Tren Ekbis

Hary Tanoe Viral, Intip Kerajaan Bisnisnya di MNC Group

  • Profil Hary Tanoe, pendiri MNC Group yang kini menjadi sorotan. Simak perjalanan bisnis, lini usaha, kinerja korporasi, serta berbagai kontroversinya.
hary-tanoe-2

Konglomerat pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibjo / Mediacom.co.id

(https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2020/10/Hary-Tanoe.jpg?tr=w-995)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Hary Tanoesoedibjo menjadi perbincangan publik setelah muncul dugaan penganiayaan terhadap seorang Branch Manager MNC Bank. 

Tuduhan tersebut disampaikan oleh kuasa hukum Sadiah Amir Sussy, yang mengaku kliennya mengalami kekerasan fisik saat menjalani pemeriksaan internal perusahaan. 

Dugaan itu kemudian viral di media sosial karena muncul klaim bahwa korban ditampar hingga mulutnya disumpal menggunakan sepatu. Namun, hingga kini tuduhan tersebut masih menjadi sengketa. 

Pihak MNC Group membantah seluruh tuduhan itu dan menyebutnya sebagai fitnah yang berkaitan dengan proses hukum dugaan pengambilan dana bank yang sedang dihadapi mantan karyawannya.

Di luar polemik tersebut, Hary Tanoe merupakan salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Melalui MNC Group, ia membangun kerajaan bisnis yang mencakup media, jasa keuangan, perbankan, properti, pariwisata, hingga pertambangan. 

Grup usahanya menaungi sekitar 10 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia usaha nasional.

Baca juga : Profil Mas Ipin, Bupati Trenggalek yang Tolak Tambang Emas

Siapa Hary Tanoe?

Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo atau Hary Tanoe lahir pada 26 September 1965. Ia memulai karier bisnis dengan mendirikan PT Bhakti Investama pada 1989 dengan modal sekitar Rp64 juta. Perusahaan tersebut kemudian berkembang menjadi PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT), induk dari seluruh bisnis MNC Group.

Momentum krisis moneter 1998 dimanfaatkan Hary Tanoe untuk mengakuisisi sejumlah perusahaan yang mengalami tekanan keuangan. Salah satu langkah paling strategis adalah mengakuisisi PT Bimantara Citra yang kemudian bertransformasi menjadi PT Global Mediacom Tbk (BMTR), fondasi utama kerajaan media MNC Group.

Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Kamis, 9 Juli 2026, Hary Tanoe menjalankan berbagai lini sektor bisnis, diantaranya sebagai berikut,

1. Media dan Hiburan

Media merupakan bisnis terbesar sekaligus identitas utama MNC Group. Melalui PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), grup mengoperasikan empat stasiun televisi nasional yaitu RCTI, MNCTV, GTV, dan iNews. 

Selain itu, perusahaan memiliki rumah produksi MNC Pictures, MNC Animation, portal berita iNews.id, Okezone, Sindonews, hingga platform digital Vision+ dan RCTI+.

Ekosistem tersebut membuat MNC Group menjadi salah satu perusahaan media paling terintegrasi di Indonesia karena menguasai produksi konten, distribusi televisi, media digital, hingga layanan streaming.

Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Gula Indonesia?

2. Digital dan Telekomunikasi

Melalui PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), grup mengembangkan bisnis digital yang meliputi platform OTT Vision+, RCTI+, multi-channel network (MCN), digital advertising, content creator management, serta berbagai layanan hiburan berbasis internet.

Transformasi digital menjadi strategi MNC menghadapi pergeseran konsumsi masyarakat dari televisi konvensional menuju platform digital.

3. TV Berbayar

MNC juga memiliki bisnis televisi berlangganan melalui PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) dan PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY). Unit usaha ini menyediakan layanan TV satelit, IPTV, fixed broadband internet, hingga distribusi konten premium.

4. Jasa Keuangan dan Perbankan

Pilar berikutnya adalah PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP). Di bawah BCAP terdapat Bank MNC Internasional (BABP), MNC Life, perusahaan sekuritas, perusahaan pembiayaan, manajemen investasi, hingga layanan digital MotionBank, MotionPay, dan MotionTrade.

Strategi perusahaan adalah membangun ekosistem keuangan yang saling terintegrasi dengan bisnis media sehingga mampu menjangkau jutaan pengguna.

5. Properti dan Hospitality

Melalui PT MNC Land Tbk (KPIG), Hary Tanoe mengembangkan proyek properti premium seperti MNC Lido City, KEK Lido, Park Hyatt Jakarta, hotel, apartemen, lapangan golf, convention center, hingga kawasan wisata terpadu.

KEK Lido menjadi salah satu proyek strategis MNC Group karena dikembangkan sebagai destinasi hiburan, pariwisata, dan bisnis di kawasan penyangga Jakarta.

Baca juga : Rusia Obral Emas, China Serok Bawah: Apa Dampaknya ke Kamu?

6. Energi dan Pertambangan

Diversifikasi bisnis juga dilakukan melalui PT MNC Energy Investments Tbk (IATA). Perusahaan yang sebelumnya bergerak di sektor penerbangan tersebut kemudian beralih ke bisnis pertambangan batu bara sebagai bagian dari strategi memperluas sumber pendapatan grup.

Kinerja Korporasi

Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja emiten MNC Group menunjukkan hasil yang bervariasi. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) menjadi salah satu perusahaan dengan pertumbuhan paling baik karena meningkatnya konsumsi konten digital.

Di sisi lain, bisnis media konvensional menghadapi tekanan akibat perpindahan belanja iklan ke platform digital global seperti YouTube, TikTok, dan Netflix. Kondisi tersebut ikut memengaruhi kinerja PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).

Pada sektor properti, PT MNC Land Tbk (KPIG) masih fokus mengembangkan proyek jangka panjang seperti MNC Lido City dan aset hospitality lainnya. Sementara itu, BCAP terus memperkuat layanan digital melalui MotionBank dan berbagai produk keuangan berbasis teknologi.

Meskipun menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, MNC Group menghadapi sejumlah tantangan.

Pertama, perubahan pola konsumsi media membuat pendapatan iklan televisi tidak lagi tumbuh secepat sebelumnya. Kedua, proyek properti berskala besar membutuhkan investasi tinggi dengan periode pengembalian yang panjang. Ketiga, bisnis jasa keuangan menghadapi persaingan ketat dari bank digital dan perusahaan teknologi finansial.

Karena itu, strategi digitalisasi dan integrasi antarunit usaha menjadi fokus utama MNC Group untuk menjaga pertumbuhan.

Kontroversi Hary Tanoe

Selain isu dugaan penganiayaan yang saat ini masih menjadi polemik, Hary Tanoe juga pernah menghadapi sejumlah perkara hukum.

Kasus terbesar adalah sengketa transaksi Negotiable Certificate of Deposit (NCD) dengan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP). Sengketa tersebut bermula dari transaksi pada 1999 dan berujung pada gugatan perdata bernilai Rp119 triliun. 

Pada April 2026, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan sebagian gugatan dan menghukum Hary Tanoe serta PT MNC Asia Holding membayar ganti rugi sekitar Rp531 miliar di luar bunga berjalan. 

Pihak MNC menyatakan akan mengajukan banding dan menegaskan bahwa perusahaan hanya bertindak sebagai perantara dalam transaksi tersebut.

Sebelumnya, Hary Tanoe juga pernah berstatus tersangka dalam perkara dugaan ancaman melalui pesan singkat kepada seorang penyidik kepolisian.