Hagia Sophia, Dua Kali Dibakar Sebelum Jadi Keajaiban Arsitektur

  • JAKARTA-Ribuan orang berkumpul di Istanbul, Turki ketika situs bersejarah Hagia Sophia dibuka untuk Salat Jumat pertama kalinya sejak pemerintah Turki memutuskan bangunan itu digunakan kembali menjadi masjid. Situs Warisan Dunia Unesco yang berusia 1.500 tahun menjadi museum pada tahun 1934. Presiden Recep Tayyip Erdogan ikut hadir dalam salat Jumat 24 Juli 2020 tersebut. Sekitar 1.000 […]

<p>Bagian dalam Hagia Sophia/CNN</p>

Bagian dalam Hagia Sophia/CNN

(Istimewa)

JAKARTA-Ribuan orang berkumpul di Istanbul, Turki ketika situs bersejarah Hagia Sophia dibuka untuk Salat Jumat pertama kalinya sejak pemerintah Turki memutuskan bangunan itu digunakan kembali menjadi masjid. Situs Warisan Dunia Unesco yang berusia 1.500 tahun menjadi museum pada tahun 1934.

Presiden Recep Tayyip Erdogan ikut hadir dalam salat Jumat 24 Juli 2020 tersebut. Sekitar 1.000 orang diizinkan masuk melalui pos pemeriksaan keamanan, sementara yang lain menggelar sajadah di luar. Apa yang terjadi ini menjadi tanda bergeraknya lagi sejarah Hagia Sophia, sebuah bangunan yang tidak saja indah tetapi penuh dengan sejarah panjang.

Hagia Sophia adalah keajaiban arsitektur yang menakjubkan di Istanbul, Turki. Bangunan ini awalnya dibangun sebagai basilika Kristen hampir 1.500 tahun yang lalu. Sama seperti Menara Eiffel di Paris atau Parthenon di Athena, Hagia Sophia adalah simbol kota kosmopolitan yang bertahan lama.

Namun, sama pentingnya dengan struktur itu sendiri, bangunan ini juga memiliki peran dalam sejarah Istanbul dan mungkin dunia. Struktur ini penting dan menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan politik, agama, seni, dan arsitektur internasional.

Hagia Sophia terletak di Kota Tua Istanbul dan telah digunakan selama berabad-abad sebagai tempat ibadah bagi umat Kristen Ortodoks dan Muslim sebelum kemudian menjadi bangunan yang tidak ada kaitannya dengan agama.

Istanbul mengangkangi selat Bosporus, jalur air yang berfungsi sebagai perbatasan geografis antara Eropa dan Asia. Kota Turki dengan hampir 15 juta penduduk dengan demikian kota ini terletak di dua benua yakni Eropa dan Asia.

Apa itu Hagia Sophia?

Hagia Sophia atau Ayasofya dalam bahasa Turki pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali sejak berabad-abad.

Dikutip dari History,com, Kaisar Bizantium Constantius pertama kali menugaskan pembangunan Hagia Sophia pada tahun 360 M. Pada saat pembangunan, Istanbul dikenal sebagai Konstantinopel. Nama ini diambil dari ayah Konstantius, Constantine I, penguasa pertama Kekaisaran Bizantium.

Hagia Sophia pertama menggunakan kayu. Struktur itu dibakar habis pada tahun 404 SM selama kerusuhan yang terjadi di Konstantinopel sebagai akibat dari konflik politik dalam keluarga Kaisar Arkadios. Ini adalah masa pemerintahan yang kacau dari 395 hingga 408 SM.

Pengganti Arkadios, Kaisar Theodosios II, membangun kembali Hagia Sophia, dan bangunan baru selesai pada tahun 415. Hagia Sophia kedua berisi lima naves dan pintu masuk yang monumental dan juga ditutupi oleh atap kayu.

Namun, satu abad lebih sedikit kemudian, bangunan itu dibakar untuk kedua kalinya selama apa yang disebut “pemberontakan Nika” terhadap Kaisar Justinian I yang memerintah dari 527 hingga 565 M.

Tidak dapat memperbaiki kerusakan akibat kebakaran, Justinianus memerintahkan pembongkaran Hagia Sophia pada tahun 532. Dia kemudian menugaskan arsitek terkenal Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles) untuk membangun basilika baru. Hagia Sophia ketiga selesai pada 537, dan masih berdiri sampai hari ini.

Hagia Sophia dari luar/CNN

Desain Hagia Sophia

Hagia Sophia yang ketiga dan terakhir memang merupakan struktur yang luar biasa.  Bangunan menggabungkan elemen desain tradisional basilika Orthodox dengan atap kubah besar, dan altar semi-kubah dengan dua narthex (atau beranda). Lengkungan pendukung kubah ditutupi dengan mosaik enam malaikat bersayap yang disebut hexapterygon.

Dalam upaya untuk menciptakan basilika agung yang mewakili semua Kekaisaran Bizantium, Kaisar Justinian memerintahkan semua provinsi di bawah pemerintahannya mengirim karya arsitektur untuk digunakan dalam pembangunannya.

