Bursa Saham

Harga Batu Bara Merosot, Saham AADI hingga BUMI Justru Panas!

  • Kinerja operasional emiten seperti ITMG dan AADI yang stabil pada kuartal pertama tahun ini turut menguatkan persepsi pasar.
1723553017_13036e488d7a04621a30.jpg
Kawasan tambang batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) (Dok/Ist)

JAKARTA – Meski harga batu bara global turun ke bawah 100 dolar AS per ton, sektor tambang batu bara domestik justru memperlihatkan ketahanan yang solid. Tekanan harga tak serta-merta menjegal langkah saham-saham energi untuk menguat di Bursa Efek Indonesia.

Sentimen dari sisi produksi, kebijakan fiskal, serta potensi dividen yang tinggi menjadi penopang utama minat investor. Hal tersebut menampik  harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak pengiriman April 2024 tercatat turun menjadi 93,9 dolar AS per ton pada Rabu, 23 April 2025.

Sebaliknya, indeks IDX Energy justru naik signifikan sebesar 3,37% ke level 2.477,314 pada penutupan perdagangan Selasa, 22 April 2025. Demikian juga saham sejumlah emiten, misalnya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang melesat 11% ke Rp111, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menguat 7,41% ke Rp7.250, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) naik 3,88% ke Rp1.875.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menyampaikan bahwa sektor batu bara kembali menjadi pilihan investor karena karakteristiknya sebagai aset defensif. “Di tengah perlambatan ekonomi sektor lain, batu bara dipandang sebagai tempat berlindung yang taktis,” ujarnya dalam riset pada Rabu, 23 April 2025.

Kinerja operasional emiten seperti ITMG dan AADI yang stabil pada kuartal pertama tahun ini turut menguatkan persepsi pasar. Kondisi cuaca yang lebih bersahabat juga mendukung kelancaran produksi. Curah hujan yang lebih rendah dari estimasi membuat sejumlah produsen mampu mempertahankan volume produksi, meski permintaan dari Tiongkok melemah.

Di sisi lain, harga batu bara kini diperkirakan mendekati level cost support produsen Australia, yakni di kisaran 85 hingga 90 dolar AS per ton, sehingga ruang penurunan dinilai mulai terbatas. Tidak hanya itu, sentimen positif juga datang dari sisi regulasi. Pemerintah resmi merevisi kebijakan royalti melalui Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2025 yang menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2022.

Aturan yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 11 April 2025 ini akan berlaku efektif mulai 26 April 2025. Beleid ini memberikan insentif fiskal bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) seperti PT Adaro Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, dan PT Arutmin Indonesia.

Keringanan royalti tersebut diperkirakan berdampak positif terhadap margin keuntungan emiten dan membuka peluang pembagian dividen yang lebih besar. Sektor batu bara memang dikenal sebagai penyumbang dividen tinggi, dengan estimasi yield antara 9% hingga 14% pada tahun ini. Koreksi harga saham batu bara sekitar 14% secara year-to-date juga memberikan ruang revaluasi dan potensi penguatan ke depan.

Namun, risiko tetap membayangi. Jika harga batu bara Newcastle tak mampu bertahan di atas 100 dolar AS per ton, analis BRI Danareksa memperkirakan potensi penurunan laba bersih emiten bisa mencapai 9% hingga 29%. Bahkan, koreksi harga saham sektor ini bisa mencapai 24% apabila tekanan harga berlanjut hingga akhir tahun.

Di tengah proyeksi tersebut, beberapa saham tetap menjadi andalan investor. Rekomendasi BRI Danareksa mencakup PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan target harga Rp31.000, AADI Rp9.850, ADRO Rp2.630, ITMG Rp27.300, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp3.100 per saham. Saham-saham ini dinilai memiliki fundamental kuat, efisiensi operasional, serta potensi dividen yang kompetitif di pasar.

Tags: ADROBumi