Tren Pasar

IHSG Tertekan Isu APBN, Saham TLKM dan MBMA Layak Dicermati

  • IHSG rawan koreksi ke 8.725 akibat isu defisit APBN dan panic selling. Phintraco rekomendasikan saham TLKM, KLBF hingga MBMA. Cek analisisnya di sini.
Gedung Telkom.jpg
Gedung kantor Telkom di kawasan Gatot Subroto, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan level psikologis 9.000 pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026. Indeks ditutup melemah 0,58% ke level 8.884,72 akibat tekanan jual masif yang melanda saham-saham berkapitalisasi besar alias big caps seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra Internasional Tbk (ASII).

Pelemahan ini dipicu oleh aksi ambil untung pada saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi motor penguatan indeks. Pelaku pasar terlihat panik melepas posisi mereka di saham PT PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) guna mengantisipasi sentimen rebalancing indeks global yang akan segera diumumkan.

Tekanan jual tersebut sempat memicu panic selling hingga menyeret indeks ke level terendah harian sebelum akhirnya rebound terbatas. Tim Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways cenderung melemah dengan menguji area support krusial bagi saham PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) di rentang 8.725.

1. Sinyal Teknikal & Panic Selling

Secara teknikal, penutupan IHSG di bawah garis Moving Average 5 (MA5) memberikan sinyal kewaspadaan bagi para pelaku pasar. Indikator MACD dan Stochastic RSI kompak menunjukkan potensi berlanjutnya koreksi jangka pendek yang didukung oleh peningkatan volume penjualan yang cukup signifikan hari ini.

Aksi profit taking yang terjadi berubah menjadi kepanikan sesaat yang menekan valuasi saham berkapitalisasi besar secara agresif. Investor terlihat ragu untuk menahan posisi overnight di tengah ketidakpastian pasar yang meningkat, sehingga memilih langkah konservatif dengan melepas aset berisiko sementara waktu.

Phintraco memproyeksikan pergerakan indeks akan cenderung volatil dengan kecenderungan melemah dalam perdagangan jangka pendek besok. Phintraco menjelaskan alasannya, "Pelemahan saham-saham tersebut disinyalir juga mengantisipasi pengumuman MSCI mengenai kebijakan baru perhitungan free float yang akan diumumkan pada akhir bulan ini."

2. Paradoks Ritel & Pelemahan Rupiah

Dari sisi makroekonomi, data penjualan ritel Indonesia sebenarnya mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan 6,3% YoY pada November 2025. Angka ini membaik signifikan dibandingkan bulan Oktober yang hanya tumbuh 4,3% secara tahunan, menandakan daya beli masyarakat yang masih cukup terjaga saat ini.

Sayangnya, sentimen positif dari sektor riil tersebut tertutup oleh tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda terus tertekan hingga ditutup di level Rp16.855 per dolar AS seiring dengan tingginya ketidakpastian ekonomi global yang membayangi pasar.

Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa kondisi eksternal lebih mendominasi sentimen pasar dibandingkan data domestik yang membaik. Tim riset menambahkan, "Kekhawatiran akan prospek ekonomi domestik dan meningkatnya ketegangan geopolitik global menjadi faktor negatif."

3. Isu Defisit APBN 2026

Sentimen negatif baru yang muncul di pasar adalah kekhawatiran mengenai disiplin fiskal pemerintah pada tahun anggaran mendatang. Pelaku pasar mulai mencemaskan potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di tengah tekanan ekonomi global yang semakin berat bagi negara berkembang.

Isu ini menjadi sangat sensitif karena berkaitan langsung dengan kredibilitas pengelolaan keuangan negara di mata investor asing. Ada kecemasan bahwa anggaran belanja negara akan membengkak melebihi kapasitas penerimaan, sehingga memaksa pemerintah untuk menambah utang baru yang dapat membebani struktur makroekonomi jangka panjang.

Phintraco mencatat sentimen fiskal ini sebagai salah satu pemberat utama pergerakan indeks harga saham gabungan di awal pekan. Dalam risetnya disebutkan, "Munculnya kecemasan bahwa defisit APBN 2026 dapat melampaui batas 3% dari PDB, menambah tekanan."

4. Rekomendasi Saham Pilihan

Menghadapi volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan untuk tetap tenang dan selektif dalam memilih instrumen investasi. Strategi buy on weakness dapat diterapkan secara bertahap pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat namun harganya sudah terkoreksi cukup dalam akibat kepanikan sesaat.

Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi saham pilihan atau top picks untuk perdagangan hari Selasa, 13 Januari 2026. Saham-saham yang layak dicermati antara lain TLKM, KLBF, dan ASII yang dinilai defensif.

Selain itu, sektor perbankan syariah dan nikel juga masuk dalam radar pantauan tim riset Phintraco hari ini. Saham  danMBMA turut direkomendasikan sebagai pilihan diversifikasi portofolio yang menarik bagi investor agresif.