IHSG Berpeluang Menguat Usai Libur Panjang, Saham BBNI hingga RAJA Dijagokan pada Pekan Ini
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali dibuka pada Selasa, 10 Juni 2025, setelah libur panjang Lebaran dan cuti bersama Hari Raya Iduladha. Indo Premier Sekuritas memproyeksikan tren penguatan berlanjut, didorong meredanya tensi dagang AS–China.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali dibuka pada Selasa, 10 Juni 2025, setelah libur panjang Lebaran dan cuti bersama Hari Raya Iduladha. Indo Premier Sekuritas memproyeksikan tren penguatan berlanjut, didorong meredanya tensi dagang AS–China.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi, menjelaskan bahwa secara teknikal, IHSG pekan lalu membentuk pola hammer, yang mencerminkan toleransi pasar terhadap peningkatan eskalasi perang dagang.
Imam bilang pertemuan AS-China pekan ini dinilai bakal menjadi sentimen bullish bagi pasar. ”Maka dari itu, IHSG kami proyeksi akan cenderung menguat dengan resistance di 7.325 dan support 6.994,” katanya dalam riset, Selasa, 10 Juni 2025.
- Negosiasi Panjang Freeport: IUPK, Tambang Raksasa, dan Taruhan Ekonomi Nasional
- Kisah Tambang Nikel: dari Raja Ampat, Morowali dan Halmahera Tengah
- Prakiraan Cuaca Besok dan Hari Ini 10 Juni 2025 untuk Wilayah DKI Jakarta
Diberitakan sebelumnya oleh TrenAsia bahwa sepanjang pekan lalu performa IHSG secara mingguan mengalami penurunan sebesar 1,19%. Namun, secara year-to-date, IHSG masih mencatat penguatan tipis sebesar 0,47% dalam periode perdagangan empat hari tersebut.
Senada dengan Imam, Pliarmas Investindo Sekuritas, dalam ulasannya pada pekan lalu, melihat ke depan pasar bersikap optimis seiring kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed. “Pelemahan aktivitas ekonomi AS dan laporan Beige Book memperkuat peluang pelonggaran kebijakan moneter,” jelas Pilarmas dikutip pada Jumat, 6 Juni 2025.
Berkaitan dengan penurunan IHSG pada pekan lalu, Pilarmas bilang investor cenderung melakukan profit taking untuk menghindari risiko volatilitas. Kendati begitu, stimulus fiskal seperti pencairan gaji ke-13 dan momentum libur sekolah diperkirakan mendorong konsumsi masyarakat.
“Konsumsi meningkat terutama di sektor ritel dan jasa, yang menjadi katalis positif bagi pasar domestik. Kondisi ini diyakini bisa menopang penguatan IHSG dalam jangka pendek di tengah ketidakpastian global dan domestik,” kata Pilarmas.
Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan pekan lalu, IHSG berada di level 7.113,42. Sepanjang periode 2 hingga 5 Juni 2025, pasar saham Indonesia mencatatkan aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp4,7 triliun.
Rekomendasi Saham
Sementara itu, Indo Premier Sekuritas, pada perdagangan pekan ini yang berlangsung 10-13 Juni 2025, perusahaan dengan kode broker PD itu merekomendasikan sejumlah saham unggulan. Salah satunya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tb. (BBNI), yang direkomendasikan untuk buy on breakout di level Rp4.450, dengan target harga Rp4.630 dan stop loss di bawah Rp4.360.
Imam menilai BBNI akan diuntungkan dari meredanya perang dagang, apalagi BBNI tercatat sebagai top inflow di antara bank-bank besar pada Kamis pekan lalu. Secara teknikal, BBNI juga dinilai bergerak dalam tren sideways, namun berpotensi membentuk pola cup and handle yang mengindikasikan pembalikan arah tren dalam jangka menengah.
Selain BBNI, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) juga masuk dalam radar Indo Premier, dengan rekomendasi buy on breakout di Rp2.710, target harga Rp2.880, dan stop loss di bawah Rp2.630. RAJA dinilai memiliki potensi besar dari naiknya harga jual minyak akibat eskalasi perang dagang.
Terakhir, saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga direkomendasikan beli pada level Rp1.035, dengan target harga Rp1.105 dan stop loss jika turun di bawah Rp1.000. Saham ini diyakini akan diuntungkan dari meredanya ketegangan perdagangan global.
Imam menambahkan SSIA merupakan perusahaan yang bergerak di sektor properti, khususnya dalam pengembangan lahan di kawasan industri, dan dinilai sebagai salah satu emiten yang paling berpotensi menarik minat investor asing di tengah perbaikan sentimen pasar itu.

Ananda Astridianka
Editor
