Industri

Harga Minyak Ambles Lagi, Terendah dalam 21 Tahun

  • JAKARTA – Minyak dunia kembali memperpanjang penurunan drastisnya, kali ini bahkan jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua dekade. Turunnya harga minyak menyusul kesepakan Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang sepakat memangkas produksi minyaknya sebagai respons dari pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi lebih dari 200 negara di dunia. Mengutip Bloomberg (Senin, 20 […]

<p>Sumber: middleeastmonitor.com</p>

Sumber: middleeastmonitor.com

(Istimewa)

JAKARTA – Minyak dunia kembali memperpanjang penurunan drastisnya, kali ini bahkan jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.

Turunnya harga minyak menyusul kesepakan Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang sepakat memangkas produksi minyaknya sebagai respons dari pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi lebih dari 200 negara di dunia.

Mengutip Bloomberg (Senin, 20 April 2020) harga minyak Futures di New York turun 16% menjadi US$ 15 per barel. Selain itu, harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2020 turun -50% menjadi US$27,94 per barel. Selain itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei 2020 turun 13,19% menjadi US$15,86 per barel.

Sementara itu, WTI untuk pengiriman Mei turun 16% menjadi US$ 15,37 per barel di New York Mercantile Exchange pada 09.16 pagi waktu Singapura setelah sempat anjlok 20% minggu lalu. Harga ini turun ke level US$14,47, terlemah sejak Maret 1999. Sedangkan, Juni turun 6,4% menjadi US$23,42.

Brent untuk pengiriman Juni turun 1,6% menjadi US$ 27,63 per barel di ICE Futures Europe exchange setelah kehilangan 10,8% minggu lalu.

Vandana Hari, pendiri Vanda Insights di Singapura mengemukakan prediksinya, “Harga minyak akan terus turun atau bertahan di level saat ini sampai Amerika Serikat mencabut status lockdown.”

Jatuhnya harga menjadi topik hangat di industri minyak. Pengusaha minyak mentah menutup 13% dari armada pengeboran di Amerika Serikat minggu lalu karena membengkaknya minyak mentah di seluruh dunia yang mendorong pemotongan biaya secara drastis dan pembatalan proyek di antara para pengebor.

Sementara itu, di pusat minyak Asia Singapura, Hin Leong Trading (Pte) Ltd. mengajukan perlindungan pengadilan dari kreditor di tengah krisis ini. Dia bahkan menyebut kerugian akibat pandemi ini sekitar US$ 800 juta.

Pemotongan produksi yang telah disepakati nyatanya tidak mampu menutupi 25 juta hingga 30 juta barel permintaan harian yang saat ini habis disapu pandemi.

“Kita harus melihat puncak untuk COVID-19 secara global untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang seberapa banyak permintaan akan dihancurkan,” kata David Lennox, analis sumber daya di Fat Prophets di Sydney.