Tren Pasar

IHSG Crash, Auto Sell Trailing Stop Jadi Bumerang Investor

  • Trailing stop merupakan fitur manajemen risiko yang bekerja secara otomatis untuk menjual saham saat terjadi penurunan harga. Ini tips jitu penerapannya.
RATZWZOEG5DHVAU3TBGGIQJW3U.jpg
Ilustrasi saham gorengan. (Ajaib)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok tajam dalam waktu singkat pada perdagangan kemarin, 12 Januari 2025,  memicu kerugian bagi banyak investor ritel. 

Penurunan tersebut bukan semata-mata dipicu oleh memburuknya fundamental ekonomi. Fenomena ini kerap disebut pelaku pasar sebagai “crash by system”, yakni kejatuhan harga yang terjadi akibat eksekusi investor, bukan karena perubahan nilai intrinsik perusahaan. 

Salah satu kerugian yang dialami oleh Investor disebabkan penggunaan fitur Trailing Stop yang tidak tepat. Dikutip dari laman Quant Investing, Selasa, 13 Januari 2025, trailing stop merupakan fitur manajemen risiko yang bekerja secara otomatis dan diatur oleh investor sendiri untuk menujual saham mengikuti pergerakan harga saham. 

Saat harga naik, level stop ikut naik. Namun ketika harga turun menyentuh batas tertentu, sistem langsung mengeksekusi perintah jual.

Masalah muncul ketika IHSG turun cepat disertai lonjakan volatilitas. Banyak saham secara bersamaan menyentuh level trailing stop, sehingga order jual muncul dalam waktu yang hampir bersamaan. 

Likuiditas pasar pun menipis, harga saham jatuh lebih dalam, dan memicu trailing stop berikutnya. Kondisi ini menciptakan efek bola salju, di mana penurunan semakin tajam meski tidak didorong oleh sentimen fundamental.

Tekanan pasar saat IHSG melemah biasanya diperparah oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah panic selling yang terjadi di awal sesi perdagangan, ketika investor bereaksi cepat terhadap penurunan indeks. Selain itu, aksi risk-off dari investor asing atau pelaku besar juga mempercepat tekanan jual.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah penempatan trailing stop yang terlalu dekat dengan harga pasar. Dalam kondisi volatil, jarak stop yang sempit membuat saham mudah terpicu keluar, bahkan pada pergerakan harga yang sebenarnya masih tergolong wajar.

Baca juga : IHSG Tertekan Isu APBN, Saham TLKM dan MBMA Layak Dicermati

Harga Saham Jatuh, Lalu Memantul

Ironisnya, setelah tekanan jual mereda, IHSG dan sejumlah saham justru sempat kembali naik dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat banyak investor ritel mengalami kerugian ganda, keluar di harga rendah dan kehilangan momentum pemulihan harga.

Situasi tersebut memperkuat anggapan bahwa penurunan kemarin lebih dipicu oleh mekanisme teknikal dan psikologi pasar, bukan karena memburuknya prospek bisnis perusahaan secara menyeluruh.

Trailing stop sejatinya bukan alat yang keliru. Fitur ini dirancang untuk mengunci profit dan membatasi kerugian tanpa harus memantau pasar setiap saat. Selain itu, trailing stop juga membantu investor mengurangi keputusan emosional saat pasar bergerak cepat.

Namun di sisi lain, trailing stop memiliki kelemahan. Dalam pasar yang sangat volatil, fitur ini rentan terpicu secara prematur. Eksekusi order yang berubah menjadi market order juga berisiko terjadi di harga yang lebih rendah dari level stop, terutama saat pasar bergerak sangat cepat.

Kapan Trailing Stop Efektif Digunakan?

Trailing stop dinilai paling efektif saat pasar berada dalam tren naik yang kuat dan terarah. Alat ini juga cocok untuk strategi trading jangka pendek hingga menengah, terutama pada saham berlikuiditas tinggi seperti saham-saham blue chip.

Sebaliknya, trailing stop kurang ideal digunakan saat pasar bergerak tidak terarah, dipenuhi sentimen negatif, atau pada saham berkarakter volatil tinggi dan likuiditas rendah. 

Untuk investasi jangka panjang berbasis fundamental, fluktuasi harga harian dinilai bukan faktor utama, sehingga trailing stop otomatis sering kali justru menjadi jebakan.

Baca juga : Mau Beli ORI029? Cek Daftar Agen Penjual Resmi SBN di Sini

Strategi Mengatur Trailing Stop agar Tidak Terjebak

Pelaku pasar menyarankan agar trailing stop tidak dipasang terlalu ketat, khususnya saat volatilitas IHSG meningkat. Jarak 1–3 persen dinilai terlalu sempit dalam kondisi pasar yang bergejolak.

Untuk saham berkapitalisasi besar yang relatif stabil, jarak trailing stop di kisaran 5-8 persen dinilai lebih aman. Sementara untuk saham lapis kedua, ketiga, atau saham teknologi yang volatil, jarak 8-15 persen atau lebih dapat dipertimbangkan. 

Selain itu, penggunaan indikator volatilitas seperti Average True Range (ATR) juga dinilai lebih adaptif dalam menentukan level stop.

Sebagai alternatif, investor dapat menggunakan stop loss biasa dengan batas risiko tetap, atau menerapkan trailing stop manual dengan mencatat level stop sendiri dan mengeksekusi penjualan secara sadar. Pendekatan ini memberi ruang bagi investor untuk menilai konteks pasar sebelum mengambil keputusan.

Pelaku pasar juga mengingatkan bahwa tidak semua perusahaan sekuritas di Indonesia menyediakan fitur trailing stop otomatis, sehingga investor perlu memahami mekanisme eksekusi di masing-masing broker.

Pada akhirnya, trailing stop adalah alat manajemen risiko yang kuat, namun bukan strategi yang berdiri sendiri. Penggunaan fitur ini perlu disesuaikan dengan kondisi pasar, volatilitas saham, serta tujuan investasi masing-masing investor.