Tren Pasar

IHSG Berdarah, Jangan Asal Serok Bawah

  • Menkeu Purbaya minta investor serok bawah saat IHSG anjlok ke 6.400. Tapi IHSG masih turun hari ini. Sebelum beli, cek 5 hal penting ini agar tidak terjebak.
Ilustrasi Pengamatan IHSG - Panji 1.jpg
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Kamis 16 Maret 2023. Hari ini (17/3) IHSG dibuka menguat 49,65 poin atau 0,76 persen ke posisi 6.615,3. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 9,87 poin atau 1,09 persen ke posisi 917,3. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saat IHSG ambruk ke level 6.400 kemarin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil di Lanud Halim Perdanakusuma dengan pesan singkat penuh keyakinan. "Jangan takut serok ke bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham," kata Purbaya, Senin, 18 Mei 2026.

Sehari kemudian, Selasa, 19 Mei 2026, IHSG dibuka melemah lagi 0,46 persen ke level 6.568. Dalam sesi pertama sempat anjlok 3,08 persen ke 6.396 sebelum sedikit memulih. Prediksi "sehari dua hari balik" tampaknya belum terbukti.

Terkadang ada konteks yang tak disampaikan dalam nasihat serok bawah. Bagi investor pemula yang baru pertama kali menghadapi pasar sepanas ini, konteks itulah yang menentukan apakah serok bawah jadi peluang atau jebakan.

Kapan Serok Bawah Benar-Benar Berhasil?

Konsep serok bawah punya rekam jejak yang solid dalam sejarah pasar modal Indonesia. Informasi yang dihimpun TrenAsia, Selasa, IHSG pernah anjlok ke sekitar 1.100 saat krisis 2008, lalu dalam dua tahun kembali ke 3.700. 

Saat Covid-19 melanda Maret 2020, IHSG jatuh ke level 3.900-an sebelum akhirnya naik kembali melewati 7.000 pada 2021. Investor yang masuk di titik terendah kedua momen itu mencatat keuntungan yang sangat besar.

Tapi ada satu hal yang membedakan momen-momen itu dengan kondisi sekarang: penyebabnya sudah diketahui dan solusinya bisa terukur. Krisis 2008 dipicu masalah subprime mortgage AS. Covid-19 adalah guncangan eksternal yang luar biasa tapi bersifat sementara dan bisa diselesaikan dengan vaksin. 

Dalam dua kasus itu, pasar jatuh karena sentimen, bukan karena masalah struktural dalam negeri. Kondisi Mei 2026 berbeda. IHSG sudah terkoreksi 23,68 persen sepanjang tahun berjalan, dengan akumulasi net sell asing mencapai Rp50,63 triliun sejak awal 2026. 

Setidaknya ada empat masalah yang belum selesai sekaligus. MSCI mendepak enam saham besar Indonesia, rupiah di all-time low Rp17.730, keputusan BI Rate belum keluar, dan geopolitik Timur Tengah masih bergejolak.

Hal yang Harus Dicek Sebelum Masuk

Serok bawah bukan tentang membeli saham yang harganya sedang murah. Serok bawah yang berhasil adalah membeli saham yang harganya murah karena sentimen, bukan karena fundamentalnya sedang rusak. Bedanya besar.

Diolah dari berbagai sumber, ini lima pertanyaan yang harus kamu jawab dulu:

Apakah kamu tahu kenapa saham ini turun?

Kalau jawaban kamu "karena IHSG turun semua," itu belum cukup. Saham DSSA dan TPIA kemarin menyentuh auto rejection bawah bukan hanya karena pasar panik, tapi karena keduanya baru didepak dari MSCI, yang memaksa ribuan ETF global menjualnya sebelum 29 Mei. 

DSSA ditutup turun 14,98 persen ke level 880 dan TPIA anjlok 14,88 persen ke 3.660, keduanya menyentuh ARB sejak sesi pagi. Forced selling dari dana pasif belum selesai, masih berlangsung sampai 29 Mei. Membeli sekarang berarti masuk ke arus jual yang belum berhenti.

Apakah fundamentalnya masih bagus?

Ini yang paling penting dan paling sering dilewati investor pemula. Harga turun bukan otomatis berarti nilai perusahaannya ikut turun. ASII kemarin justru naik 4,35 persen karena bisnisnya defensif dan tidak terekspos masalah free float. 

Di balik tekanan MSCI, ada peluang rotasi inflow ke saham yang bobotnya naik di indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, dan TOWR. Saham-saham ini menarik bukan karena harganya murah, tapi karena ada alasan struktural mengapa aliran dana akan masuk ke sana.

Apakah kamu punya cukup likuiditas untuk tunggu?

Ini yang paling jarang dibahas tapi paling kritis. Serok bawah hanya masuk akal kalau kamu tidak butuh uang itu dalam waktu dekat. Analis memperkirakan support IHSG saat ini ada di area 6.270 dan 6.148. 

