Honda Vs Yamaha, Siapa Penguasa Bisnis Motor Indonesia?
- Honda dan Yamaha mendominasi pasar sepeda motor Indonesia. Simak pangsa pasar, kekuatan after-sales, hingga peluang motor listrik.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Bisnis sepeda motor Indonesia masih dikuasai oleh dua merek besar, yakni Honda dan Yamaha. Keduanya menjadi pemain jumbo yang mendominasi penjualan sepeda motor nasional sekaligus memiliki jaringan distribusi dan layanan purna jual yang luas.
Pada 2025, total penjualan sepeda motor domestik mencapai sekitar 6,41 juta unit. Angka tersebut meningkat sekitar 1,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, Honda menjadi merek dengan penjualan terbesar. Yamaha berada di posisi kedua, sedangkan merek seperti Suzuki, Kawasaki, TVS, hingga pemain motor listrik harus memperebutkan pangsa pasar yang jauh lebih kecil.
Kondisi tersebut membuat pasar sepeda motor Indonesia pada dasarnya menjadi duopoli Honda dan Yamaha.
Baca juga : Bank SMBC Indonesia Hadirkan Musisi Kelas Dunia Andrea Bocelli
Honda Vs Yamaha
Honda masih menjadi pemimpin pasar sepeda motor Indonesia dengan jarak yang cukup jauh dari pesaingnya. Sepanjang 2025, Honda mencatat penjualan sekitar 4,98 juta unit. Dengan total pasar nasional sekitar 6,41 juta unit, Honda menguasai sekitar 76%-78% pasar sepeda motor Indonesia.
Dominasi tersebut membuat Honda menjadi merek sepeda motor yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia.
Kekuatan Honda tidak hanya berasal dari produk yang ditawarkan. Ekosistem bisnis Honda juga didukung jaringan dealer, pembiayaan, distribusi suku cadang, hingga bengkel resmi yang tersebar di berbagai daerah.
Jaringan layanan purna jual tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan posisi Honda sebagai pemimpin pasar.
Salah satu aset penting Honda adalah jaringan AHASS atau Astra Honda Authorized Service Station. Jaringan tersebut menjadi tempat konsumen mendapatkan layanan perawatan dan perbaikan sepeda motor Honda, sekaligus membeli suku cadang resmi.
Besarnya jumlah pengguna Honda membuat bisnis after-sales memiliki potensi yang sangat besar. Semakin banyak motor Honda yang beredar di jalan, semakin besar pula kebutuhan konsumen terhadap servis berkala, oli, suku cadang, ban, hingga berbagai komponen lainnya.
Di wilayah Jakarta dan Tangerang saja, sekitar 3,9 juta unit sepeda motor Honda tercatat mendapatkan layanan servis sepanjang 2025 melalui 293 jaringan AHASS.
Angka tersebut menggambarkan besarnya ekosistem purna jual yang dimiliki Honda. Dengan demikian, Honda tidak hanya mendapatkan pendapatan dari penjualan motor baru, tetapi juga memiliki peluang bisnis berulang dari kendaraan yang sudah berada di tangan konsumen.
Baca juga : Bank SMBC Indonesia Hadirkan Mahakarya Musik Andrea Bocelli di Indonesia
Yamaha berada di posisi kedua dalam pasar sepeda motor Indonesia. Pada 2025, Yamaha diperkirakan menguasai sekitar 19% pasar sepeda motor nasional. Dengan pangsa tersebut, Yamaha menjadi satu-satunya pesaing yang memiliki skala cukup besar untuk menantang dominasi Honda.
Persaingan Honda dan Yamaha berlangsung di berbagai segmen, mulai dari motor matik, motor sport, hingga motor bebek. Namun, skutik menjadi medan pertempuran terbesar karena jenis motor ini mendominasi pasar nasional.
Yamaha juga terus memperkuat bisnis setelah penjualan kendaraan melalui strategi after-sales. Portofolio bisnis purna jual Yamaha mencakup suku cadang, oli, aksesori, hingga apparel. Perluasan portofolio tersebut membuat bisnis Yamaha tidak hanya bergantung pada penjualan unit motor baru.
Jaringan dealer dan bengkel resmi juga menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan dengan konsumen setelah pembelian kendaraan.
Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Layanan Internet Indonesia? Ini Jawabannya
Skutik Menguasai Pasar Motor Indonesia
Salah satu perubahan terbesar dalam industri sepeda motor Indonesia adalah dominasi motor skutik atau motor matik. Pada 2025, skutik menguasai sekitar 91,7% pasar sepeda motor nasional.
Sementara itu, motor bebek hanya memiliki pangsa sekitar 4,46%, sedangkan motor sport sekitar 3,51%. Besarnya dominasi skutik menunjukkan perubahan preferensi masyarakat Indonesia terhadap kendaraan roda dua.
Kemudahan penggunaan, kepraktisan untuk aktivitas sehari-hari, kapasitas bagasi, serta kemudahan pengoperasian menjadi sejumlah faktor yang membuat motor matik semakin dominan.
Dominasi skutik juga membuat persaingan Honda dan Yamaha semakin terkonsentrasi pada segmen tersebut.
Honda memiliki sejumlah produk skutik yang menjadi tulang punggung penjualan, sementara Yamaha juga mengandalkan berbagai model matik untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
Di luar Honda dan Yamaha, terdapat sejumlah merek lain seperti Suzuki, Kawasaki, TVS, hingga berbagai merek motor listrik. Secara keseluruhan mereka hanya memperebutkan sekitar 5% pasar sepeda motor Indonesia.
Posisi tersebut menunjukkan betapa sulitnya pemain baru maupun pemain lama di luar dua raksasa tersebut untuk meningkatkan pangsa pasar secara signifikan.
Tantangan mereka bukan hanya soal produk, tetapi juga jaringan dealer, ketersediaan suku cadang, bengkel, pembiayaan, hingga kepercayaan konsumen.
Dalam bisnis kendaraan bermotor, jaringan tersebut sangat penting karena konsumen tidak hanya membeli kendaraan, tetapi juga membutuhkan layanan selama bertahun-tahun setelah pembelian.
Baca juga : WN China Selundupkan 22 Kg Emas, Segede Apa Tambang Ilegal RI?
Motor Listrik Masih Jadi Pemain Kecil
Di tengah dominasi motor bensin, kendaraan roda dua listrik mulai masuk ke pasar Indonesia. Namun, kontribusinya masih relatif kecil, pangsa pasar motor listrik pada 2025 masih berada di bawah 1%.
Sejumlah pemain lokal seperti United E-Motor dan MAKA Motors mencoba memperbesar pasar melalui strategi yang berbeda, termasuk menawarkan layanan purna jual dan program servis untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
Salah satu tantangan terbesar motor listrik adalah membangun ekosistem yang setara dengan pemain konvensional. Konsumen membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan bengkel, suku cadang, baterai, teknisi, serta nilai jual kembali kendaraan.
Karena itu, persaingan motor listrik ke depan tidak hanya ditentukan oleh harga dan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun jaringan after-sales.

Muhammad Imam Hatami
Editor
