Holding Ultra Mikro, Kanibalisme atau Asa Perbaikan Kinerja?
JAKARTA – Pengamat pasar modal, Edhi Pranasidhi menganalisis pembantukan Holding Ultra Mikro yang melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Permodalan Nasional Madani (Persero), dan PT Pegadaian (Persero) tak menimbulkan praktek kanibalisme. “Holding Ultra Mikro tampaknya tidak akan menjadi praktek kanibalisme antara unit BBRI lain seperti Bank BRI Agroniaga (AGRO) karena ceruk pasar yang […]

Ananda Astri Dianka
Author


Gedung BRI di Kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. / Bri.co.id
(Istimewa)JAKARTA – Pengamat pasar modal, Edhi Pranasidhi menganalisis pembantukan Holding Ultra Mikro yang melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Permodalan Nasional Madani (Persero), dan PT Pegadaian (Persero) tak menimbulkan praktek kanibalisme.
“Holding Ultra Mikro tampaknya tidak akan menjadi praktek kanibalisme antara unit BBRI lain seperti Bank BRI Agroniaga (AGRO) karena ceruk pasar yang berbeda,” kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis 17 Juni 2021.
AGRO saat ini sudah berkolaborasi dengan PT Telkom Indonesia Tbk, PT iGrow Resources Indonesia, PT Kedai Sayur Indonesia. Kemudian, Yayasan Insan Cita Agro Madani (ICAM) dari Universitas Brawijaya, serta kelompok tani di Malang, Jawa Timur, membangun ekosistem digital pertanian.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Hasrat AGRO yang juga akan menjadi bank digital untuk maju juga terlihat sangat tinggi. Tentunya AGRO juga bisa ikut memanfaatkan data base yang dimiliki oleh induknya (BBRI) agar, lanjut Edhi, tidak terjadi cross interest dalam memaknai pangsa pasar yang sama.
“Masa depan keduanya harusnya sangat baik mengingat penduduk Indonesia masih didominasi oleh usia produktif di atas 75 persen,” lanjutnya.
Langkah BRI memimpin Holding Ultra Mikro ini memang sudah di depan mata. Sebab, baru saja BRI mengumumkan akan melakukan penerbitan saham baru sebanyak 23,25% dari modal ditempatkan atau setara dengan 28,67 miliar lembar.
“Upaya menerbitkan saham baru itu tampaknya untuk memuluskan rencana pemerintah untuk membentuk holding,” terangnya.
Jika sudah terbentuk nanti, PNM dan Pegadaian bertindak sebagai feeder bagi BRI untuk menyalurkan pinjaman kepada penggiat skala usaha sangat kecil yang saat ini belum difasilitasi perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Jika berkaca pada sejarah rights issue perusahaan-perusahaan Indonesia, biasanya harga rights issue tidak lebih rendah dari 20% harga induk yang sekarang diperdagangkan. Maka, jika mengacu pada harga saham BRI saat ini dikisaran Rp4.230 per lembar maka harga rights issue yang ditawarkan akan berkisar di harga Rp3.400 sampai Rp3.800 per lembar.
Dengan asumsi penawaran di harga tertinggi, BRI akan mendapatkan dana segar senilai Rp108 triliun. Jumlah saham BRI setelah rights issue nantinya akan menjadi 150,77 miliar lembar.
Adapun, kepemilikan saham pemerintah di BRI tidak terdilusi dan akan tetap 56,75%. Pasalnya, pemerintah akan subscribe ke saham baru melalui skema penukaran seluruh kepemilikan saham di Pegadaian (99,99%) dan PNM (99,99%). (RCS)