Artinya dari level sekarang masih ada potensi turun 6-8 persen lagi dalam skenario bearish. Kalau kamu masuk hari ini dan bulan depan butuh uang untuk bayar cicilan atau keperluan mendesak lain, kamu akan terpaksa jual di harga bawah, persis yang seharusnya dihindari.

Sudahkah kamu hitung dampak RDG BI?

Ini variabel yang paling menentukan arah IHSG dalam 48 jam ke depan. Dalam jajak pendapat Reuters terhadap 29 ekonom, 16 di antaranya memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5 persen pada 20 Mei ini. 

Kalau BI naik, saham perbankan dan properti — dua sektor terbesar di IHSG — langsung tertekan karena biaya kredit naik. Kalau BI tahan, rupiah berisiko lanjut melemah dan tekanan dari sisi lain datang lagi.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menilai kenaikan kecil yang terukur dapat dilihat sebagai biaya stabilisasi untuk mencegah tekanan yang lebih mahal di kemudian hari, seperti biaya impor yang melonjak dan tergerusnya margin dunia usaha. 

Tapi di jangka pendek, kenaikan suku bunga hampir selalu menekan harga saham terlebih dahulu sebelum efek positifnya ke rupiah terasa.

Apakah ini "serok bawah" atau sekadar FOMO terbalik?

FOMO atau fear of missing out biasanya soal takut ketinggalan kenaikan. Tapi ada versi terbalik yang sama berbahayanya: takut ketinggalan harga murah, sehingga masuk terlalu cepat sebelum pasar benar-benar stabil. 

Kesalahan paling umum investor pemula adalah langsung membeli banyak saham ketika pasar turun, padahal pasar bisa turun lebih dalam lagi.

Strategi yang Lebih Aman

Kalau setelah melewati lima pertanyaan di atas kamu masih yakin ingin masuk, ada cara yang lebih terukur. Dollar Cost Averaging atau DCA adalah pilihan yang paling cocok untuk kondisi seperti ini. 

Bukan masuk dengan seluruh modal sekarang, tapi bagi ke tiga atau empat tahap selama beberapa minggu ke depan. Kalau IHSG ternyata turun lagi ke 6.270, kamu masih punya amunisi untuk beli lebih murah. Kalau langsung naik, kamu sudah dapat sebagian.

Fokus ke saham yang bukan bagian dari isu struktural saat ini. Saham yang terdampak forced selling MSCI seperti AMMN, DSSA, TPIA, BREN, CUAN, dan AMRT berpotensi masih ada tekanan sampai 29 Mei. Sebaliknya, saham dengan fundamental kuat yang ikut terkoreksi karena sentimen umum adalah kandidat yang lebih menarik.

Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset menyarankan investor tetap mencermati saham dengan fundamental kuat, valuasi murah, serta tanda pembalikan tren. “Kami memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 4,75 persen, dan ekspektasi penahanan ini bisa menjadi penopang sementara bagi pasar," ujarnya dalam keterangan resmi. 

Seringkali, kamu tidak harus masuk di titik terendah untuk cuan. Investor yang masuk 10 persen setelah bottom, saat pemulihan sudah mulai terlihat, masih bisa untung besar dengan risiko jauh lebih kecil dibanding yang masuk saat pasar masih bebas jatuh.

Yang Perlu Dipantau Investor

Ada tiga katalis yang menentukan arah pasar dalam 48 jam ke depan.

Pertama, keputusan BI Rate besok pukul 14.00 WIB. Kenaikan 25 bps ke 5 persen kemungkinan besar sudah sebagian di-price-in pasar, tapi reaksi tetap bisa tajam ke dua arah tergantung sinyal yang diberikan Perry Warjiyo soal arah suku bunga ke depan.

Kedua, perkembangan perundingan AS-Iran. Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan ke Iran dan membuka peluang pelonggaran sanksi minyak Iran. Jika kesepakatan terwujud, harga minyak turun, tekanan rupiah berkurang, dan sentimen pasar bisa berbalik cepat.

Ketiga, sesi closing auction 29 Mei. Ini tanggal efektif rebalancing MSCI — hari di mana ribuan ETF global selesai menyesuaikan portofolio mereka. Setelah tanggal itu, satu sumber tekanan terbesar di pasar resmi selesai.

Gubernur BI Perry Warjiyo sendiri meyakini rupiah akan menguat mulai Juli-Agustus karena permintaan dolar musiman, untuk pembayaran dividen dan biaya haji, akan mereda. "Dari tahun ke tahun rupiah itu memang umumnya dalam tekanan April, Mei, Juni. Tapi Juli-Agustus akan menguat," kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin.

Serok bawah adalah strategi, bukan jaminan. Menkeu boleh optimistis. Namun, keputusan investasi adalah tanggung jawab kamu sendiri, bukan tanggung jawab pejabat yang memberikan klaim atau nasihat.