Industri

Harus Dipercepat, Pengujian Green Avtur Masuk Tahap 2

  • JAKARTA – Pengujian green avtur telah memasuki tahap kedua, yakni statis (test cell). Pengujian dilakukan menggunakan mesin CFM56-3 dengan 2 variasi bahan bakar, Jet A-1 dan Bioavtur J2.4.  Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan dan EBTKE Kementerian ESDM Haryanto menjelaskan, pengujian tersebut membutuhkan Bioavtur sebesar 2,4% atau sebanyak 20 Kiloliter. “Produksi Bioavtur tersebut menggunakan pengolahan […]

<p>Pengujian green avtur tahap kedua, yakni statis (test cell). / Kementerian ESDM</p>

Pengujian green avtur tahap kedua, yakni statis (test cell). / Kementerian ESDM

(Istimewa)

JAKARTA – Pengujian green avtur telah memasuki tahap kedua, yakni statis (test cell). Pengujian dilakukan menggunakan mesin CFM56-3 dengan 2 variasi bahan bakar, Jet A-1 dan Bioavtur J2.4. 

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan dan EBTKE Kementerian ESDM Haryanto menjelaskan, pengujian tersebut membutuhkan Bioavtur sebesar 2,4% atau sebanyak 20 Kiloliter.

“Produksi Bioavtur tersebut menggunakan pengolahan Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) atau minyak sawit di unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) Refinery Unit (RU) IV Cilacap,” jelasnya dalam keterangan resmi yang dikutip TrenAsia.com, Senin, 31 Mei 2021.

Adapun pengujian tahap dua untuk bahan bakar Bioavtur J2.4, akan dilakukan sebanyak tiga cycle.

Setiap cycle, lanjutnya, terdapat beberapa kondisi, seperti ground idleflight idleaccel dan parameter seperti density, vibrasi mesin, oil pressure, dan performance.

Nilai inilah yang akan dibandingkan dengan hasil penggunaan Jet A-1 terhadap nilai limitasi manufaktur mesin. Sebelum dilakukan engine test cell, terlebih dahulu dilakukan uji karakteristik bahan bakar yang akan digunakan.

Sebelumnya, uji statis mesin atau engine test cell tahap pertama telah dilaksanakan pada 22-23 Desember 2020. Saat itu, pengujian menggunakan campuran bahan bakar bioavtur 2% (J2) pada Engine CFM56, sedangkan bahan bakar Jet A1 yang digunakan sebanyak 10.900 liter dan green avtur J2 sebanyak 9.000 liter.

Dijelaskan, pemanfaatan green avtur di Indonesia telah tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015. Namun, Haryanto mengakui hingga saat ini masih belum dijalankan secara optimal. Pasalnya, ada beberapa kendala, seperti feedstock, teknologi produksi, dan keekonomian.

“Tetapi pemanfaatan green avtur harus segera diaplikasikan, terutama untuk penerbangan internasional yang telah mensyaratkan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) dalam dalam rangka penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK),” ujarnya.