Marmer yang digunakan untuk lantai dan langit-langit diproduksi di Anatolia (sekarang Turki timur) dan Suriah, sementara batu lainnya yang digunakan di dinding dan lantai berasal dari jauh seperti Afrika Utara. Interior Hagia Sophia dilapisi dengan lempengan marmer besar yang dirancang untuk meniru air yang bergerak. Sementara 104 kolom Hagia Sophia diimpor dari Kuil Artemis di Ephesus, serta dari Mesir.

Bangunan ini memiliki panjang sekitar 269 kaki dan lebar 240 kaki dan, pada titik tertinggi sekitar 180 kaki. Ketika kubah pertama mengalami keruntuhan sebagian pada 557, penggantiannya dirancang oleh Isidore the Younger (keponakan Isidoros, salah satu arsitek asli) dengan tulang rusuk struktural dan busur yang lebih menonjol. Versi struktur ini tetap ada sampai sekarang.

Kubah pusat ini bersandar pada lingkaran jendela dan didukung oleh dua semi-kubah dan dua bukaan melengkung untuk membuat nave besar, dinding yang awalnya dilapisi dengan mosaik rumit Bizantium yang terbuat dari emas, perak, kaca, terra cotta dan berwarna-warni.

Dari Gereja Menjadi Masjid

Karena Ortodoks Yunani adalah agama resmi Bizantium, Hagia Sophia dianggap sebagai pusat gereja dari iman, dan dengan demikian menjadi tempat di mana kaisar baru dimahkotai.

Upacara-upacara ini berlangsung di ruang di mana ada Omphalion (pusar bumi),  yakni marmer bundar besar dari batu berwarna-warni dalam desain melingkar  di lantai.

Hagia Sophia berperan penting dalam budaya dan politik Bizantium selama 900 tahun keberadaannya.  Namun, selama Perang Salib, kota Konstantinopel dan Hagia Sophia, berada di bawah kendali Romawi untuk periode singkat di abad ke-13. Hagia Sophia rusak parah selama periode ini, tetapi diperbaiki ketika Bizantium kembali menguasai kota ini.

Periode perubahan signifikan berikutnya untuk Hagia Sophia dimulai kurang dari 200 tahun kemudian, ketika Ottoman yang  dipimpin oleh Sultan Muhammad Fatih merebut Konstantinopel pada tahun 1453. Ottoman mengganti nama kota Istanbul.

Karena Islam adalah agama utama Ottoman, Hagia Sophia direnovasi menjadi masjid. Sebagai bagian dari konversi, Ottoman menutupi banyak mosaik bertema Ortodoks asli dengan kaligrafi Islam yang dirancang oleh Kazasker Mustafa İzzet.

Panel atau medali yang digantung di kolom di bagian tengah, menampilkan nama-nama Allah, Nabi Muhammad, empat khalifah pertama, dan dua cucu lelaki Nabi. Mosaik di kubah utama juga ditutupi oleh kaligrafi emas.

Mihrab atau nave dipasang di dinding, seperti tradisi di masjid-masjid, untuk menunjukkan arah menuju Mekah. Kaisar Ottoman Sultan Sulaiman (1520 hingga 1566) memasang dua lampu perunggu di setiap sisi mihrab, dan Sultan Murad III (1574 hingga 1595) menambahkan dua kubus marmer dari kota Bergama di Turki, yang berasal dari tahun 4 SM.

Empat menara juga ditambahkan ke bangunan asli selama periode ini, sebagian untuk keperluan keagamaan (untuk muazin) dan sebagian untuk membentengi struktur setelah gempa bumi yang melanda kota sekitar waktu itu.

Di bawah pemerintahan Sultan Abdülmecid, antara tahun 1847 dan 1849, Hagia Sophia menjalani renovasi besar-besaran yang dipimpin oleh arsitek Swiss Fossati bersaudara. Pada saat ini, Hünkâr Mahfili (kompartemen terpisah untuk digunakan oleh para kaisar)  dihapus dan diganti dengan yang lain di dekat mihrab.

Peran Hagia Sophia dalam politik dan agama tetap menjadi perdebatan bahkan sampai  sekitar 100 tahun setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman.

Sejak 1935, sembilan tahun setelah Republik Turki didirikan oleh Ataturk, bangunan legendaris tersebut dioperasikan sebagai museum  dan dilaporkan menarik lebih dari tiga juta pengunjung setiap tahunnya.

Sejak 2013, beberapa pemimpin agama Islam di negara itu berusaha agar Hagia Sophia dibuka kembali sebagai masjid. Dan, debat ini bukan hanya masalah agama. Selama sebagian besar abad ke-21, masyarakat Turki telah menyaksikan peningkatan semangat nasionalistik dengan melihat era Ottoman sebagai bagian mendasar dari sejarah negara itu. Sehingga mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid akan menjadi simbol sejarah ini.