarankan menggunakan sumber data real-time yang kredibel untuk memantau perkembangan terkini.

Data harga saham dan pergerakan indeks dapat diperoleh melalui aplikasi IDX Mobile yang menyediakan informasi resmi Bursa Efek Indonesia. Selain itu, sejumlah portal ekonomi dan pasar modal juga rutin memperbarui data perdagangan sepanjang hari.

Riset harian yang diterbitkan berbagai perusahaan sekuritas seperti MNC Sekuritas, BNI Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas, dan Indo Premier Sekuritas juga dapat menjadi referensi tambahan dalam memahami arah pasar dan rekomendasi saham harian.

Meski sejumlah saham memperoleh rekomendasi positif dari analis, keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta strategi investasi masing-masing investor. Volatilitas pasar yang tinggi dapat menciptakan peluang keuntungan, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian apabila tidak diimbangi dengan analisis yang matang.