IHSG Bearish, Averaging Down Agresif Bisa Kontraproduktif
- PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengimbau investor untuk menghindari strategi averaging down secara agresif di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengimbau investor untuk menghindari strategi averaging down secara agresif di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tren bearish dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat.
Equity Analyst IPOT Hari Rachmansyah mengatakan strategi yang paling prudent saat ini adalah mengutamakan preservasi modal dengan mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah yang memiliki likuiditas rendah.
"Dalam kondisi seperti ini, strategi yang paling prudent bagi investor adalah defense first, prioritaskan preservasi modal dan menghindari averaging down secara agresif sebelum ada konfirmasi stabilisasi rupiah dan sinyal bottoming yang jelas dari price action," ujar Hari.
Menurutnya, tekanan terhadap IHSG masih cukup berat memasuki perdagangan 8-12 Juni 2026.
Kombinasi inflasi Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen secara tahunan, nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS, serta akumulasi net foreign sell yang telah mencapai Rp60,8 triliun sepanjang tahun berjalan mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Sepanjang perdagangan 2-5 Juni 2026, IHSG tercatat anjlok 8,69 persen. Pelemahan tersebut dipicu sejumlah faktor, mulai dari rebalancing indeks FTSE Russell yang mengeluarkan beberapa saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, GOTO, dan NCKL, hingga meningkatnya tekanan ekonomi domestik dan global.
Aksi penyesuaian indeks FTSE memicu forced selling yang terkonsentrasi dan mempercepat arus keluar dana asing. Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp7,4 triliun di pasar reguler dalam sepekan terakhir.
Di sisi domestik, inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi serta pelemahan rupiah memperburuk sentimen pasar.
Sementara dari eksternal, pasar global juga menghadapi tekanan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Memasuki pekan ini, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting seperti cadangan devisa Mei 2026, indeks keyakinan konsumen, dan penjualan ritel yang dinilai dapat menjadi indikator ketahanan ekonomi nasional.
Meski masih berhati-hati terhadap prospek pasar jangka pendek, Hari menilai investor jangka menengah dapat mulai mencermati saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan consumer staples, yang valuasinya telah berada pada level menarik secara historis.
Namun, akumulasi disarankan dilakukan secara bertahap dengan porsi terbatas sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter Bank Indonesia serta stabilisasi nilai tukar rupiah.
IPOT merekomendasikan beberapa saham untuk trading jangka pendek, yakni PT Timah Tbk (TINS), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR).***
Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Bunga Citra pada 08 Jun 2026

Chrisna Chanis Cara
Editor
