IHSG Ambruk Efek MSCI: Akhir Era Emerging Market RI?
- IHSG ambruk 6,8% usai MSCI bekukan saham Indonesia akibat isu free float. Saham BUMI, PTRO, hingga PANI rontok kena ARB.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengalami kejatuhan parah pada pembukaan perdagangan pagi ini Rabu 28 Januari 2026. Indeks komposit terpantau langsung ambruk dalam hingga menyentuh angka penurunan 6,8% ke level 8.369,48 sesaat setelah bel pembukaan pasar dibunyikan.
Kepanikan massal melanda lantai bursa setelah penyedia indeks global MSCI mengeluarkan peringatan sangat keras bagi pasar modal Indonesia. Lembaga tersebut memutuskan untuk membekukan sementara perlakuan indeks terhadap saham saham Indonesia akibat kekhawatiran serius terkait masalah free float dan aksesibilitas.
Data perdagangan mencatat sebanyak 488 saham memerah parah dan hanya 62 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Nilai transaksi pagi ini langsung melonjak mencapai Rp2,62 triliun yang melibatkan miliaran lembar saham di tengah aksi jual panik investor domestik maupun asing.
1. IHSG Ambruk Parah
Tekanan jual yang sangat masif membuat ratusan saham berjatuhan tanpa ampun pada sesi pertama perdagangan hari ini. Statistik bursa mencatat dominasi warna merah di mana hampir lima ratus emiten mengalami koreksi harga yang signifikan secara bersamaan pagi ini di pasar reguler.
Volume perdagangan tercatat sangat tinggi mencapai 3,94 miliar lembar saham yang berpindah tangan dalam ratusan ribu kali frekuensi transaksi. Aktivitas transaksi yang padat ini menunjukkan betapa besarnya gelombang pelepasan aset oleh investor yang merespons negatif kabar buruk dari pasar global.
Posisi indeks yang tergerus hingga minus 4,5% pada pukul 09.14 WIB semakin mempertegas besarnya tekanan pasar saat ini. Investor asing maupun domestik tampaknya memilih langkah aman dengan segera melikuidasi portofolio mereka guna menghindari kerugian yang jauh lebih dalam di kemudian hari.
2. Sanksi Keras MSCI
Dalam pengumuman resmi yang dirilis Selasa malam waktu GMT MSCI menyatakan telah menyelesaikan konsultasi terkait penilaian saham Indonesia. Keputusan akhirnya adalah penerapan interim freeze yang melarang adanya kenaikan bobot atau penambahan saham baru Indonesia ke dalam indeks global untuk sementara.
Meskipun ada perbaikan minor MSCI menilai langkah tersebut belum cukup menjawab kekhawatiran investor global soal transparansi data pasar. "Langkah ini diambil untuk membatasi risiko turnover indeks dan menjaga aspek investability," tulis manajemen MSCI dalam keterangan resminya yang dikutip hari Rabu ini.
Kebijakan keras ini mencakup penghentian seluruh penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI di masa mendatang. Selain itu tidak akan ada kenaikan kelas saham Indonesia di seluruh segmen indeks hingga permasalahan transparansi dan akses pasar benar benar terselesaikan secara tuntas.
3. Ancaman Turun Kasta
Bahaya yang lebih besar kini mengintai pasar modal Indonesia jika tidak ada perbaikan signifikan hingga bulan Mei 2026 mendatang. MSCI secara terbuka membuka opsi pengurangan bobot Indonesia dalam keranjang MSCI Emerging Markets yang menjadi acuan banyak manajer investasi di dunia.
Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa risiko penurunan status ini bukan sekadar ancaman kosong belaka bagi pasar kita. "Ini risiko besar, karena bisa memicu outflow asing struktural, bukan cuma sementara," sebut mereka dalam riset yang dipublikasikan hari ini.
Skenario terburuk yang paling ditakutkan adalah potensi reklasifikasi status Indonesia turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Penurunan status ini akan menjadi pukulan telak bagi kredibilitas pasar modal nasional dan bisa memicu keluarnya dana asing secara permanen dari Indonesia.
4. Rincian Harga Saham
Saham konglomerat menjadi korban paling parah dalam aksi jual massal pagi ini akibat sentimen negatif global tersebut. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpantau langsung menyentuh batas auto rejection bawah atau ARB dengan penurunan tajam sebesar 14,53% pada sesi perdagangan pagi.
Nasib serupa dialami emiten konstruksi pertambangan PT Petrosea Tbk (PTRO) yang harganya terkoreksi sangat dalam hingga menyentuh 14,87%. Sementara itu emiten gas PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) juga tidak berdaya menahan tekanan jual dengan penurunan harga minus 15% seketika.
Daftar panjang kejatuhan ini ditambah oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang anjlok 14,97% pagi ini. Raksasa properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) pun harus rela kehilangan kapitalisasi pasarnya setelah harga sahamnya tercatat minus 14,89% di papan bursa.
5. Analisis Broker
Riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas menyoroti kesimpulan MSCI bahwa data kepemilikan saham di Indonesia masih dianggap kurang transparan oleh asing. "Walau ada perbaikan data dari IDX, masalah investability inti belum dianggap selesai," sebut BRIDS mengulas inti permasalahan pengumuman MSCI tersebut.
Broker tersebut menegaskan bahwa investor jangan terlalu berharap ada sentimen positif instan dari regulator indeks global dalam waktu dekat. "Tidak ada kabar baik dari MSCI dalam waktu dekat, tapi belum ada penurunan bobot juga," tambah analis BRIDS dalam risetnya.
Investor global mengkhawatirkan struktur kepemilikan yang tidak jelas serta tingginya konsentrasi kepemilikan saham pada segelintir pihak tertentu. Praktik perdagangan yang terkoordinasi atau coordinated trading juga menjadi sorotan tajam karena dianggap dapat mengganggu pembentukan harga yang wajar dan efisien di pasar reguler.

Alvin Bagaskara
Editor
